- Kementerian Perdagangan melaporkan ekspor sektor pertanian Indonesia anjlok 18,42 persen sepanjang Januari hingga September 2026.
- Industri pengolahan nasional justru tumbuh 8,93 persen dan menyumbang nilai ekspor sebesar USD 182,83 miliar pada periode tersebut.
- Total akumulasi ekspor nasional mencapai USD 221,23 miliar dengan Tiongkok sebagai negara tujuan utama perdagangan.
Suara.com - Kinerja ekspor sektor pertanian Indonesia mencatatkan rekor penurunan yang cukup memprihatinkan sepanjang tiga kuartal pertama tahun ini. Berdasarkan rilis data resmi Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada Rabu (4/11/2026), sektor penyumbang hajat hidup orang banyak ini terperosok hingga mengalami kontraksi sebesar 18,42 persen.
Penurunan tajam ini terjadi di tengah gencar-gencarnya manuver pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan dan swasembada pangan, sekaligus memacu daya saing komoditas agrikultur lokal di kancah perdagangan internasional.
Secara akumulatif (cumulative to cumulative/CtC), rapor merah sektor pertanian sepanjang periode Januari hingga September 2026 ini merupakan yang terdalam jika disandingkan dengan kinerja sektor-sektor penyumbang devisa lainnya.
Sebagai perbandingan, sektor pertambangan dan sektor lainnya tercatat hanya mengalami pelemahan sebesar 5,46 persen. Sementara itu, kinerja ekspor dari sektor minyak dan gas bumi (migas) juga ikut mencatatkan rapor negatif dengan angka kontraksi sebesar 9,11 persen pada rentang waktu yang sama.
Berbanding terbalik dengan kelesuan di sektor hulu seperti pertanian dan pertambangan, sektor industri pengolahan justru tampil sebagai tulang punggung utama penyelamat neraca perdagangan nasional. Sektor manufaktur dan pengolahan ini sukses mencetak pertumbuhan yang sangat impresif, yakni sebesar 8,93 persen.
Tidak tanggung-tanggung, sumbangsih nilai ekspor dari industri pengolahan ini menyentuh angka USD 182,83 miliar. Capaian fantastis tersebut mendominasi struktur ekspor dengan kontribusi mencapai 82,64 persen terhadap total keseluruhan nilai perdagangan luar negeri Indonesia.
Merespons dinamika pergeseran ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa secara agregat, fundamental ekspor Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang solid. Kinerja perdagangan internasional diklaim tetap berada dalam lintasan pertumbuhan yang positif dan produktif sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026.
“Kinerja ekspor nasional pada September 2026 yang tumbuh 3,68 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi USD 27,59 miliar mencerminkan resiliensi Indonesia di tengah dinamika global.
Penguatan ini ditopang secara konsisten oleh sektor industri pengolahan yang sejalan dengan program hilirisasi untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah,” ujar Mendag Busan.
Bila ditarik secara keseluruhan, total nilai akumulasi ekspor nasional sepanjang Januari hingga September 2026 telah berhasil menembus angka USD 221,23 miliar. Pencapaian makroekonomi ini merepresentasikan tingkat pertumbuhan sebesar 5,58 persen apabila dikomparasikan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Pertumbuhan agregat yang solid ini tidak terlepas dari performa apik ekspor di kelompok nonmigas, yang sanggup merangkak naik sebesar 6,30 persen hingga membukukan nilai USD 212,27 miliar. Sayangnya, torehan positif ini sedikit tereduksi oleh performa ekspor kelompok migas yang terjerembap 9,11 persen, menyisakan nilai transaksi hanya sebesar USD 8,96 miliar.
Dari kacamata komoditas andalan, lonjakan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif ini sangat dipengaruhi oleh meroketnya permintaan produk-produk hasil industri pengolahan mineral. Program hilirisasi terbukti membuahkan hasil nyata dalam mendongkrak harga jual di pasar global.
Hal ini tecermin dari ekspor produk aluminium beserta barang turunannya yang melonjak ekstrem hingga 104,88 persen. Tren lonjakan serupa juga diikuti oleh komoditas tembaga dan barang daripadanya yang meroket tajam sebesar 57,49 persen, serta produk olahan nikel yang tumbuh subur di angka 47,87 persen.
Sementara itu, jika membedah peta kekuatan negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia, Tiongkok kembali mengukuhkan posisinya sebagai mitra dagang dan pasar paling dominan dengan total nilai serapan mencapai USD 54,17 miliar.
Angka tersebut menguasai lebih dari seperempat total ekspor nonmigas nasional, tepatnya dengan pangsa pasar 25,52 persen. Posisi kedua pasar ekspor terbesar Indonesia ditempati oleh Amerika Serikat yang menyumbang devisa sebesar USD 25,39 miliar, disusul oleh pasar potensial India di peringkat ketiga dengan nilai transaksi perdagangan menyentuh angka USD 15 miliar.