Bola / Bola Indonesia
Rabu, 15 Oktober 2025 | 16:38 WIB
Patrick Kluivert [Instagram/@patrickkluivert9]
Baca 10 detik
  • Patrick Kluivert pernah tersandung kasus judi selama periode 2011-2013
  • Kabar perjudian Kluivert mengejutkan manajemen, staf, dan mantan anak asuhnya di FC Twente
  • Meskipun Kluivert berjudi pada laga klubnya sendiri, pihak kejaksaan Belanda menegaskan tidak ada bukti bahwa ia terlibat dalam pengaturan skor

Suara.com - Nasib Patrick Kluivert dan jajaran pelatih asal Belanda di Timnas Indonesia tengah menjadi sorotan tajam usai kegagalan melaju ke putaran berikutnya Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Kritik dari banyak pihak kepada eks Barcelona datang bertubi-tubi pasca kegagalan Timnas di Ronde 4.

Kritik datang dari pihak suporter Timnas Indonesia, pengamat sepak bola nasional hingga pundit dari Belanda.

Kolumnis Valentijn Driessen dari media ternama Belanda, De Telegraaf misalnya melontarkan kritik pedas terhadap Kluivert dan stafnya.

Ia menyebut Kluivert Cs telah gagal total meski membawa misi besar untuk mengangkat prestasi sepak bola Indonesia ke level dunia.

“Meskipun Indonesia memiliki kontingen Belanda di semua lini staf dan tim, mereka tetap tersingkir oleh Irak — lawan yang secara kualitas jauh di bawah. Sebuah kegagalan besar.” tulisnya.

Pelatih Timnas Indonesia senior, Patrick Kluivert (pssi.org)

Sepak terjang Kluivert di masa lalu pun mulai diungkit banyak pihak seperti kegagalannya di timnas Curacao, yang sekarang justru di bawah pelatih Dick Advocaat selangkah lagi ke Piala Dunia 2026.

Tak hanya soal itu, Kluivert pun sempat dituding terlibat di kasus perjudian saat melatih di tim junior FC Twente, lantas benarkah Patrick Kluivert terlibat kasus match fixing?

Berikut faktanya

Baca Juga: Baru Dipecat West Ham, Graham Potter Bakal Gantikan Jon Dahl Tomasson Latih Swedia?

Menurut laporan De Volkskrant, Kluivert diketahui sempat memasang taruhan pada lima pertandingan tim utama FC Twente, klub yang saat itu juga menjadi tempatnya bekerja pada periode 2011-2013.

Kabar ini membuat pihak FC Twente terkejut, karena mereka mengaku tidak pernah mengetahui perilaku tersebut selama Kluivert masih di klub.

“Patrick mengaku dalam artikel itu bahwa dia tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun di Twente, dan memang tidak ingin klub tahu,” ujar juru bicara FC Twente, Richard Peters saat itu.

Mantan asisten Kluivert di FC Twente, Michel Jansen, juga mengaku kaget dengan kabar ini.

“Ini benar-benar seperti bahasa asing bagi saya. Saya tidak pernah melihat tanda-tanda bahwa Patrick punya masalah seperti itu,” ujar Jansen.

“Dia selalu datang tepat waktu, rajin memimpin latihan, dan selalu ceria. Tak ada yang aneh sama sekali.”

Beberapa mantan anak asuh Kluivert di tim muda Twente pun turut bereaksi.

Kiper Nick Marsman juga mengaku terkejut dengan kabar itu.

“Saya tidak menyangka sama sekali. Patrick orangnya baik, selalu positif dan dekat dengan para pemain,” kata Marsman.

“Mungkin dia terlalu percaya diri atau terbawa suasana. Kalau sudah terjerat dunia judi, sulit keluar.” sambungnya.

Dalam laporan investigasi, disebutkan bahwa Kluivert pertama kali berjudi pada Desember 2011, ketika FC Twente menang 2-0 atas NEC.

Ia juga bertaruh pada laga melawan Vitesse, serta dua pertandingan Eropa melawan Steaua Bucuresti dan Schalke 04.

Dari sejumlah taruhan itu, Kluivert meraup keuntungan sekitar €15.600 (sekitar Rp270 juta) — meski secara keseluruhan juga mengalami kerugian besar.

Kendati demikian, pihak kejaksaan Belanda menegaskan tidak ditemukan indikasi match-fixing atau pengaturan skor dalam kasus ini.

Kesimpulannya meski faktanya Patrick Kluivert sempat tersandung kasus judi, namun untuk kasus pengaturan skor tidak ditemukan faktanya.

Kontributor: Adam Ali

Load More