Investasi Mamin Rp47,74 Triliun, Pemerintah Bidik Hilirisasi Sorgum hingga Limbah Ikan

Jum'at, 06 November 2026 | 10:21 WIB
Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji. [ANTARA/Rolandus Nampu]
BACA 10 DETIK
  • Investasi industri makanan dan minuman Indonesia mencapai Rp47,74 triliun pada semester I 2026 dengan pertumbuhan sebesar 6,77 persen.
  • Kementerian Perindustrian mendorong pemanfaatan bahan baku lokal seperti sorgum dan limbah ikan untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
  • Pameran Krista InterFOOD 2026 di Tangerang Banten mempertemukan ribuan peserta guna memperluas jaringan bisnis industri pangan nasional.

Suara.com - Angka investasi industri makanan dan minuman (mamin) masih melesat hijgga mencapai Rp47,74 triliun pada semester I 2026.

Di tengah besarnya investasi tersebut, pemerintah mendorong pengembangan bahan baku lokal, mulai dari sorgum hingga limbah ikan, untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji mengatakan, industri makanan dan minuman memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian nasional.

Pada semester I 2026, sektor ini tumbuh 6,77 persen, lebih tinggi 0,68 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontribusi industri mamin terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas juga mencapai 41,86 persen.

"Pada semester 1 2026 misalkan, industri makanan minuman tumbuh 6,77 persen, lebih tinggi 0,68 poin dibandingkan tahun lalu. Kontribusinya terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) industri pengolahan non migas mencapai 41,86 persen. Artinya, hampir setengah dari industri pengolahan non migas kita ditopang oleh industri makanan dan minuman," jelas Sarmuji saat pembukaan Krista InterFOOD 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, Banten, dikutip Jumat (6/11/2026).

Dari total investasi Rp47,74 triliun tersebut, sebanyak 59 persen berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN). Capaian ini menunjukkan besarnya peluang pengembangan industri makanan dan minuman di dalam negeri.

Selain investasi, sektor tersebut juga mencatatkan kinerja positif dari sisi perdagangan. Sepanjang Januari-Agustus 2026, ekspor produk makanan dan minuman mencapai 34,65 miliar dolar AS, sedangkan impor tercatat sekitar 9,7 miliar dolar AS.

Dengan demikian, industri mamin mencatatkan surplus neraca perdagangan hampir 25 miliar dolar AS. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja hingga 6,9 juta orang.

Untuk memperkuat kontribusi ekonomi tersebut, Kementerian Perindustrian mendorong peningkatan produktivitas, pemanfaatan bahan baku lokal, serta pengembangan produk melalui penelitian dan teknologi.

Sarmuji mencontohkan pengembangan sorgum dan tempe sebagai bahan baku pembuatan mi. Selain itu, limbah ikan juga berpotensi diolah menjadi produk kolagen yang memiliki nilai ekonomi.

"Kementerian Perindustrian memiliki komitmen untuk mendorong pemanfaatan produk-produk dalam negeri, terutama bahan baku, agar lebih maksimal," ujar Sarmuji.

Menurutnya, penguatan penelitian dan pengembangan diperlukan agar industri nasional mampu mengolah sumber daya domestik menjadi produk dengan nilai tambah lebih besar.

Dia juga menekankan pentingnya meningkatkan utilisasi industri agar kapasitas produksi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Utilisasi sektor industri di subsektor makanan dan minuman juga harus terus kita pacu agar kapasitas yang ada bisa dimanfaatkan lebih besar, sehingga kontribusi industri terutama di sektor makanan dan minuman terhadap perekonomian menjadi lebih tinggi lagi," katanya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com