Bola / Bola Indonesia
Selasa, 21 April 2026 | 16:37 WIB
Pemain Timnas Indonesia U-17, Fadly Alberto Hengga. (Dok. Timnas Indonesia)
Baca 10 detik
  • Fadly Alberto dan ofisial Bhayangkara FC melakukan tindakan kekerasan fisik usai laga EPA U-20 melawan Dewa United.
  • Pelatih Persija, Mauricio Souza, menuntut pemberian sanksi tegas atas insiden brutal yang membahayakan keselamatan para pemain tersebut.
  • Souza mengimbau anak asuhnya mengontrol emosi di lapangan demi menghindari kerugian kartu akibat provokasi dan kepemimpinan wasit.

Suara.com - Pelatih Persija Jakarta Mauricio Souza turut berkomentar insiden brutal di Elite Pro Academy (EPA) U-20 Super League 2025/2026 saat laga Dewa United vs Bhayangkara FC beberapa waktu lalu.

Menurut juru formasi asal Brasil tersebut aksi Fadly Alberto dan sejumlah pemain yang melakukan tendangan kungfu sebagai masalah serius.

Dalam laga tersebut, Dewa United U-20 keluar sebagai pemenang dengan skor 2-1. Situasi memanas tak lama setelah peluit akhir dibunyikan.

Awalnya hanya terjadi adu mulut antara pemain dan ofisial kedua tim. Namun suasana berubah drastis ketika Fadly Alberto Hengga tiba-tiba berlari ke arah pemain lawan dan melayangkan tendangan kungfu.

Tak hanya itu, salah satu pelatih Bhayangkara FC U-20 juga diduga ikut terlibat dalam aksi kekerasan dengan melakukan pemukulan terhadap pihak Dewa United U-20.

Kronologi keributan yang terjadi antara Bhayangkara FC U-20 dan Dewa United U-20 melibatkan eks Timnas Indonesia U-17, Fadly Alberto Hengga. (Instagram/@futboll.indonesiaa)

Bukan cuma Fadly, tetapi juga ada beberapa pemain Bhayangkara FC melakukan tindakan kurang terpuji lainnya.

Souza mengaku sedih melihat kejadian itu. Ia berharap ada hukuman setimpal untuk para pelaku yang terlibat.

"Saya sedih sekali terjadi seperti itu. Sebenarnya, saya pikir harus ada itu denda itu serius, untuk situasi seperti itu," kata Souza dalam konferensi pers, Selasa (21/4/2026).

"Saya pikir tidak ada alasan pemain U-20 itu tidak ada yang namanya anak kecil. Mereka sudah tahu apa yang mereka lakukan. Dan sebenarnya sangat tidak baik kalau ada perkelahian seperti itu, bisa saja ada yang terluka dengan serius." jelasnya.

Baca Juga: Buntut Tendangan Kungfu, Legenda Timnas Semprot Staf Pelatih Bhayangkara: Kamu Pelatih, Bukan Preman

Bagi Souza masalah ini sangat serius. Apalagi tindakan tersebut bisa membahayakan pemain-pemain lain.

"Ini adalah masalah serius. Komplain itu bagian dari pertandingan, tapi kalau kita agresif dan kita pukul teman sendiri, tidak boleh. Dan harus dipikir itu dan tidak boleh terjadi itu dalam sepak bola lagi," smabungnya.

Insiden ini membuat Souza memberi peringatakan kepada semua anak asuuhannya untuk dapat mengontrol emosi. Apalagi, Persija tercatat menjadi salah satu tim yang mengoleksi kartu terbanyak di musim 2025/2026.

"Kita tahu dalam kompetisi ini kalau kita tidak bisa mengontrol emosi bisa sangat rugi dalam mengarungi kompetisi ini," terangnya.

"Karena masalah itu juga kita banyak dapat beberapa kartu itu di dalam kompetisi ini. Kita tertinggal berapa poin itu di dalam pertandingan kita punya kartu merah itu. Pastinya kalau tidak terjadi seperti itu, mungkin kita di situasi lebih baik di dalam klasemen," ia menambahkan.

Souza juga menuntut adanya peningkatan dari segi wasit. Menurutnya, kepemimpinan pengadil lapangan juga berpengaruh terhadap emosi pemain.

Load More