Bola / BolaTaiment
Rabu, 08 Juli 2026 | 08:05 WIB
Suporter memberikan dukungannya untuk Tim Nasional Meksiko saat bertanding melawan Tim Nasional Afrika Selatan dalam laga pembuka Grup A Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Kamis (11/6/2026). [ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/sgd]
Baca 10 detik
  • Angka pembunuhan di Meksiko menurun drastis selama Piala Dunia 2026 yang berlangsung dari Juni hingga Juli.
  • Pemerintah mengaitkan penurunan tersebut dengan strategi keamanan, namun peneliti Universidad Iberoamericana meragukan klaim kesuksesan tersebut.
  • Studi memperingatkan bahwa penurunan pembunuhan bisa terjadi akibat pergeseran bentuk kekerasan atau keterbatasan sistem pencatatan data.

Suara.com - Ada satu fenomena menarik selama perhelatan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di AS, Meksiko dan Kanada.

Angka pembunuhan di Meksiko mengalami penurunan selama Piala Dunia 2026 sempat dianggap sebagai kabar baik.

Namun, studi dari Universidad Iberoamericana mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum tentu mencerminkan berkurangnya kekerasan secara keseluruhan.

Dalam laporan bertajuk “Menos homicidios, más preguntas”, para peneliti menegaskan bahwa turunnya angka pembunuhan perlu dianalisis lebih dalam.

“Pertanyaan utamanya bukan hanya apakah pembunuhan menurun, tetapi apa yang menyebabkan penurunan itu,” tulis studi tersebut dikutip dari Infobae

Data menunjukkan, selama periode 11 Juni hingga 5 Juli 2026, tercatat 1.007 kasus pembunuhan atau rata-rata 40 kasus per hari.

Insiden panas terjadi jelang duel Meksiko vs Inggris di Piala Dunia 2026. [Tangkap layar X]

Bahkan, pada 6 Juli hanya tercatat 25 kasus, angka terendah dalam lebih dari delapan tahun terakhir.

Pemerintah federal menilai capaian ini sebagai hasil dari strategi keamanan nasional.

Namun, para peneliti menilai kesimpulan tersebut terlalu dini jika tidak disertai analisis menyeluruh terhadap berbagai faktor.

Baca Juga: Lionel Scaloni Ungkap Dua M yang Bikin Argentina Comeback Kalahkan Mesir

Studi tersebut mengidentifikasi sedikitnya enam kemungkinan penyebab, mulai dari perubahan struktur sosial, kontrol wilayah oleh kelompok kriminal, hingga kemungkinan adanya pergeseran bentuk kekerasan ke praktik lain seperti penculikan dan pemerasan.

“Penurunan pembunuhan bisa saja terjadi bersamaan dengan meningkatnya bentuk kekerasan lain, seperti penghilangan paksa atau extorsi,” tulis laporan tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas yang terlihat bisa jadi bersifat semu.

Peneliti juga menyoroti kemungkinan adanya keterbatasan dalam sistem pencatatan data.

Jika sebagian kasus kekerasan tidak tercatat sebagai pembunuhan, maka penurunan angka tidak sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan.

Load More