- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.844 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia.
- Kondisi tersebut menjadikan rupiah sebagai mata uang paling lemah di kawasan Asia pada hari itu.
Suara.com - Kondisi mata uang Garuda mengalami tekanan, terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar keuangan. Hal ini membuat rupiah menjadi mata uang terlemah di Asia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Selasa 18 Agustus 2026 dibuka ke level Rp17.844 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini melemah 46 poin atau naik 0,26 persen pada hari sebelumnya yang ada di Rp17.798 per dolar AS.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan ini disebabkan oleh sentimen global. Salah satunya eskalasi geopolitik di Timur Tengah (Timteng) masih memanas.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di timteng dan kenaikan harga minyak mentah dunia," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menambahkan, tekanan pada rupiah juga diperkirakan akan berlangsung lama. Sebab, berakhirnya gencatan senjata membuat mata uang Garuda akan terus melemah.
"Setelah berakhirnya gencatan senjata AS - Iran. Rp17.750-17.850," ujarnya.
Sementara itu, mata uang Asia bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat. Rinciannya, peso Filipina melemah 0,20 persen. Diikuti oleh dolar Singapura yang melemah 0,01 persen dan yen Jepang 0,03 persen.
Sedangkan, won Korea Selatan menjadi mata uang paling kuat dengan naik 0,41 persen. Disusul oleh ringgit Malaysia yang menvuat 0,20 persen dan dolar Singapura menanjak 0,16 persen.