- Badan Pusat Statistik mencatat seluruh komponen pengeluaran PDB Indonesia tumbuh positif pada triwulan III 2026.
- Konsumsi rumah tangga mendominasi perekonomian nasional dengan kontribusi terbesar sebesar 51,97 persen secara tahunan.
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 mencapai 5,47 persen secara tahunan.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat seluruh komponen pengeluaran pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mengalami pertumbuhan positif pada triwulan III 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy).
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edhy Mahmud mengungkapkan, konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung utama perekonomian nasional dari sisi pengeluaran, dengan porsi kontribusi mendominasi sebesar 51,97 persen dengan pertumbuhan 5,04 persen secara tahunan (year on year).
"Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya pada triwulan III tahun 2026, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu 2,62 persen," papar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edhy Mahmud, Kamis (5/11/2026).
Laju konsumsi rumah tangga ini utamanya didorong oleh kelompok restoran dan hotel yang tumbuh 6,59 persen seiring meningkatnya konsumsi makanan jadi di luar rumah.
Selain itu, pengeluaran transportasi dan komunikasi juga melesat 5,83 persen berkat tingginya mobilitas masyarakat serta masifnya berbagai event pertunjukan dan olahraga.
Di posisi kedua penyumbang PDB terbesar, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi memberikan kontribusi sebesar 30,81 persen dengan pertumbuhan 6,06 persen.
Pertumbuhan komponen PMTB secara khusus didorong oleh melesatnya subkomponen kendaraan hingga 12,96 persen, sejalan dengan realisasi investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang tumbuh 7,59 persen.
Sementara itu, komponen konsumsi pemerintah mencatatkan angka pertumbuhan paling impresif dengan melesat hingga 8,95 persen secara tahunan, dengan kontribusi PDB 7,28 persen.
Lonjakan pengeluaran pemerintah ini dipicu oleh peningkatan realisasi belanja pegawai, khususnya untuk pembayaran gaji dan tunjangan Aparatur Sipil Negara (ASN).
Selain pegawai, angka konsumsi pemerintah juga membengkak akibat tingginya belanja barang dan jasa yang diserahkan langsung kepada masyarakat, salah satunya untuk mendanai program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Komponen pengeluaran lainnya meliputi Ekspor dengan kontribusi PDB 25,05 persen dan pertumbuhan 4,59 persen, konsumsi Lembaga NonProfit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) dengan kontribusi PDB 1,25 persen dan pertumbuhan 5,02 persen, serta Ekspor dengan kontribusi PDB -23,44 persen dan pertumbuhan 7,31 persen.
Sekadar informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama triwulan III 2026 mencapai 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian ini melesat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana ekonomi pada triwulan III 2025 tercatat tumbuh sebesar 5,04 persen.