- El Nino membuat debit sungai menyusut dan menekan operasional PLTA.
- PLTB Sidrap dan Jeneponto bisa beroperasi penuh selama El Nino.
- ESDM mendorong PLTA dikombinasikan dengan PLTB dan PLTS.
Suara.com - Fenomena El Nino yang memicu cuaca panas berkepanjangan mulai membawa tekanan terhadap pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Menyusutnya debit sungai akibat kekeringan membuat operasional pembangkit berbasis air berpotensi terganggu.
Di tengah kondisi tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melihat pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) justru mendapatkan keuntungan dari pergerakan angin yang lebih kencang.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengatakan berdasarkan data yang dikumpulkannya, angin saat fenomena El Nino dapat bertiup sepanjang 24 jam.
"Karena pada saat El Nino, justru angin itu 24 jam bertiup," kata Eniya kepada wartawan di Jakarta, dikutip Kamis (17/9/2026).
Kondisi tersebut membuat dua PLTB di Sulawesi Selatan, yakni PLTB Sidrap dan PLTB Jeneponto, mampu beroperasi secara maksimal.
"Alhamdulillah kita sudah punya dua pembangkit di Sulawesi Selatan, yaitu di Sidrap sama Jeneponto. Dua-duanya saya visit kemarin, semua 24 jam full capacity," ujarnya.
Namun, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan tantangan pembangkit listrik berbasis air ketika Indonesia menghadapi periode panas dan kering berkepanjangan. Saat debit sungai menyusut, kemampuan PLTA untuk memasok listrik ikut terdampak.
ESDM pun melihat perlunya kombinasi antar-energi terbarukan untuk menjaga pasokan listrik. PLTA dinilai perlu dikombinasikan dengan PLTB maupun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
"Nah, itu berarti kesimpulan sementara kita adalah pada saat panas, sungai itu surut, air itu surut, PLTA ini harus dikombinasi dengan angin. Jadi angin malah 24 jam," jelas Eniya.
Meski demikian, Eniya mengatakan karakteristik angin di Indonesia berbeda dengan China, Jepang maupun sejumlah negara Eropa. Pergerakan angin yang optimal di Indonesia hanya terjadi sekitar 4-4,5 bulan, yakni mulai Juni hingga September dan berlanjut hingga pertengahan Oktober.
Dalam periode tersebut, angin dinilai cukup dapat diandalkan sepanjang hari. Cuaca panas berkepanjangan bahkan membuat pergerakan angin semakin kencang.
Menurut Eniya, pola tersebut juga dapat dimanfaatkan bersama PLTS yang produksinya meningkat ketika paparan sinar matahari lebih tinggi.
"Nah, ini sama persis seperti PLTS juga makin banyak ya bisa dikonsumsi. Nah, mungkin PLTA ini harus dikombinasi dengan renewable energy, PLTB maupun PLTS," pungkasnya.