Bola / Bola Indonesia
Jum'at, 13 Februari 2026 | 10:36 WIB
Shayne Pattynama (IG Shayne Pattynama)
Baca 10 detik
  • Raja Isa menyoroti tren kepindahan pemain diaspora ke klub besar BRI Super League.

  • Persija dan Persib resmi mendatangkan pemain naturalisasi baru untuk memperkuat kedalaman skuad.

  • Menit bermain tetap ditentukan oleh performa lapangan dan kebutuhan taktik masing-masing pelatih.

Sementara itu, Jens Raven baru mencatatkan 195 menit bermain dari total 14 pertandingan yang dilakoni.

Kontribusi Raven sejauh ini adalah koleksi satu gol dan satu assist untuk klub asal Pulau Dewata.

Regulasi Pemain Muda U-22

Melihat situasi tersebut, Raja Isa menilai bahwa pemilihan pemain inti tetap berada di tangan pelatih.

Menurutnya, juru taktik akan selalu mengedepankan kebutuhan taktikal tim di atas status pemain tersebut.

Namun, regulasi wajib memainkan pemain U-22 sebenarnya membuka pintu lebar bagi para talenta diaspora ini.

Keuntungan lainnya adalah status mereka yang diakui sebagai pemain lokal, bukan pemain asing dalam regulasi.

Raja Isa menyadari bahwa bersaing di klub sebesar Persija dan Persib bukanlah perkara yang mudah.

Kualitas pemain muda lokal yang semakin meningkat membuat perebutan posisi utama menjadi sangat krusial.

Baca Juga: Pelatih Malaysia Bicara Fenomena Pemain Diaspora di Super League: Plus di Bisnis, Minus di Karier?

"Ia menyebut hal tersebut sebagai bagian dari dinamika industri sepak bola modern yang wajar."

Dari sisi bisnis, kehadiran mereka diyakini mampu meningkatkan nilai jual kompetisi di mata para sponsor.

Popularitas tinggi para pemain ini menjadi magnet kuat untuk mendatangkan ribuan penonton ke dalam stadion.

Keputusan merumput di Indonesia dianggap sebagai langkah realistis daripada hanya menjadi cadangan di liga Eropa.

Berada di kompetisi lokal memberikan kesempatan bagi pemain untuk tetap berada dalam kondisi fisik prima.

Selain jam terbang, faktor kesejahteraan melalui kontrak yang kompetitif juga menjadi alasan kuat kepindahan mereka.

Load More