-
Harry Kane mengkritik taktik bertahan Inggris yang menyebabkan kekalahan dari Argentina.
-
Inggris tersingkir tragis setelah Argentina membalikkan kedudukan di menit-menit akhir pertandingan.
-
Kapten Inggris menegaskan timnya harus menemukan kepingan taktik terakhir demi meraih gelar.
Suara.com - Keputusan taktis untuk bermain bertahan setelah unggul menjadi bumerang fatal yang menghancurkan mimpi besar tim nasional Inggris. Kapten The Three Lions, Harry Kane, secara terbuka mengakui kesalahan strategi tersebut setelah mereka ditumbangkan Argentina.
Kegagalan ini membuktikan bahwa mentalitas menjaga keunggulan tipis sangat tidak efektif di fase krusial turnamen. Level semifinal Piala Dunia 2026 menuntut konsistensi intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sekadar menumpuk pemain di lini belakang.
Evaluasi jujur dari sang kapten ini menjadi sinyal kuat perlunya perubahan paradigma bermain dalam sepak bola Inggris. Mereka harus berani tampil menyerang secara konsisten jika ingin menyudahi puasa gelar internasional yang berkepanjangan.
"Ini mengecewakan untuk tim, staf, dan para suporter. Kami bermain bagus hampir sepanjang pertandingan. Namun, setelah unggul 1-0, kami seperti hanya berusaha mempertahankan keunggulan. Di level (semifinal) seperti ini, itu tidak cukup," kata Kane yang dikutip FIFA.
Kepedihan mendalam menyelimuti ruang ganti Inggris akibat hasil buruk di Stadion Atlanta tersebut. Perjuangan keras selama turnamen berakhir antiklimaks dalam hitungan menit menjelang peluit panjang berbunyi.
Striker Bayern Muenchen tersebut menegaskan bahwa seluruh elemen tim sudah mengerahkan segalanya di lapangan. Kekalahan dengan cara membuang keunggulan terasa berlipat-lipat lebih menyakitkan bagi mereka.
"Kami bekerja sangat keras untuk bisa berada di sini. Semua pemain telah memberikan darah, keringat, dan air mata. Gagal dengan cara seperti ini benar-benar sangat menyakitkan," ujarnya.
Padahal, pola permainan skuad asuhan Gareth Southgate ini berjalan sangat meyakinkan sejak awal laga. Mereka berhasil meredam kreativitas lini tengah lawan melalui skema penekanan yang agresif.
"Kami memberi tekanan tinggi sehingga bisa merebut bola dan mengendalikan permainan," ucap Kane.
Baca Juga: Lautaro Martinez: Saya Sudah Bilang ke Alexis, Akan Cetak Gol
Petaka bagi Inggris dimulai ketika mereka kehilangan kendali permainan setelah berhasil mencetak gol pembuka. Skuad Tango langsung mengambil alih kendali dan menaikkan tempo serangan secara masif.
Inggris justru terkejut dan gagal memenangi duel satu lawan satu di area pertahanan sendiri. Akibatnya, benteng pertahanan mereka terus dibombardir tanpa henti oleh barisan penyerang lawan.
"Setelah kami mencetak gol, entah karena mereka memasukkan lebih banyak pemain ke depan atau kami tidak lagi mampu mengimbangi mereka satu lawan satu, serangan mereka datang bertubi-tubi. Kami terus melakukan blok, tetapi pada akhirnya itu tidak cukup," tuturnya.
Meski harus pulang dengan tangan hampa, Kane tetap melihat secercah harapan untuk masa depan timnya. Ia percaya fondasi skuad saat ini sudah sangat dekat dengan level juara.
Tugas besar berikutnya adalah menemukan formula taktik yang tepat agar tidak lagi runtuh di momen-momen krusial.
Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Atlanta pada Kamis ini berakhir dramatis bagi kedua tim. Inggris sebenarnya sempat membuka asa lewat gol pembuka yang dicetak oleh Anthony Gordon.
Namun, Argentina menunjukkan mental juara dengan membalikkan kedudukan melalui gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez di menit-menit akhir laga. Kemenangan 2-1 tersebut sukses mengantarkan Argentina ke partai final, sementara Inggris kembali harus mengubur mimpi juara mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Harry Kane Kritik Taktik Bertahan Inggris Penyebabkan Kekalahan Menyakitkan dari Argentina
-
Update Harga dan Buyback Emas Antam, UBS, Galeri 24 di Pegadaian
-
Ratusan Anak Penderita Kanker di Iran Terlantar Akibat Ledakan Rudal AS
-
BEI Ubah Aturan Main, 28% Kapitalisasi Pasar IHSG Kini dalam Pantauan Ketat
-
Santri Korban Pembakaran Akan Jalani Operasi Cangkok Kulit
-
OJK Limpahkan Tersangka Kasus Asuransi Jiwa Prolife ke Kejaksaan, Kerugian Capai Rp566,24 Miliar
-
Kasus Dena Karari, Warga AS Ditahan Sejak 2024 Kini Dibebaskan Iran
-
Inggris Tumbang, Argentina Bangkit Dramatis dan Tantang Spanyol di Final
-
Pasien Rumah Sakit Kanker Anak Dievakuasi karena Serangan Udara AS ke Pantai Selatan Iran
-
Pemerintah Mau Salurkan Bansos Lewat Kopdes Merah Putih, Gantikan Bank dan Pos?