Bri / News
Minggu, 08 Februari 2026 | 13:00 WIB
Warga di Desa Sausu Tambu tengah memanen buah coklat. (Dok: BRI)

Suara.com - Desa Sausu Tambu menunjukkan bagaimana potensi desa pesisir dapat berkembang menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Berbekal kekayaan sumber daya alam, keberagaman budaya, serta dukungan program Desa BRILiaN dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), desa ini terus berbenah membangun sektor pariwisata dan berbagai klaster usaha produktif.

Kepala Desa Sausu Tambu, Darusman, menjelaskan wilayah desanya memiliki luas sekitar 1.380 hektare dengan keberagaman budaya yang hidup berdampingan, yakni budaya masyarakat Kaili dan Hindu. Mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor perikanan dan pertanian, mulai dari petani sawah, kelapa, hingga kakao. Selain itu, desa ini juga memiliki destinasi wisata unggulan Karosondaya yang menjadi daya tarik wisatawan.

Darusman menyampaikan apresiasinya atas dukungan BRI yang membawa Desa Sausu Tambu masuk dalam program Desa BRILiaN. Ia mengungkapkan, desa tersebut bahkan berhasil masuk peringkat ke-9 dari 15 destinasi wisata desa terbaik di Indonesia.

"Dengan dukungan BRI, masyarakat sangat terbantu dalam berbagai aspek pengembangan desa," ujar Darusman.

Direktur BUMDes Karosondaya, Agus Koriyanto menuturkan sejumlah unit usaha telah dijalankan untuk mendorong perekonomian desa. Unit usaha tersebut meliputi layanan BRILink, wisata jembatan trekking, dermaga wisata, serta rencana pengelolaan kawasan wisata Tanjung ke depannya.

Ia menambahkan, dukungan BRI tidak hanya berupa pendanaan awal untuk pengembangan BRILink, tetapi juga bantuan fasilitas seperti pembangunan gapura dan spot foto yang memperkuat daya tarik wisata desa.

"Kami memiliki mimpi besar membangun sektor pariwisata melalui BUMDes agar mampu meningkatkan Pendapatan Asli Desa dan mengangkat kesejahteraan masyarakat," kata Agus.

Upaya pengembangan wisata desa juga melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Sausu Tambu menjelaskan, pengelolaan wisata dilakukan secara kolaboratif antara Pokdarwis, Pokmaswas, dan Kelompok Tani Hutan (KTH) yang berada di bawah naungan BUMDes.

Kerja sama tersebut tidak hanya menjaga kelestarian destinasi wisata, tetapi juga mengatur sistem pembagian pendapatan bagi masyarakat, termasuk nelayan lokal yang difasilitasi melalui penyediaan ponton sebagai sarana tambahan penghasilan.

Baca Juga: Modal Foto Makanan dan Dukungan LinkUMKM BRI, Bawa Yummy Craft di Kancah Global

"Pariwisata sangat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat dan lingkungan sekitar," ujarnya.

Selain pariwisata, sektor perkebunan kakao menjadi tulang punggung ekonomi warga. Ketua Klaster Cokelat, Tasman, mengatakan hampir seluruh masyarakat desa menanam kakao dengan berbagai varietas seperti 45, S2, dan BB02.

Menurutnya, keberadaan kakao membuka peluang kerja bagi masyarakat, termasuk warga yang tidak memiliki lahan, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat.

Sementara itu, sektor perikanan juga menjadi andalan masyarakat pesisir. Ketua Klaster Nelayan, Lahmudin, menceritakan aktivitas melaut yang dilakukan nelayan setempat, mulai dari nelayan pesisir hingga nelayan yang melaut hingga beberapa hari. Hasil tangkapan utama berupa ikan tongkol dan ikan lajang menjadi sumber penghasilan utama.

Potensi ekonomi desa juga diperkuat melalui pengembangan usaha kelapa. Ketua Klaster Kelapa, Moh Ibrahim, mengatakan usaha pengolahan kelapa awalnya dilakukan secara sederhana melalui produksi kopra. Namun kini, produk tersebut telah dipasarkan hingga ke luar daerah, termasuk Surabaya.

Ia mengakui layanan perbankan BRI, termasuk BRImo dan BRILink, sangat membantu pelaku usaha desa dalam melakukan transaksi keuangan tanpa harus datang langsung ke kantor bank.

Load More