Media itu juga menuslikan tentang pejabat kepolisian setempat mengatakan, kalau penggunaan gas air mata dibenarkan akibat adanya anarki. Namun para ahli pengendalian massa meninjau video rekonstruksi yang disediakan oleh The Post tak setuju.
Tanggapan polisi tersebut melanggar protokol Persatuan Sepak Bola Indonesia (FA), yang menyatakan kalau semua pertandingan sepakbola harus mematuhi ketentuan keamanan, yang ditetapkan FIFA, sebagai badan pengatur sepak bola dunia.
Secara tegas FIFA melarang gas air mata sebagai pengendali massa, digunakan dalam stadion. Tak hanya itu, FIFA juga memberikan amanat soal gerbang keluar dan pintu keluar darurat, suapay tidak terhalang setiap saat.
Video yang disediakan secara eksklusif menunjukkan bahwa, kepolisian usai pertandingan berakhair menembakkan 40 amunisi tidak mematikan, ke penggemar di lapangan atau di bagian tribun.
Sebagian besar gas air mata melayang menuju bagian tempat duduk, atau "tribun" nomor 11, 12 dan 13.
Kepolisian yang berdiri di depan seksi 13 bahkan menembakkan gas air mata ke lapangan dan naik ke tribun. Mendorong ribuan penonton supaya mengungsi dari tempat duduk mereka. Hal itu berdasarkan dari video yang telah beredar.
Menurut saksi mata, pemicu yang menjadi kemacetan suporter Arema di pintu keluar, yang hanya cukup lebar untuk dilewati satu atau dua secara sekaligus.
Usai insiden itu, sembilan petugas dan Kapolres Malang diberhentikan dari jabatannya, karena dianggap peran mereka dalam bencana tersebut. Sementara 18 orang lainnya sedang dilakukan pemeriksaan.
Kemudian seorang Profesor dari Universitas Keele di Inggris bernama Clifford Stott, turut mempelajari video soal situasi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan.
Baca Juga: Akhirnya King Nassar dan Dewi Perssik Buka Suara Tentang Tangisan Lesti Kejora
Dirinya menuturkan, kalau apa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, adalah akibat langsung dari tindakan kepolisian yang dikombinasikan dengan manajemen stadion yang buruk.
Bersama pakar, pengandalian massa lainnya termasuk empat pembela hak-hak sipil dikatakan kalau penggunaan gas air mata oleh polisi tidak profesional.
"Menembakkan gas air mata ke tribun penonton saat gerbang terkunci kemungkinan besar tidak akan menghasilkan apa-apa selain korban jiwa dalam jumlah besar. Dan itulah yang terjadi," kata Stott.
Sumber: Suara.com
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.700 per Dolar, Pengamat Ungkap Faktor Penentu
-
Harga Emas Antam Melonjak Lagi, Tembus Rp 2,8 Juta/Gram
-
Perang AS-Iran 'Libur', Kini Rudal Hipersonik Rusia Hantam Kyiv
-
Suku Bunga BI Naik, Cicilan Utang Jadi Lebih Mahal? Cek Simulasi Terbarunya
-
Akademisi Soroti Gaya Komunikasi Gubernur Kaltim Batasi Wawancara Isu Sensitif
-
Gubernur Khofifah Gelar Pasar Murah di Kota Kediri, Sediakan Sembako Murah Jelang Iduladha
-
Senin Pagi Mencekam di Klender: Tawuran Bersenjata Busur Panah Pecah di Tengah Jam Sibuk
-
Setelah Dijewer Dony Oskaria, PTPN Baru Bebaskan Kakek Mujiran
-
Lupa Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah pada Malam Hari, Bolehkah Diganti Siang Hari?
-
Ahli Ungkap Alasan Pemulihan Listrik Sumatra Tak Bisa Instan