Bola / Bola Dunia
Rabu, 04 Maret 2026 | 22:53 WIB
Pemain Timnas Putri Iran, Sara Didar, menahan air mata saat ditanya soal konflik militer yang memanas di negaranya. Di tengah situasi genting, Iran tetap berjuang di ajang Piala Asia Putri 2026. [Tangkap layar Youtube]
Baca 10 detik
  • Pemain Timnas Putri Iran, Sara Didar, mengungkapkan kecemasan mendalam saat berlaga di Piala Asia Putri 2026 menyusul konflik militer Iran.
  • Konflik dipicu serangan udara AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, dibalas dengan peluncuran rudal oleh Iran.
  • Meskipun khawatir, pelatih dan pemain Iran menegaskan komitmen profesional untuk fokus bertanding di turnamen tersebut.

Suara.com - Pemain Timnas Putri Iran, Sara Didar, menahan air mata saat ditanya soal konflik militer yang memanas di negaranya. Di tengah situasi genting, Iran tetap berjuang di ajang Piala Asia Putri 2026.

Konflik pecah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran akhir pekan lalu.

Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ali Khamenei, yang kemudian dibalas Iran dengan peluncuran rudal ke sejumlah negara di Semenanjung Arab.

Saat ditanya awak media soal kondisi tanah airnya, Sara tak menampik bahwa ia dan pemain timnas putri Iran lainnya merasakan rasa sedih, kalut, dan cemas.

“Jelas kami semua khawatir dan sedih atas apa yang terjadi di Iran, keluarga kami di sana, dan orang-orang yang kami cintai,” ujar Sara Didar seperti dilansir dari Reuters.

Penyerang berusia 21 tahun itu berharap ada kabar baik untuk negaranya.

“Saya sangat berharap ini akan menjadi sesuatu yang baik bagi negara kami ke depan, dan saya berharap negara saya tetap kuat dan hidup,” katanya.

Iran mengawali Grup A dengan kekalahan 0-3 dari Korea Selatan pada Senin lalu.

Berikutnya, Sara Didar dkk akan menghadapi tuan rumah Australia di Gold Coast Stadium, Kamis.

Baca Juga: Operation Epic Fury, AS Kerahkan 50 Ribu Tentara dan 200 Jet Tempur Gempur Iran dari 2 Kapal Induk

Gelandang Australia, Amy Sayer, memuji keberanian para pemain Iran.

Ia menilai tampil di turnamen kontinental di tengah gejolak politik dan serangan militer bukan hal mudah.

Pelatih Iran, Marziyeh Jafari, menegaskan timnya tetap profesional.

“Kami sangat khawatir dengan keluarga dan masyarakat di Iran. Tidak ada yang mencintai perang,” ujarnya.

“Namun kami datang ke sini untuk bermain sepak bola secara profesional dan berusaha fokus pada pertandingan di depan,” tambah Jafari.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada komunitas Iran-Australia yang hadir memberi dukungan.

Load More