/
Kamis, 16 Februari 2023 | 11:36 WIB
Presiden Indonesia, Joko Widodo (Biro Pers Sektretariat Presiden)

SuaraCianjur.Id- Presiden Joko Widodo memperingatkan tentang meningkatnya frekuensi bencana di Indonesia.

Menurutnya, frekuensi bencana di Indonesia meningkat drastis. Hal yang sama juga terjadi di seluruh dunia, di mana frekuensi bencana telah meningkat 5 kali lipat selama 50 tahun terakhir.

Pernyataan ini disampaikan Jokowi saat memberikan pidato di Rapat Kerja Basarnas Tahun 2023, pada Kamis (16/2/2023).

"Harap berhati-hati, frekuensi bencana di Indonesia juga mengalami peningkatan yang drastis, yaitu naik 81 persen dari tahun 2010, yang pada saat itu tercatat sebanyak 1.945 kasus, dan meningkat menjadi 3.542 kasus pada tahun 2022 lalu. Kenaikan ini terjadi dalam 12 tahun terakhir," kata Jokowi seperti dikutip melalui akun YouTube Sekretariat Presiden.

Meskipun demikian, Kepala Negara berharap agar tidak ada bencana yang melanda masyarakat Indonesia ke depannya, baik itu bencana alam maupun kecelakaan yang melibatkan banyak orang. 

Contoh dari bencana yang dimaksudkan adalah jatuhnya pesawat Air Asia di perairan Belitung pada tahun 2014, jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ 182 di Kepulauan Seribu, dan tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun di Danau Toba pada tahun 2018.

Presiden kemudian memuji kinerja Basarnas dalam melakukan evakuasi yang cepat. "Saya mengikuti semuanya dan beberapa di antaranya saya lihat langsung di lapangan, kecepatan tanggapannya luar biasa," ujarnya.

Menurut Jokowi, kecepatan itu penting karena menjadi harapan bagi korban dan keluarga korban. "Karena memang harapan korban dan keluarga korban bertumpu pada tim SAR, kecepatan evakuasi untuk menentukan jumlah nyawa yang diselamatkan juga berada di tangan tim SAR."

Baca Juga: Pesan Mantan Pengacara untuk Richard Eliezer: Santai Aja di Penjara

Load More