News / Nasional
Minggu, 22 Februari 2026 | 17:50 WIB
Tim gabungan BB KSDA Riau melakukan proses nekropsi terhadap seekor gajah jantan liar yang ditemukan mati dengan kondisi kepala dipotong. ANTARA/HO-BB KSDA Riau
Baca 10 detik
  • Seekor gajah Sumatera ditemukan mati pada 2 Februari 2026 di area konsesi PT RAPP, Kabupaten Pelalawan, Riau, setelah ditemukan membusuk.
  • Hasil nekropsi menunjukkan gajah mati karena ditembak di dahi, dan bagian kepala serta belalai dipotong untuk mengambil gading.
  • Penyelidikan intensif oleh Polda Riau menemukan proyektil mengandung timbal; hingga 19 Februari 2026, 40 saksi telah diperiksa.

Suara.com - Kematian gajah seakan telah menjadi siklus di Provinsi Riau. Data menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir, pada 2023 terdapat empat ekor gajah yang mati, tahun 2024 tercatat ada dua ekor, dan tahun sebelumnya sebanyak tiga ekor.

Fenomena miris ini memunculkan keprihatinan mendalam karena seolah tiada tahun tanpa kematian gajah di Bumi Lancang Kuning.

Memasuki tahun 2026, siklus kematian tersebut kembali terulang di awal tahun. Seekor gajah liar ditemukan mati pada Senin, 2 Februari 2026, di areal konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Distrik Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.

Kematian satwa raksasa ini diperkirakan terjadi 10 hari sebelum ditemukan, yang berarti peristiwa tragis ini terjadi pada Januari 2026.

Peristiwa ini mulai diketahui publik secara luas pada Kamis, 5 Februari 2026, saat Kepolisian Resor Pelalawan merilis hasil penyelidikan awal. Bangkai gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang saksi bernama Winarno yang mencium bau busuk dari dalam hutan.

Setelah melaporkan temuan tersebut kepada pihak keamanan, Polres Pelalawan bersama tim gabungan segera melakukan nekropsi atau prosedur bedah bangkai hewan pada hari berikutnya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Pelalawan, AKP I Gede Yoga Eka Pranata, mengonfirmasi bahwa olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan saksi-saksi telah dilakukan.

Proses ini melibatkan Direktorat Reserse Kriminal Khusus dan Bidang Laboratorium Forensik Kepolisian Daerah Riau, Polisi Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta pihak perusahaan. Tim Bidlabfor Polda Riau juga mengambil sampel tanah di sekitar lokasi untuk diuji di laboratorium guna mendukung proses penyelidikan lebih lanjut.

Kondisi gajah saat ditemukan sangat mengenaskan. Satwa dilindungi tersebut berada dalam posisi duduk dengan bagian kepala yang terpotong. Dokter hewan BBKSDA Riau, drh Rini Deswita, mengungkapkan hasil pemeriksaan lapangan yang menunjukkan adanya tindakan kekerasan yang disengaja.

Baca Juga: Terekam Kamera Trap, 5 Pemburu Macan Tutul Jawa di Gunung Sanggabuana Diringkus, Satwa Pincang

"Gajah ditembak di bagian dahi. Proyektil masih berada di tengkorak, dan tengkorak masih menyatu dengan leher," ujar Rini, sebagaimana dilansir Antara, Jumat (6/2) lalu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, bagian depan kepala gajah yang meliputi dahi, mata, hidung, dan gading telah hilang karena dipotong menggunakan senjata tajam.

Belalai gajah juga ditemukan dalam kondisi terpisah dari tubuh utama. Tim medis menduga kuat pelaku memotong setengah bagian kepala tersebut untuk mengambil gading yang diperkirakan memiliki panjang lebih dari satu meter.

"Jadi sebenarnya bukan kepala yang hilang, tetapi dipotong setengah bagian menggunakan senjata tajam untuk mengambil gading," jelasnya.

Gajah yang menjadi korban ini memiliki panjang badan sekitar 286 sentimeter dan diperkirakan berumur lebih dari 40 tahun. Satwa ini diidentifikasi sebagai bagian dari kelompok kantong gajah Tesso Tenggara.

Karena kondisi bangkai yang sudah membusuk lebih dari 10 hari, tim memutuskan untuk menguburkan bangkai gajah tersebut di lokasi setelah seluruh data dan sampel pemeriksaan terkumpul.

Load More