-
Boikot Piala Dunia 2026 dipertimbangkan sebagai protes terhadap klaim Amerika Serikat atas wilayah Greenland.
-
Sebanyak 17.000 tiket dibatalkan suporter sebagai bentuk dukungan terhadap kedaulatan Denmark dan otonomi Greenland.
-
Denmark menolak ambisi Amerika Serikat dan menuntut penghormatan terhadap integritas wilayah kedaulatan mereka.
Suara.com - Wacana mengenai penghentian dukungan terhadap turnamen sepak bola terbesar sejagat kini mulai mengemuka di daratan Eropa.
Langkah radikal ini muncul sebagai respons terhadap ambisi politik luar negeri Washington yang ingin menganeksasi wilayah Greenland.
Seorang tokoh politik senior dari Jerman menilai bahwa tekanan internasional perlu ditingkatkan melalui sektor olahraga.
Upaya ini dianggap sebagai instrumen diplomasi untuk menekan kebijakan ekspansi wilayah yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat.
Partai Kristen Demokrat Jerman secara terbuka menyuarakan kemungkinan adanya tindakan boikot pada ajang prestisius tersebut.
"Memboikot turnamen harus dipertimbangkan hanya sebagai langkah terakhir untuk menyadarkan Presiden Trump terkait isu Greenland," kata juru bicara kebijakan luar negeri partai Kristen demokrat Jerman CDU/CSU, Jurgen Hardt, pada Jumat.
Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan mendalam terhadap stabilitas geopolitik yang dipicu oleh keinginan Amerika Serikat tersebut.
Jurgen Hardt menekankan bahwa ajang olahraga memiliki nilai sentimental dan prestise yang sangat tinggi bagi Presiden Trump.
Melalui laporan yang diterbitkan oleh harian Bild, terungkap bahwa sang presiden sangat memperhatikan kesuksesan agenda global ini.
Baca Juga: Sudah Pegang Tiket Piala Dunia 2026, Tapi Ditolak Masuk AS, FIFA Lepas Tangan
Oleh karena itu, boikot dianggap sebagai kartu truf untuk mengguncang kepercayaan diri pemerintah Amerika Serikat di mata dunia.
Dampak dari seruan ini ternyata sudah mulai terasa pada tingkat partisipasi publik dan antusiasme penggemar bola.
Media asal Yordania, Roya News, melaporkan fenomena menarik mengenai perilaku calon penonton di kancah internasional.
Tercatat ada sekitar 17.000 penggemar sepak bola yang memutuskan untuk membatalkan pesanan tiket mereka secara masif.
Keputusan para suporter ini merupakan bentuk protes nyata terhadap kebijakan luar negeri yang diambil oleh Gedung Putih.
Fenomena ini menjadi sinyal peringatan dini bagi penyelenggara mengenai potensi penurunan jumlah pengunjung selama turnamen berlangsung.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan, RAM 6 GB Performa Jempolan
- 5 Sepatu Skechers Paling Nyaman untuk Jalan Kaki, Cocok Dipakai Lansia
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
Pilihan
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
Terkini
-
Kutukan Derby Pelatih Baru Manchester United: Mampukah Carrick Selamat di Old Trafford?
-
Selamat Tinggal, Thom Haye Kembali ke Eropa
-
Casemiro Punya Klausul Kontrak Mahal di MU, Bisa Bertahan hingga 2027 dengan Gaji Rp7 M per Pekan
-
Tak Mau Terbuai Puncak Klasemen, Eliano Reijnders Bicara Soal Ancaman Persib
-
Berapa Lama Jayden Oosterwolde Akan Dipenjara?
-
Belum 1 Detik Debut Excelsior Rotterdam, Miliano Jonathans Dipuji Setinggi Langit Dirtek
-
Rincian Hukuman Berat Jayden Oosterwolde, Penjara Hingga...
-
Tak Hanya Divonis Penjara, Jayden Oosterwolde Juga Dapat Sanksi Berlapis dari Komdis Turki
-
Miliano Jonathans ke Excelsior Rotterdam: Saya Pemain Bagus
-
Marc-Andre ter Stegen Resmi Tinggalkan Barcelona Menuju Girona Demi Menit Bermain Musim Dingin 2026