Bola / Liga Inggris
Kamis, 09 April 2026 | 13:37 WIB
Ekspresi para pemain Leicester City usai resmi terdegradasi dari Liga Inggris. [DARREN STAPLES / AFP]
Baca 10 detik
  • Dewan banding independen menolak permohonan Leicester City sehingga hukuman pengurangan enam poin tetap diberlakukan secara final.
  • Leicester City terbukti melanggar aturan Profitability and Sustainability Rules karena melampaui batas kerugian sebesar 20,8 juta pound.
  • Pengurangan poin menyebabkan performa tim menurun dan kini mereka terancam degradasi dengan lima pertandingan tersisa musim ini.

Suara.com - Leicester City dipastikan tetap menerima hukuman pengurangan enam poin setelah banding yang diajukan klub ditolak.

Sanksi tersebut sebelumnya dijatuhkan akibat pelanggaran aturan keuangan oleh English Football League. Keputusan itu kini telah diperkuat oleh dewan banding independen.

Premier League dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa keputusan tersebut sudah final.

“Keputusan komisi independen yang merekomendasikan pengurangan enam poin terhadap Leicester City Football Club musim ini telah dijatuhkan oleh dewan banding independen,” demikian pernyataan resmi liga.

Dampak dari pengurangan poin itu cukup signifikan. Leicester sempat terjun dari posisi ke-17 ke peringkat ke-20 klasemen Championship. Kini, performa tim berjuluk The Foxes juga terus menurun hingga masuk zona degradasi, hanya terpaut satu poin dari zona aman dengan lima pertandingan tersisa.

Kasus ini bermula pada Mei 2025 ketika Leicester didakwa melanggar aturan Profitability and Sustainability Rules (PSR) terkait musim 2023/2024. Saat itu, mereka masih berkompetisi di Championship.

Setelah terdegradasi, penanganan kasus dialihkan ke EFL yang kemudian menyatakan Leicester bersalah karena melampaui batas kerugian yang diizinkan.

Berdasarkan aturan PSR, klub di Premier League tidak boleh mengalami kerugian lebih dari 105 juta pound dalam tiga tahun. Namun, Leicester tercatat melampaui batas pengeluaran EFL sebesar 20,8 juta pound dari ambang 83 juta pound.

Dalam proses banding, Leicester sempat berargumen bahwa periode evaluasi seharusnya dihitung selama 36 bulan, bukan 37 bulan. Meski komisi menerima penggunaan periode 36 bulan, hasilnya tetap menunjukkan pelanggaran.

Baca Juga: Pep Guardiola Ingin Tinggalkan Manchester City, Klub Mulai Siapkan Skenario

Klub pun menyatakan kini fokus penuh untuk menyelesaikan sisa musim.

“Dengan kasus ini yang telah berakhir dan lima pertandingan tersisa, seluruh elemen klub sepenuhnya fokus pada laga-laga ke depan dan menentukan nasib musim kami melalui hasil di lapangan. Kami tahu ini adalah periode yang menantang dan kami berterima kasih atas dukungan para suporter,” tulis pernyataan resmi klub.

Sejak hukuman diberlakukan, performa Leicester kian menurun. Mereka hanya meraih satu kemenangan dari 12 pertandingan terakhir di semua kompetisi.

Situasi ini membuat Leicester menghadapi ancaman degradasi kedua secara beruntun, sekaligus menjadi ujian berat dalam upaya bertahan di kasta saat ini.

(Antara)

Load More