- Ademir de Menezes adalah penyerang legendaris Brasil yang sukses meraih gelar pencetak gol terbanyak Piala Dunia 1950.
- Pada Piala Dunia 1950, Brasil mengalami kekalahan tragis 1-2 dari Uruguay di Stadion Maracana yang disebut Maracanazo.
- Gangguan tekanan politik, media, dan persiapan yang kacau menjadi penyebab utama kegagalan Brasil meraih gelar juara dunia.
Selecao kalah 1-2 dari Uruguay dalam pertandingan yang kemudian dikenal sebagai Maracanazo.
Kekalahan itu menjadi trauma nasional yang membekas selama puluhan tahun.
Insiden Maracanazo
Dilansir dari ESPN, kekalahan tragis Brasil dari Uruguay di final Piala Dunia 1950 ternyata menyimpan banyak kisah di balik layar.
Jauh sebelum tragedi Maracanazo terjadi di Stadion Maracana, suasana di kamp timnas Brasil sudah dipenuhi kekacauan, tekanan politik, hingga euforia berlebihan yang mengganggu fokus pemain.
Skuat Brasil awalnya menjalani turnamen dengan tenang di sebuah mansion terpencil di kawasan Joa, Rio de Janeiro.
Lokasi itu dipilih kapten tim Augusto da Costa agar para pemain terisolasi dari hiruk-pikuk kota dan tekanan publik.
“Kami hanya benar-benar sadar saat hari pertandingan tiba. Setelah bermain, kami kembali santai, kadang sambil minum anggur,” kenang kiper legendaris Brasil, Moacyr Barbosa.
Namun semuanya berubah drastis menjelang laga final melawan Uruguay pada 16 Juli 1950.
Baca Juga: Donald Trump Serang FIFA: Harga Tiket Piala Dunia 2026 Kemahalan!
Skuat Brasil dipindahkan ke kompleks Stadion São Januário yang jauh lebih ramai dan mudah diakses publik.
Perpindahan itu justru membuka pintu bagi kekacauan. Para pemain terus didatangi politikus, selebritas, sponsor, hingga media yang menganggap Brasil sudah pasti menjadi juara dunia.
Bek Brasil, Bigode, mengaku para pemain bahkan kesulitan tidur akibat kebisingan dan asap pabrik di sekitar hotel tim.
Ademir, juga mengalami tekanan mental aneh menjelang pertandingan.
Ia sempat dibawa ke rumah sakit untuk memberkati seorang bocah yang akan menjalani operasi.
“Setelah kembali ke hotel saya tidak bisa tidur. Saya terus memikirkan kenapa anak itu memperlakukan saya seperti orang suci,” kata Ademir.
Saat final, Ademir dkk masih harus menghadiri misa gereja dan menerima kunjungan dua kandidat presiden Brasil yang datang memberikan pidato motivasi.
Situasi itu membuat gelandang bintang Brasil, Zizinho, akhirnya kehilangan kesabaran.
Brasil akhirnya tiba di Maracana Stadium beberapa jam sebelum kickoff.
Karena jadwal yang kacau, pemain bahkan disebut hanya makan roti isi ham dan keju sebelum beristirahat di ruang ganti yang masih berbau semen baru.
Hari itu, Maracana dipadati lebih dari 170 ribu penonton resmi, meski banyak pihak percaya jumlah aslinya mendekati 200 ribu orang.
Atmosfer raksasa itu menjadi salah satu tekanan terbesar yang pernah dihadapi pemain Brasil.
Di sisi lain, Uruguay datang dengan mental berbeda.
Kapten Uruguay, Obdulio Varela, menggunakan pemberitaan media Brasil yang terlalu percaya diri sebagai bahan bakar motivasi timnya.
Uruguay bahkan disebut menempelkan headline koran Brasil di area toilet hotel untuk membakar semangat pemain.
Tim berjuluk La Celeste itu datang sebagai underdog yang merasa diremehkan.
Brasil sempat unggul lebih dulu di babak kedua lewat gol Friaca.
Namun Uruguay bangkit melalui Juan Alberto Schiaffino dan Alcides Ghiggia untuk menang 2-1 dalam salah satu kejutan terbesar sepanjang sejarah sepak bola dunia.
Berita Terkait
-
Donald Trump Serang FIFA: Harga Tiket Piala Dunia 2026 Kemahalan!
-
Profil Timnas Ekuador: Kuda Hitam Piala Dunia dengan Regenerasi Pemain Muda Berbakat
-
Profil Timnas Arab Saudi: Elang Hijau Siap Bikin Kejutan Lagi di Piala Dunia 2026
-
Mustapha Hadji, Maestro Lapangan Tengah Maroko yang Bersinar di Piala Dunia 1998
-
Profil Timnas Pantai Gading: Generasi Baru Gajah Afrika Siap Mengguncang Piala Dunia 2026
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
AFC Ajax Boyong Marc-Andre ter Stegen, Maarten Paes Dibuang?
-
Duka Mendalam Klub Juara Liga Champions untuk Korban Gempa Venezuela
-
Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026
-
Mourinho Minta Real Madrid Bajak Fernandez, Los Blancos Tak Sanggup Bayar
-
Bukan Sekadar Taktik Pochettino! AI Kunci Sukses Timnas AS di Piala Dunia 2026
-
Kegocek Wagub Jabar! Dirumorkan ke Persib, Jese Perpanjang Kontrak di Las Palmas
-
Socceroos Hadapi Paraguay Tanpa Bek Kanan Murni, Jacob Italiano Cedera
-
Tak Takut dengan Rudal Israel, Warga Lebanon Pesta Kembang Api Rayakan Kemenangan Brasil
-
Arsenal Mengintai, Tottenham Menawar, MU Bajak Sandro Tonali dengan Mahar Rp1,7 T
-
Iman Islam Jadi Alasan Djed Spence Tolak Jabat Tangan Terduga Pemerkosa Thomas Partey