Bukan Cuma Gaji, Mental Karyawan Jadi Penentu Produktivitas Kerja

Rabu, 04 November 2026 | 19:10 WIB
Para pekerja beraktivitas saat jam pulang kerja di kawasan Sudirman. [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • Studi global Zurich mengungkapkan bahwa tingkat ketahanan diri pekerja memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap kinerja dibandingkan faktor pendapatan.
  • Edhi Tjahja Negara menyampaikan Zurich Indonesia memperkenalkan Corporate Wellbeing Awards, untuk mengapresiasi kesejahteraan karyawan.
  • Inisiatif penghargaan tersebut bertujuan mendorong terciptanya lingkungan kerja yang inklusif serta berkelanjutan melalui dukungan terhadap kesehatan fisik dan mental pekerja.

Suara.com - Faktor yang memengaruhi produktivitas karyawan ternyata tidak hanya berkaitan dengan besaran gaji atau pendapatan. Ketahanan diri atau resilience juga memiliki pengaruh besar terhadap performa pekerja, bahkan keterkaitannya dengan kinerja tercatat lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan.

Hal tersebut terungkap dalam studi global Zurich bertajuk The Resilient Workforce. Studi tersebut menemukan bahwa 88 persen pekerja dengan tingkat resilience tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik.

Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok pekerja dengan tingkat resilience terendah, yang hanya mencapai 44 persen.

Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan pekerja untuk menghadapi tekanan, beradaptasi, dan pulih dari berbagai tantangan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan dunia kerja.

Ilustrasi Pekerja. (Unsplash/@gieling)

Studi yang dikembangkan Zurich bersama para akademisi tersebut menemukan bahwa resilience dipengaruhi sejumlah faktor yang saling berkaitan. Mulai dari kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial, keamanan finansial, hingga kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital.

Country Manager Zurich Indonesia dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan perusahaan kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain risiko bisnis, perusahaan juga perlu menjaga kesehatan, keterlibatan, dan produktivitas tenaga kerja.

"Saat ini, perusahaan tidak hanya menghadapi risiko bisnis yang semakin kompleks, tetapi juga tantangan untuk menjaga kesehatan, keterlibatan, dan produktivitas tenaga kerja. Karena itu, membangun workforce resilience bukan lagi sekadar inisiatif sumber daya manusia, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang," ujar Edhi seperti dikutip, Rabu (4/11/2026).

Selain faktor kesejahteraan sehari-hari, kondisi kesehatan jangka panjang juga menjadi perhatian dalam membangun tenaga kerja yang tangguh.

Seiring meningkatnya angka harapan hidup, semakin banyak individu yang hidup lebih lama dengan kondisi kesehatan kronis, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan berbagai penyakit tidak menular lainnya. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta biaya kesehatan yang ditanggung individu maupun perusahaan.

Di samping kesehatan fisik, kesehatan mental juga menjadi aspek penting. Tekanan psikologis yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada kondisi fisik, kesejahteraan, hingga produktivitas seseorang.

Melihat pentingnya kesejahteraan pekerja terhadap produktivitas, Zurich Indonesia memperkenalkan Corporate Wellbeing Awards 2026. Inisiatif ini bertujuan mengapresiasi perusahaan yang menerapkan praktik untuk mendukung kesehatan fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan.

Program tersebut juga diharapkan mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih inklusif, sehat, dan berkelanjutan.

Zurich menilai pembangunan workforce resilience membutuhkan kolaborasi antara pemberi kerja, penyedia layanan kesehatan, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Dengan demikian, kesejahteraan karyawan tidak hanya dipandang sebagai program tambahan, tetapi juga investasi strategis yang berkontribusi terhadap ketahanan tenaga kerja dan daya saing bisnis.

"Ke depan, perusahaan yang mampu berkembang adalah perusahaan yang mampu memberdayakan manusia di balik bisnisnya. Ketika karyawan merasa sehat, terlindungi, dan siap menghadapi perubahan, mereka tidak hanya menjadi lebih produktif, tetapi juga lebih resilien. Itulah fondasi bagi pertumbuhan yang berkelanjutan," pungkas Edhi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com