- SEA Games 2025 sepak bola dimulai 3 Desember di Thailand, walau tuan rumah dilanda banjir, dengan Indonesia menargetkan final.
- Timnas Indonesia U-22 memiliki kekuatan skuad merata dengan striker tajam, namun rentan terhadap serangan balik umpan panjang.
- Thailand U-22 kuat di lini tengah namun lemah di lini depan karena absennya beberapa pemain kunci Eropa dan minimnya jam terbang.
SEA Games bukan lagi prioritas utama Thailand, terlebih turnamen ini tidak masuk kalender FIFA.
Akibatnya, pelatih Thawatchai Damrong-Ongtrakul tak bisa memanggil pemain yang berkarier di luar Asia Tenggara. Bahkan beberapa pemain lokal di level tinggi pun tak mendapat izin klub.
Dua bintang yang absen ialah Jude Soonsup-Bell (Grimsby Town, Inggris) dan Erawan Garnier (RC Lens, Prancis).
Kekuatan Thailand
Thailand tetap berbahaya berkat lini tengah mereka:
Seksan Ratree (kapten), pemain serbaguna yang telah membela timnas senior sejak 2024 dan mencetak gol di 3 dari 4 laga terakhir Thailand.
Sittha Boonlha, gelandang bertahan yang tampil konsisten di U-23 Asia dan membantu Thailand lolos ke Piala Asia U-23 2026.
Taktik mereka banyak bertumpu pada serangan dari sisi kiri, memanfaatkan kombinasi Ratree dan full-back Phon-Ek Jensen yang cepat dan eksplosif.
Kelemahan Thailand
Baca Juga: Bursa Pelatih Timnas: Timur Kapadze Kandidat Kuat, STY Tak Masuk Kriteria?
Masalah utama justru ada di lini depan:
Para striker minim jam bermain di Thai League.
Yotsakon Burapha yang diproyeksikan menjadi penyerang utama hanya pemain rata-rata di liga Singapura dan cadangan di PT Prachuap FC.
Malaysia U-22: Minim Pengalaman, Bergantung pada Bintang
Malaysia tergabung di Grup B bersama Vietnam dan satu tim lainnya. Hanya juara grup yang lolos otomatis, sehingga setiap laga akan terasa seperti final.
Namun analisis awal menunjukkan skuad Malaysia kalah dari sisi kedalaman:
Dari 25 pemain yang dipanggil, banyak yang bermain di divisi bawah kompetisi lokal.
Meski memiliki dua pemain naturalisasi Fergus Tierney dan Ziad El Basheer, komposisi keseluruhan terlihat timpang.
Minimnya pengalaman membuat Malaysia diperkirakan memilih gaya bermain reaktif dan bertumpu pada individu.
Kelemahan Malaysia
Kesulitan menjaga ritme permainan karena banyak pemain jarang tampil di level klub.
Waktu latihan yang terganggu berbagai faktor membuat penyatuan taktik belum optimal.
Ketergantungan kepada segelintir pemain inti berpotensi membuat mereka goyah saat memasuki menit-menit akhir.
Kontributor: M.Faqih
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
Terkini
-
Arsenal Kalah di Final UCL, Martin Keown Desak Arteta Belanja di Posisi Ini
-
Rayakan Juara, Suporter PSG Malah Bentrok dengan Polisi, 426 Orang Ditangkap
-
Arsenal Gagal Juara Liga Champions, Mikel Arteta Didesak Tendang Pemain Ini
-
Liverpool Pecat Arne Slot, Andoni Iraola Jadi Kandidat Terkuat Pengganti
-
Arsenal Kalah Adu Penalti dari PSG, Declan Rice: Ini Seperti Seperti Lotere
-
Model OnlyFans Janjikan Malam Panas untuk Kiper PSG, Istri Langsung Pasang Badan
-
PSG Back to Back Juara, Luis Enrique: Lawan Arsenal Jauh Lebih Melelahkan!
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Berapa UCL PSG usai Menang Lawan Arsenal? Ini Sepak Terjang di Champions League
-
Puja-puji Mikel Arteta untuk PSG Usai Juarai Liga Champions