SuaraCianjur.id- Berbicara soal penyimpangan dalam berhubungan seks bersama pasangan dijelaskan oleh pakar Seksolog Zoya Amirin.
Saat ini fetish kerap disorot usai video mesum kebaya merah membuat geger publik.
Terutama bagi pasangan yang sudah meminta aneh-aneh yang berkaitan dengan fetish ketika sedang melakukan fase foreplay. Bagi mereka yang memiliki fetish akan terangsang pada bagian tubuh non seksual.
Seseorang yang mengidap fetish bisa terangsang ketika melihat apapun yang menjadi khayalannya.
Menanggapi fenomena ini Zoya Amirin dalam YouTube pribadinya mengungkapkan, selama fetish itu tidak menyekiti diri sendiri atau hingga mengancam nyawa dan melanggar Undang-Undang bisa dilakukan atau dicoba.
"Kebanyakan fetish itu tidak memaksa kok dan tidak kekerasan," terang Zoya Amirin dikutip Minggu (13/11/2022).
Zoya Amirin turut menjelaskan terkait dengan fetish. Lebih baik ketika pasangan memiliki fetish ada baiknya untuk mendiskusikannya dahulu.
Dirinya menilai seseorang tidak bisa megeneralisir soal semua tindakan nyeleneh, sebagai tindakan penyimpangan dalam berhubungan seksual. Harus ada diagnosa dulu terhadap masing-masing individu.
Secara umum memang terdapat banyak penyimpangan terhadap seksual disorder yang bisa dialami seseorang. Termasuk dalam kategori fetish.
Baca Juga: Ternyata Ini Faktanya Soal Geger Bocah Katanya Mau Disunat Sama Jin
"Ada banyak penyimpangan seperti Paraphilia, Eksibisionis, BDSM, sadomasokis, pedofil, hingga Fetish. Fetish masuk dalam kategori Paraphilia," jelas Zoya Amirin.
Paraphilia dikatakan oleh Zoya Amirin adalah sebuah perilaku seksual menyimpang menurut DSM V atau Diagnostic Statistical Manual for Mental Disorder V.
Fetish adalah bagian Paraphilia, karena seseorang akan merasa terangsang pada bagian tubuh non seksual, selain dari alat vital pasangannya.
Saran dari Zoya Amirin jika merasa memiliki fetish yang membahayakan ada baiknya untuk melakukan komunikasi dengan pasangan terlebih dahulu, agar tidak terjadi masalah dalma hubungan rumah tangga.
Namun jika hal itu dirasa tidak cukup, maka berkonsultasi dengan psikolog harus ditempuh.
Sebagai informasi tambahan, dr Alviana menjelaskan, fetishism bisa terjadi pada seseorang dilatarbelakangi beberapa hal. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
10 Koperasi Merah Putih di Kolaka Ingin Putus Rantai Tengkulak
-
4 Trik Memperbaiki Kipas Angin Tidak Berputar Tanpa Bantuan Tukang Servis
-
5 Cushion untuk Menyamarkan Pori-Pori Besar agar Makeup Lebih Mulus
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Dari Pupuk ke Klinik Desa, KDMP Tamanmartani Buktikan Koperasi Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Warga
-
Jokowi Mulai Safari Politik, PAN Merasa Tak Terancam: Kami Tunggu PSI Lolos ke Senayan
-
Jelang Dieng Culture Festival 2026, Pengelola Homestay Diingatkan Jangan Naikkan Tarif Berlebihan
-
Angelina Jolie Akui Belum Berkencan sejak Cerai, Ingin Fokus Urus Hal Ini
-
Dibalik Angkernya Tanah Sengketa: Benarkah Terinspirasi dari Tragedi Nyata yang Ditutupi?
-
Modus Pura-pura Check-in Hotel, Komplotan Curanmor Gasak Motor CRF di Parkiran