Bola / Bola Dunia
Kamis, 16 Juli 2026 | 07:57 WIB
Harry Kane. (fifa.com)
Baca 10 detik
  • Harry Kane mengkritik taktik bertahan Inggris yang menyebabkan kekalahan dari Argentina.

  • Inggris tersingkir tragis setelah Argentina membalikkan kedudukan di menit-menit akhir pertandingan.

  • Kapten Inggris menegaskan timnya harus menemukan kepingan taktik terakhir demi meraih gelar.

Suara.com - Keputusan taktis untuk bermain bertahan setelah unggul menjadi bumerang fatal yang menghancurkan mimpi besar tim nasional Inggris. Kapten The Three Lions, Harry Kane, secara terbuka mengakui kesalahan strategi tersebut setelah mereka ditumbangkan Argentina.

Kegagalan ini membuktikan bahwa mentalitas menjaga keunggulan tipis sangat tidak efektif di fase krusial turnamen. Level semifinal Piala Dunia 2026 menuntut konsistensi intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sekadar menumpuk pemain di lini belakang.

Harry Kane dan Jude Bellingham, dua pemain andalan Timnas Inggris yang jadi tulang punggung di Piala Dunia 2026. (Instagram/judebellingham)

Evaluasi jujur dari sang kapten ini menjadi sinyal kuat perlunya perubahan paradigma bermain dalam sepak bola Inggris. Mereka harus berani tampil menyerang secara konsisten jika ingin menyudahi puasa gelar internasional yang berkepanjangan.

"Ini mengecewakan untuk tim, staf, dan para suporter. Kami bermain bagus hampir sepanjang pertandingan. Namun, setelah unggul 1-0, kami seperti hanya berusaha mempertahankan keunggulan. Di level (semifinal) seperti ini, itu tidak cukup," kata Kane yang dikutip FIFA.

Kepedihan mendalam menyelimuti ruang ganti Inggris akibat hasil buruk di Stadion Atlanta tersebut. Perjuangan keras selama turnamen berakhir antiklimaks dalam hitungan menit menjelang peluit panjang berbunyi.

Striker Bayern Muenchen tersebut menegaskan bahwa seluruh elemen tim sudah mengerahkan segalanya di lapangan. Kekalahan dengan cara membuang keunggulan terasa berlipat-lipat lebih menyakitkan bagi mereka.

"Kami bekerja sangat keras untuk bisa berada di sini. Semua pemain telah memberikan darah, keringat, dan air mata. Gagal dengan cara seperti ini benar-benar sangat menyakitkan," ujarnya.

Padahal, pola permainan skuad asuhan Gareth Southgate ini berjalan sangat meyakinkan sejak awal laga. Mereka berhasil meredam kreativitas lini tengah lawan melalui skema penekanan yang agresif.

"Kami memberi tekanan tinggi sehingga bisa merebut bola dan mengendalikan permainan," ucap Kane.

Baca Juga: Lautaro Martinez: Saya Sudah Bilang ke Alexis, Akan Cetak Gol

Petaka bagi Inggris dimulai ketika mereka kehilangan kendali permainan setelah berhasil mencetak gol pembuka. Skuad Tango langsung mengambil alih kendali dan menaikkan tempo serangan secara masif.

Inggris justru terkejut dan gagal memenangi duel satu lawan satu di area pertahanan sendiri. Akibatnya, benteng pertahanan mereka terus dibombardir tanpa henti oleh barisan penyerang lawan.

"Setelah kami mencetak gol, entah karena mereka memasukkan lebih banyak pemain ke depan atau kami tidak lagi mampu mengimbangi mereka satu lawan satu, serangan mereka datang bertubi-tubi. Kami terus melakukan blok, tetapi pada akhirnya itu tidak cukup," tuturnya.

Meski harus pulang dengan tangan hampa, Kane tetap melihat secercah harapan untuk masa depan timnya. Ia percaya fondasi skuad saat ini sudah sangat dekat dengan level juara.

Tugas besar berikutnya adalah menemukan formula taktik yang tepat agar tidak lagi runtuh di momen-momen krusial.

Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Atlanta pada Kamis ini berakhir dramatis bagi kedua tim. Inggris sebenarnya sempat membuka asa lewat gol pembuka yang dicetak oleh Anthony Gordon.

Namun, Argentina menunjukkan mental juara dengan membalikkan kedudukan melalui gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez di menit-menit akhir laga. Kemenangan 2-1 tersebut sukses mengantarkan Argentina ke partai final, sementara Inggris kembali harus mengubur mimpi juara mereka.

Load More