Selat Hormuz Siap Dibuka Jika AS Mau Bayar Kompensasi ke Iran, Berapa Nominalnya?

Senin, 10 Agustus 2026 | 08:28 WIB
Kapal-kapal di Selat Hormuz dekat pantai Bandar Abbas, Iran, pada 21 Juni. [West Asia News Agency/via Reuters]
  • Iran dan Oman hampir menyepakati jalur pelayaran baru di Selat Hormuz setelah pemblokiran akibat serangan militer.
  • Teheran menolak membuka Selat Hormuz kecuali Amerika Serikat membayar kompensasi, mencabut sanksi, dan menghentikan ancaman militer.
  • Komunikasi Iran dan Amerika Serikat saat ini hanya melalui perantara tanpa adanya perundingan diplomatik langsung.

Melengkapi tuntutan tersebut, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, turut merinci deretan syarat esensial lainnya.

Dilansir dari Reuters, syarat tersebut meliputi penghentian ancaman lebih lanjut dari AS terhadap Iran, serta penghentian agresi militer terhadap negara tersebut beserta sekutu-sekutunya yang berada di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.

Washington juga dituntut untuk segera menghapus blokade angkatan laut di kawasan Teluk, mencabut seluruh sanksi ekonomi yang mencekik ruang gerak Iran, dan mencairkan aset-aset finansial Iran yang selama ini dibekukan secara internasional.

Ketegangan di kawasan ini bermula ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran lebih dari lima bulan yang lalu. Terkait serangan tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer itu bertujuan untuk mencegah Republik Islam Iran mengembangkan senjata nuklir serta melemahkan kapasitas mereka dalam mengancam stabilitas kawasan.

Menanggapi situasi geopolitik saat ini, Presiden Donald Trump dalam sebuah wawancara dengan Axios menyebutkan bahwa pihak AS mengambil pendekatan yang tidak terlalu reaktif.

"Kami hanya setengah bernegosiasi dengan mereka. Kami hanya mengamati Iran dengan inflasi mereka yang sangat besar dan fakta bahwa mereka tidak punya uang,"

Sebelumnya, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata pada bulan Juni. Namun, ketegangan kembali memuncak setelah Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap aktivitas pelayaran Iran di Teluk pada bulan Juli. Langkah tersebut dinilai oleh Teheran sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang pada saat itu memang sudah mulai runtuh.

Di sisi lain, pihak Amerika Serikat mengisyaratkan bahwa pelonggaran dari pihak mereka akan diikat secara ketat dengan sejauh mana Iran mengimplementasikan komitmennya di lapangan.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com