Bola / Bola Indonesia
Selasa, 30 Juni 2026 | 13:45 WIB
Carlo Ancelotti (FIFA)
Baca 10 detik

Carlo Ancelotti menjadi sosok kunci di balik kebangkitan Brasil berkat ketenangan dan perubahan taktik pada babak kedua.

Keputusan mempertahankan Casemiro serta memasukkan Endrick dan Gabriel Martinelli terbukti menjadi titik balik kemenangan Selecao.

Kemenangan 2-1 atas Jepang menyelamatkan Brasil dari potensi kegagalan terburuk di fase gugur Piala Dunia sejak 1990 sekaligus mengantar mereka ke babak 16 besar.

Suara.com - Timnas Brasil nyaris menorehkan catatan kelam saat menghadapi Jepang pada babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Skuad berjuluk Selecao itu sempat berada di ujung tanduk setelah tertinggal satu gol pada babak pertama dalam laga yang berlangsung di Houston Stadium.

Namun, sentuhan dingin pelatih Carlo Ancelotti menjadi faktor pembeda yang menghindarkan Brasil dari salah satu pencapaian terburuk mereka di ajang Piala Dunia.

Brasil menurunkan susunan pemain tertua mereka di fase gugur Piala Dunia sejak edisi 2006, dengan rata-rata usia 29 tahun 245 hari.

Kondisi tersebut sempat membuat permainan Brasil kehilangan dinamika. Jepang pun mampu memanfaatkan situasi melalui gol Kaishu Sano pada babak pertama.

Sentuhan Dingin Carlo Ancelotti Jadi Pembeda

Brasil lolos ke 16 besar Piala Dunia 2026 usai bangkit mengalahkan Jepang 2-1. Carlo Ancelotti memuji kesabaran tim dan mengungkap rencana memasukkan Neymar. [Dok. IG Brasil]

Di tengah tekanan yang meningkat, Carlo Ancelotti tetap menunjukkan ketenangan di pinggir lapangan.

Sikap tenang pelatih asal Italia itu diyakini bukan sekadar untuk meredam kepanikan, melainkan wujud keyakinannya bahwa Brasil masih mampu membalikkan keadaan.

Perubahan permainan Selecao mulai terlihat selepas turun minum.

Baca Juga: Eksperimen Gagal Ronald Koeman! Belanda Dihajar Maroko saat Pakai 5 Bek Lagi Setelah 2 Tahun

Ancelotti memasukkan Endrick menggantikan Lucas Paqueta yang mengalami cedera. Kehadiran penyerang muda Real Madrid itu membuat permainan Brasil menjadi lebih agresif dan dinamis.

Pelatih berusia 67 tahun tersebut juga tetap mempercayai Casemiro meski sang gelandang telah menerima kartu kuning dan sempat melakukan kesalahan yang berujung gol Jepang.

Kepercayaan itu dibayar lunas ketika Casemiro mencetak gol penyama kedudukan melalui sundulan di tiang jauh.

Berdasarkan data Opta, gol tersebut lahir dari perubahan pendekatan Brasil yang lebih mengandalkan umpan silang pada babak kedua.

Brasil tercatat melepaskan 27 umpan silang sepanjang babak kedua, salah satu jumlah tertinggi yang mereka bukukan dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak 1966.

Dominasi Berbuah Gol Penentu

Load More