- Presiden Prabowo Subianto meresmikan LRT rute Kelapa Gading hingga Manggarai di Jakarta pada Rabu, 16 September 2026.
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menetapkan tarif supermurah delapan rupiah serta delapan hari gratis bagi warga.
- Presiden Prabowo memuji kinerja Gubernur Pramono Anung sehingga menunjukkan gestur komunikasi politik nasional yang sangat cair.
Suara.com - Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengoperasian moda transportasi Lintas Raya Terpadu (LRT) rute Kelapa Gading hingga Manggarai di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Momen peresmian infrastruktur ini menjadi sangat istimewa karena memadukan simbolisme angka delapan dengan kehangatan komunikasi politik antara Presiden dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Pramono sempat membeberkan makna filosofis di balik penentuan tarif supermurah tersebut sejak Selasa (8/9/2026).
“Kenapa Rp8? Ini perpanjangan semangat 17 Agustus kemarin, yang akhirnya kami putuskan Rp8,“ terangnya.
Kebijakan serba angka delapan itu nyatanya tidak hanya disematkan pada besaran biaya perjalanan, melainkan juga pada rentang waktu perkenalan rute anyar tersebut.
“Selama 8 hari kami akan membebaskan bagi seluruh warga Jakarta yang akan menggunakan mulai sekarang setelah diresmikan Bapak Presiden, dan nanti akan beroperasi sepenuhnya,“ jelas Pramono di hari peresmian, Rabu (16/9/2026).
Di sela-sela agenda peluncuran, sang politisi senior bahkan sempat mendapat pujian langsung dari kepala negara atas kinerjanya dalam memimpin Jakarta.
“Saya harus akui kalau ada gubernur yang hebat, ya saya akui dia hebat. Walaupun bukan dari partai saya,“ ucap Prabowo dalam pidatonya.
Pemandangan akrab antartokoh yang berasal dari poros politik berbeda ini langsung menuai sorotan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, Kamis (17/9/2026).
“Prabowo itu selalu menunjukan gestur persahabatan politik yang hangat dengan siapapun. Bahkan Prabowo sering mengapresiasi kinerja politik lawan yang bukan koalisinya seperti Pramono Anung yang kerap dipuji Prabowo,“ tuturnya kepada Suara.com saat dimintai tanggapan.
Gestur merangkul yang diperlihatkan Presiden dinilai menjadi bukti cairnya komunikasi kekuasaan di tingkat nasional.
“Secara psikologi politik, Prabowo tak berjarak dengan siapapun,“ kata Adi.
Sang pengamat politik turut menanggapi desas-desus mengenai peluang terbentuknya persekutuan jangka panjang antara kubu Gerindra dan PDI Perjuangan.
“Itu terlampau jauh. Yang jelas Prabowo hangat dengan semua kalangan. Jikapun di 2029 Gerindra dan PDIP berkoalisi itu takdir Tuhan,“ tandas Adi.
Perpaduan simbolik angka delapan dan kelakar santai di lintasan sepanjang 12,2 kilometer ini akhirnya menjadi etalase kedewasaan berpolitik demi memajukan pelayanan publik warga ibu kota.