Deli.Suara.com – Sebuah unggahan di Twitter dari seorang pengguna @nuicemedia menunjukkan dugaan kebocoran data yang melibatkan lebih dari 21 ribu perusahaan Indonesia dan perusahaan asing dengan ukuran 374 gigabyte.
Dugaan kebocoran data ini menyusul unggahan di darkweb oleh akun bernama toshikana yang menjual dokumen penting seperti laporan keuangan seharga 50 ribu US dolar atau sekitar Rp743 juta.
Salah satu pihak perusahaan yang dibocorkan datanya mengaku “kaget” dan mendesak pemerintah untuk memperbaiki sistem pengelolaan data.
Sementara itu, pengamat keamanan siber menyebut kebocoran data ini menjadi momentum pemerintah untuk mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
Di sisi lain, pemerintah mengatakan masih menyelidiki dugaan kebocoran data ini.
Isi data rahasia yang dijual melalui darkweb diklaim termasuk KTP, NPWP direksi dan komisaris perusahaan, Kartu Keluarga pemilik saham, laporan keuangan, catatan transfer, rekening koran, sampai SPT tahunan.
Daftar 21 ribu perusahaan dibagikan peretas. Dari daftar perusahaan ini setidaknya terdapat perusahaan asuransi, pertambangan, konsultan hukum, koperasi, perkebunan, farmasi, logistik, properti, ekspor-impor, garmen, kerajinan tangan, transportasi, sampai konstruksi.
Bukan hanya itu, dalam daftar tersebut juga terdapat sejumlah yayasan, universitas ternama di Indonesia sampai rumah sakit.
Toshikana mempublikasikan sejumlah sampel data penting, dari perusahaan yang memiliki pendapatan di atas Rp700 miliar maupun di bawah nilai tersebut. BBC melihat salinan NPWP sepuluh perusahaan besar yang sebagian nomor kartunya telah disensor.
Baca Juga: Pemerhati Politik: Puan Maharani Wewakili Perempuan di Pilpres 2024
Sementara, sampel sebanyak 21 perusahaan menengah ke bawah berisi data rinci berupa salinan KTP pemegang saham, KTP direksi, tanda tangan direktur/wakil direktur, kontrak kerja sama perusahaan, SPT Pajak, rekening koran, akta perusahaan, surat izin usaha perdagangan, KTP pengurus perusahaan, dan lain sebagainya.
BBC mengkonfirmasi salah satu perusahaan sampel yang dibocorkan oleh peretas, yaitu CV Kharisma Sejahtera.
Manajer Operasional CV Kharisma Sejahtera, Mundiyono tidak menyangkal sejumlah konfirmasi detail tentang data perusahaan yang dibocorkan, seperti nama direktur utama, tempat tanggal lahir, sampai tahun akta pendirian perusahaan.
“Jelas kita kaget,” katanya.
Ia juga mengaku tidak pernah memberikan data secara rinci kemana pun, selain ke sebuah institusi pemerintah yang mengurus soal kegiatan usaha minyak dan gas bumi.
“Khawatirnya, ada orang yang menggunakan ini untuk mengikuti suatu tender, atau digunakan untuk yang lain. Ini jadi alat penipuan. Pemerintah harus jauh lebih tanggap harus lebih aktif harus lebih di update lagi sistem pengamannya seharusnya,” tambah Mundiyono.
Kebocoran ini ikut memicu kemarahan warganet. Seperti yang diungkap akun @spaxeman yang meminta pemerintah untuk fokus pada keamanan data.
Damar Juniarto dari SAFE Net, lembaga yang selama ini fokus pada isu perlindungan data juga merespon dugaan kebocoran data ini.
Sebagian warganet lain juga mengaku kecewa namun tidak terkejut. Sejumlah pengguna akun Twitter ini juga menyinggung persoalan Penyelenggaraan Sistem Elektronik (PSE) yang kontroversial.
Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya dari Vaksincom mengatakan kemungkinan peretasan data sensitif ini menggunakan pola zero day exploit.
Peretas memanfaatkan kelemahan sistem yang tidak diketahui oleh pihak pengembang perangkat lunak dan kemudian masuk ke jaringan server untuk mengambil seluruh data. Biasanya peretasan berlangsung cepat dan masif.
“Jadi eksploitasi itu mau server apa pun, sesakti apa pun, jangankan di Indonesia, seluruh dunia itu pasti jebol. Tapi yang lucu kenapa cuma perusahaan di Indonesia,” tambahnya.
Kemungkinan kedua, peretas memanfaatkan kelalaian dari instansi atau perusahaan yang menyimpan data-datanya dalam satu layanan awan (cloud).
“Kalau bocor, peretasnya tinggal copy (salin) semua,” katanya.
Dalam cuitannya, @nuicemedia juga membagikan foto dari darkweb mengenai penjualan data 17 juta pelanggan PLN yang diunggah oleh akun loliyta.
“Saya menjual data PLN sebanyak 17 juta yang berisi dengan nomor ID, KTP pelanggan, nama pelanggan, jenis listrik, KWh, alamat, nomor meteran, jenis meteran dan lain-lain,” tulis akun tersebut.
Menurut Alfons, dugaan kebocoran data PLN ini merupakan masalah lebih penting, karena datanya sudah sangat spesifik. “Nah itu jeroannya. Itu masalah,” tegasnya.
Ia menambahkan, dugaan kebocoran data ini semestinya disikapi pemerintah dengan mempertimbangkan segera mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
“Jadi, UU PDP, dia ada sanksi yang keras dan jelas kepada pengelola data, hingga terjadi kebocoran data, dan mengharuskan pengelola data mengikuti standar,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah mengatakan masih mendalami dugaan kebocoran data baik dari 21 ribu perusahaan maupun 17 juta data PLN.
“Setelah mendapatkan berita itu, kami langsung melakukan pengecekan. Jadi saat ini Kominfo sedang mendalami terkait dugaan kebocoran data itu, dan nanti akan kami sampaikan jika sudah ada hasil atau temuan sementara dari dugaan kebocoran data itu,” ucap Juru Bicara Kominfo, Dedy Permadi.
Laporan kebocoran data ini bukan pertama kali. Sebelumnya dugaan kebocoran data juga terjadi terhadap 279 juta data peserta BPJS Kesehatan, platform eHac, KPU, sampai platform perdagangan elektronik.
Sumber: Suara.com
Berita Terkait
-
Kebocoran Data PLN-Indihome, Pengamat: RUU PDP Mesti Diselesaikan Segera
-
Dalam 2 Hari, Publik Dikejutkan dengan Bocornya Data Pribadi Pelanggan Indihome dan PLN
-
Jutaan Data Indihome Bocor Bikin Warganet Murka Hingga Trending Topic di Twitter
-
PLN Bakal Sambungkan Sistem Kelistrikan Kaltim-Kaltara, Bisa Hemat Rp 11,47 Miliar
-
Kominfo Panggil Manajemen PLN soal Dugaan Kebocoran Data 17 Juta Pelanggan
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Sinopsis Drive, Sajikan Teror Live Streaming Tak Terduga
-
BKSDA Sumbar Kembali Bongkar Jaringan Perdagangan Tapir di Pasaman, 2 Pelaku Ditangkap
-
Simpel dan Kaya Khasiat, Ini Menu Takjil Unik dari Kurma
-
5 Model Gamis Remaja Korean Style yang Lagi Hits, Lebaran Jadi Makin Chic
-
Miralem Pjanic Desak Juventus Rekrut Bernardo Silva Jika Gagal Dapatkan Tonali
-
MTF Market 'Fasting Forward', Ada Cashback 50 Persen dan Hadiah Menarik dari Transaksi QRIS
-
WN Malaysia Dideportasi Imigrasi Ponorogo Ulah Overstay 15 Tahun, Ibunya WNI
-
55 Kartu Ucapan Lebaran 2026 Kekinian, Siap Dikirim ke Teman dan Keluarga
-
5 Alasan The King's Warden Meledak di Box Office Korea, 9 Juta Penonton dalam 27 Hari
-
Purbaya Umumkan Daftar 20 Calon Anggota Dewan Komisioner OJK, Tak Ada Suahasil-Misbakhun