- Ekonom INDEF M Rizal Taufikurahman menyatakan daya beli masyarakat menengah ke bawah menjadi kunci ekonomi Semester II 2026.
- Bank Indonesia melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen turun menjadi 116,8 pada Juli 2026 akibat kekhawatiran lapangan kerja.
- Proporsi pendapatan konsumen untuk membayar cicilan atau utang meningkat dari 10 persen menjadi 10,5 persen pada Juli 2026.
Bahkan, persepsi mengenai lapangan kerja masih berada di zona pesimis pada responden berpendidikan SMA. Kondisi ini kontras dengan kelompok berpendidikan akademi/diploma, sarjana, dan pascasarjana yang masih mencatat indeks optimistis.
Berdasarkan usia, kelompok berusia di atas 41 tahun juga masih berada di zona pesimis dalam melihat ketersediaan lapangan kerja.
Artinya, optimisme konsumen belum sepenuhnya mencerminkan kondisi yang merata. Kelompok masyarakat tertentu masih menghadapi kekhawatiran terhadap keamanan pekerjaan dan peluang memperoleh penghasilan.
Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) memang masih tinggi di level 118,5. Namun, angka tersebut turun dari 119,8 pada Juni.
Pelemahan juga terlihat pada indeks pembelian barang tahan lama yang turun dari 105,9 menjadi 104,1. Ini menjadi sinyal bahwa sebagian konsumen mulai menahan pembelian barang bernilai besar.
Kondisi tersebut cukup penting bagi perekonomian karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi. Jika konsumen mulai menunda pembelian barang tahan lama, momentum konsumsi dapat ikut tertekan.
Secara spasial, pelemahan persepsi kondisi ekonomi paling terasa di Pontianak, Bandung, dan Pangkal Pinang. Sementara peningkatan terjadi antara lain di Banten, Manado, dan Banjarmasin.
Sinyal yang lebih mengkhawatirkan terlihat dari kondisi keuangan rumah tangga. BI mencatat proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang meningkat menjadi 10,5 persen pada Juli 2026, dari 10,0 persen pada bulan sebelumnya.