- Worrawoot Srimaka mengaku tidak terkejut dengan atmosfer GBLA karena pernah bermain di hadapan 100 ribu penonton, namun kecewa dengan aksi suporter masuk lapangan.
- Kericuhan kecil terjadi usai laga akibat kekecewaan suporter terhadap wasit, tetapi situasi berhasil dikendalikan dengan cepat oleh aparat keamanan.
- Pelatih asal Thailand itu memuji fanatisme suporter Indonesia yang dinilai lebih meriah dan penuh semangat dibandingkan atmosfer sepak bola di negaranya.
Suara.com - Pelatih Ratchaburi FC, Worrawoot Srimaka, memberikan tanggapan menarik terkait atmosfer panas yang diciptakan Bobotoh saat timnya bersua Persib Bandung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Juru taktik asal Thailand tersebut mengaku sama sekali tidak merasa terkejut dengan teror ribuan suporter tuan rumah pada laga leg kedua babak 16 Besar AFC Champions League Two (ACL 2) 2025/2026, Rabu (18/2/2026).
Namun, Worrawoot Srimaka justru menyoroti insiden yang terjadi pasca pertandingan yang dinilai sedikit mencoreng atmosfer luar biasa di stadion kebanggaan warga Bandung tersebut.
Worrawoot menjelaskan bahwa dirinya sudah terbiasa dengan tekanan massa karena pernah merasakan pengalaman bertanding di hadapan 100 ribu penonton saat masih aktif sebagai pemain.
"Sejujurnya, saya tidak terlalu terkejut. Di masa lalu saya pernah bermain di hadapan 100 ribu penonton," ucapnya seusai pertandingan.
Rasa kecewa sang pelatih justru muncul ketika melihat aksi segelintir oknum suporter dari tribun selatan yang nekat turun ke lapangan setelah peluit panjang dibunyikan.
Aksi tersebut dipicu oleh ketidakpuasan penonton terhadap kepemimpinan wasit Majed Mohammed Al-Shamrani yang memimpin jalannya laga sengit itu.
"Tapi hari ini saya harus mengakui sempat sedikit kecewa dengan situasi di akhir pertandingan," ungkapnya.
Beruntung, ketegangan tersebut tidak berlangsung lama karena aparat keamanan dan panitia pelaksana sigap mengendalikan situasi di lapangan.
Baca Juga: Persib Bandung Dongkrak Ranking Liga Indonesia Usai Gagal di AFC Champions League 2
"Namun setelah laga selesai, semuanya kembali tenang," katanya.
Worrawoot Srimaka menyadari kekecewaan para pendukung, namun ia mengingatkan bahwa sepak bola sejatinya adalah hiburan yang harus dinikmati tanpa tindakan merugikan.
"Kami memahami mengapa para suporter kecewa, tapi ini hanyalah sebuah pertandingan. Sepak bola untuk dinikmati," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Worrawoot juga membagikan pengalamannya membandingkan atmosfer sepak bola di Bandung dengan Jakarta yang pernah ia rasakan sebelumnya.
"Pertama, saya pernah bermain di Jakarta, jadi saya bisa membandingkan Jakarta dan Bandung," ungkapnya.
Ia mengakui bahwa ciri khas paling menonjol dari sepak bola Indonesia adalah dukungan suporter yang sangat meriah dan penuh semangat.
"Hal yang paling menonjol ketika bermain di Indonesia adalah dukungan suporter yang sangat meriah. Itu menyenangkan dan penuh semangat," ujarnya.
Menurutnya, fanatisme dan gemuruh stadion seperti yang terjadi di GBLA merupakan pemandangan langka yang jarang ditemui dalam kompetisi di Thailand.
"Di Thailand, kami jarang melihat atmosfer seperti ini," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif