Bursa Saham Asia Lesu Dihantam Sentimen Suku Bunga dan Peretasan Binance

Senin, 02 November 2026 | 09:22 WIB
Ilustrasi Saham. [Dokumentasi IPOT].
BACA 10 DETIK
  • Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Senin akibat keraguan investor terhadap keberlanjutan investasi sektor kecerdasan buatan.
  • Indeks Nikkei Jepang merosot 0,5 persen dan Kospi Korea Selatan turun 0,8 persen pada awal pekan tersebut.
  • Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 1,5 persen menjadi USD 111,72 per barel setelah negosiasi damai Iran-Qatar.

Kemunduran di pasar ekuitas ini setidaknya memberikan kelonggaran sementara bagi obligasi safe haven, seiring meluasnya spekulasi investor apakah aksi jual saham yang berkelanjutan akan memaksa Federal Reserve (The Fed) untuk menahan kenaikan suku bunga pada bulan Desember.

Pasar kontrak berjangka saat ini masih mengimplikasikan peluang sebesar 72 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin. Namun, kalkulasi pasar kini hanya memperhitungkan total pengetatan sebesar 55 basis poin, turun cukup jauh dibandingkan proyeksi pengetatan lebih dari 70 basis poin pada bulan sebelumnya.

Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun terpantau merangkak naik ke level 4,952 persen, meskipun masih berada jauh di bawah puncak Oktober pada posisi 5,3645 persen. Sementara itu, imbal hasil tenor 2 tahun berada di angka 4,612 persen.

Reuters melaporkan, pasar bertaruh pada adanya pengetatan suku bunga dari Reserve Bank of Australia, Bank of England, dan Riksbank. Di sisi lain, Norges Bank diperkirakan akan mengambil langkah konservatif dengan menahan suku bunganya

Rilis data ekonomi makro yang ditunggu pasar pekan ini mencakup survei manufaktur ISM AS untuk bulan Oktober, serta laporan data ketenagakerjaan (payrolls) yang sangat krusial pada hari Jumat. Konsensus mayoritas memproyeksikan penambahan 65.000 lapangan kerja baru—sebuah pemulihan dari penambahan 29.000 pekerjaan yang mengecewakan di bulan September—dengan tingkat pengangguran diproyeksi bertahan stabil di angka 4,2 persen.

Di pasar valuta asing, pergerakan mata uang utama dunia terpantau lebih tertahan karena fokus aliran modal investor masih terkonsentrasi pada volatilitas ekuitas. Nilai tukar euro tercatat mendatar di kisaran USD 1,1156, sementara dolar AS nyaris tidak mengalami perubahan berarti pada level 157,62 yen.

Bergeser ke sektor komoditas energi, harga minyak mentah tergelincir setelah sejumlah pejabat dari Iran dan Qatar menggelar pembicaraan selama tiga hari berturut-turut. Rangkaian negosiasi strategis tersebut bertujuan mendorong tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri perang AS-Israel di wilayah Iran.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 1,5 persen menjadi USD 111,72 per barel, kendati penurunan ini mengikuti lonjakan masif sebesar 13,6 persen yang terjadi sepanjang bulan Oktober. Kontrak berjangka minyak mentah AS (WTI) juga mengalami pelemahan 1,7 persen ke level USD 102,37 per barel.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com