/
Sabtu, 03 September 2022 | 12:42 WIB
museum pusaka karo (museum.co.id)

Ada beberapa dan mungkin kebanyakkan para pelancong atau wisatawan yang datang ke kota Berastagi yang dikenal sebagai kota wisata itu akan bertanya: apa yang menarik disana? Dimana itu tempat-tempat wisata tersohornya? Atau kemanakah kaki ini harus dipijakkan ke tempat yang tepat sebagai objek wisata? Ke Bukit Gundaling kah? Belanja di pasar buah kah? Atau hanya sekedar naik sado kuda dll.

Mungkin juga kebanyakan dari mereka yang datang ke Berastagi, Sumatera Utara,  masih banyak yang tidak tahu tempat yang baru stock lama ini. Museum Pusaka Karo yang memang tidak setenar objek lainnya di kota Berastagi. Museum yang berlokasi di Jalan Perwira no. 3 hanya berjarak 50 meter dari pasar buah Berastagi, Kabupaten Karo.

Tampak dari gedung fisiknya saja orang-orang akan menyangka bahwa itu adalah gedung gereja berpagarkan sepasang penari, berdindingkan relief gerga Karo dan Gundala-gundala. Tapi ternyata dari penampilan fisik Musem itupun akhirnya berhasil menimbulkan rasa penasaran orang-orang yang melintas dihadapannya. Dan akhirnya memutuskan untuk menyelidiki isi dari dalam gedung eks Gereja Katolik tersebut.

Ruangan yang tidak begitu luas, dimulai dari lantai satu sampai lantai kedua, secara keseluruhan benda-benda pusaka yang berjumlah lebih dari 800 benda ditata dengan rapi dan dipajang disetiap sudutnya. Ditambah lagi dengan ukiran-ukiran gerga Karo di setiap tiang bangunan dan dindingnya yang menambah nuansa Karo jaman “Old” semakin terasa.

Kunjungan demi kunjungan hampir tidak pernah putus setiap harinya. Dihitung sejak diresmikan oleh Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, Ahman Sya dan Uskup Agung Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM.Cap pada 9 Februari 2013, sudah ada sebanyak 20.600 kali kunjungan yang terdaftar di buku tamu museum ini. Pengunjung yang datang relatif banyak baik dari kalangan pelajar sekolah/mahasiwa dan masyarakat Karo sendiri dan bahkan daya tarik gedung eks. Gereja Katolik ini yang berusia lebih dari 50 tahun juga berhasil mengundang para turis-turis mancanegara, khususnya turis dari benua Eropah.

Akan tetapi siapakah “dalang” dibalik berdirinya Museum Pusaka Karo yang berada dibawah naungan Keuskupan Agung Medan ini?

Berawal dari ide atau gagasan seorang misionaris Belanda bernama Leonardus Joosten Edigius yang lebih dikenal sebagai Pastor Leo Joosten Ginting OFM.Cap (Pastor Pembangunan). Terpanggil untuk mengemban tugas melaksanakan upaya melestarikan nilai-nilai budaya Karo, mengingat tugas Gereja yang luhur dalam menjunjung tinggi nilai-nilai budaya semua bangsa dan suku di dunia ini, sebagaimana dirumuskan oleh Konsili Vatikan II dalam Sacrosanctum Concilium nomor 37 dan Konsili Gaudium et Spes nomor 53-62. 

Para sahabat beliau ini yang berada di Taneh Karo sekitarnya dikumpulkan untuk berbagi suatu “kegelisahan” dan “kekhawatiran” dirinya akan masa-masa mendatang dimana generasi muda saat ini sudah semakin melupakan sejarah dan budayanya sendiri. Mulai dari hal kecil seperti Bahasa daerah yang hampir sudah tidak pernah dipakai lagi, khususnya di kota-kota besar. Bahkan di kampung-kampung Karo yang mulai maju, anak-anak di usia remaja sudah tidak berbahasa Karo lagi dalam berkomunikasi antar sesama dan dalam berdialog didalam keluarga. Ini menjadi suatu keprihatinan bagi Pastor yang sudah tinggal menetap di Indonesia selama 45 tahun ini.

Akhirnya beliau memiliki ide dari membuat kamus sampai berpikir untuk membangun satu pusat studi Karo di Tanah Karo. Beliau meminta saran dari Uskup Pius Datubara saat itu masih menjabat sebagai Uskup Agung Medan dan memberikan ijin di wilayah Paroki Berastagi. Maka muncullah ide yang brilian agar gedung gereja lama disulap menjadi Museum.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumut Sabtu 3 September: Medan, Karo, Binjai Diguyur Hujan

Proses Desakralisasi pun dibuat khusus untuk gedung gereja lama ini. Perlahan tapi pasti, dengan semangat yang membara pastor Leo pelan-pelan menghimbau para sahabatnya agar mau mengumpulkan semua benda-benda yang tergolong dalam pusaka Karo atau yang masih ada disimpan dan diserahkan secara sukarela ke Museum sebagai koleksi perdana yang akan dipamerkan dan dijaga serta dilestarikan, berikut kumpulan ratusan foto “tempo doeloe” yang sudah diketemukan dari berbagai sumber buku dan atas ijin dari TropenMuseum Amsterdam dalam hal publikasi foto-foto “jadul” tersebut.

Lebih jauh tentang museum ini, sebagaimana tertuang dalam akte pendiriannya yang dibuat pada kantor notaris Fransiska Br. Bangun, SH. M.Kn dan didaftarkan pada kantor Pengadilan Negeri Kabanjahe, museum ini dikelola oleh YAYASAN PUSAKA KARO. Yayasan yang ditetapkan berdasarkan surat keputusan Keuskupan Agung Medan per tanggal 1 Juni 2017.

Museum Pusaka Karo sebagaimana menurut fungsi pengertian umum dari Museum yang berfungsi mengumpulkan, merawat, dan menyajikan serta melestarikan warisan budaya masyarakat Karo untuk tetap abadi dengan keagungannya yang sarat nilai akan kebaikan dan dapat memberi sumbangsih pada pembangunan manusia Karo khususnya, manusia Indonesia dan sekaligus peradaban dunia pd umumnya, juga sebagai sarana penbelitian, edukasi. dan rekreasi.

Di samping itu sesungguhnya Museum ini merupakan karya dan bakti orang Karo itu sendiri, orang-orang yang peduli akan budaya dan sejarah Karo. Itu tampak pada saat Pastor Leo dan kawan-kawannya dalam pengumpulan barang-barang Pusaka Karo yang dikumpulkan dari kampung ke kampung, dan dari pendekatan langsung kepada umat Katolik di stasi-stasi yang menuai hasil yang baik. Semua benda yang terkumpulkan berhasil ditempatkan ke dalam gedung museum tanpa pungutan biaya dan paksaan. Semua benda ini dikumpulkan hanya berdasarkan hibah atau sumbangan dan juga ada  barang-barang pusaka titipan. 

Melalui Pastor Leo yang menumbuhkan rasa percaya masyarakat Karo khususnya umat Katolik di Paroki-paroki yang ada di Tanah Karo, maka berhasillah berdiri satu Museum yang amat berharga di Kota Berastagi. Dari proses berdirinya museum ini juga dapat dikatakan suatu kerasulan yang indah. Dimana ada banyak kesempatan dan peran gereja menyediakan wadah sebagai sarana dan tempat kita untuk memuliakan Tuhan salah satunya melalui penghargaan terhadap kebudayaan lokal dan sejarahnya. 

Untuk perawatan dan biaya operasional museum saat ini masih mengandalkan bantuan para penderma atau donator. Kendatipun biaya restribusi masuk dikenakan relatif murah, tidak menutup harapan museum ini kelak akan berdiri dibawah payung pemerintah yang sudah seyogianya turut membantu dan memeliharanya bersama-sama. 

Pastor Leo Joosten sebagai pendiri Museum Pusaka Karo pernah berkata bawa misi museum ini semata-mata hanya untuk mengenalkan budaya Karo kepada khalayak ramai dan sebisa mungkin dijaga serta dilestarikan. Bagaimana kita melakukan itu semua, hanya dengan singgah dan berkunjung saja kita sudah melakukannya.  

(Kriswanto Ginting, Kurator Museum Pusaka Karo)

Load More