/
Rabu, 19 Oktober 2022 | 19:05 WIB
Bencana alam di Bali

Deli.suara.com – Menjelang akhir tahun 2022, hampir seluruh wilayah di Indonesia terguyur hujan deras, dan tak sedikit juga yang mengalami banjir atau pun longsor. Salah satu wilayah yang baru-baru ini terkena bencana banjir bandang dan longsor adalah Bali—pulau dewata yang banyak disukai turis.

Tak hanya Jakarta yang kerap terkena banjir, sejumlah wilayah di Bali juga terkena musibah karena hujan deras yang mengguyur beberapa wilayah. Hujan deras ini menyebabkan banjir dan longsor di Ubud, Gianyar Bali kemarin, Selasa (18/10/2022).

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi Bali menuding, bencana yang terjadi di daerah tersebut disebabkan karena adanya alih fungsi lahan yang massif. Berbagai proyek infrastruktur dibangun tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan.

“Alih fungsi lahan terjadi sangat signifikan yang disebabkan oleh pembangunan infrastruktur yang atraktif,” ucap Direktur Eksekutif Walhi Bali Made Krisna Dinata, Rabu (19/10/2022).

Made Krisna Dianata turut mengkritik sejumlah proyek yang memiliki andil besar pada alih fungsi lahan, dan salah satu proyek yang dimaksud adalah proyek jalan tol Gilimanuk-Mengwi. Ia mengatakan, proyek ini menghilangkan 98 titik irigasi yang jelas saja menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan budaya Bali.

“Banyak lahan dikonversi menjadi infrastruktur, sehingga merubah bentang alam yang ada,” tutur Krisna terkait bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah wilayah Bali.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Gianyar, I Gusti Ngurah Dibya Presasta juga turut mengungkapkan bahwa bencana yang terjadi ini juga menyebabkan jebolnya sandaran jalan di Jalan Raya Ubud depan SMP 01 Ubud.

Akibat dari jebolnya sandaran ini, satu mobil tertimpa longsoran tanah hingga menimbulkan kemacetan. Hashtag #PrayforBali mulai trending sejak kemarin Selasa (18/10/2022) di media sosial Twitter akibat bencana yang melanda wilayah ini.

Tak hanya di wilayah Ubud, Bali, banjir bandang juga menyerang kawasan pedesaan di Jembrana, Bali. 

Baca Juga: Serupa Tapi Tidak Sama, Ini Perbedaan Demam Berdarah dan Chikungunya!

“Jadi, adanya bencana akhir-akhir ini yang sangat besar menimpa Jembrana dan Karangasem itu. Menurut hemat kami, ditengarai adalah alih fungsi lahan yang signifikan, yang disebabkan oleh salah satunya adalah pembangunan infrastruktur yang atraktif terhadap lingkungan,” papar Made Krisna Dianata di kantor Walhi Bali yang ada di Denpasar, Selasa (18/10/2022).

Dilansir dari Antara, Kepala BPBD Bali, I Made Rentin juga mengungkapkan peristiwa ini menyebabkan enam orang meninggal dunia, Senin (17/10/2022).

“Total meninggal dunia enam orang. Ada tiga orang di Kabupaten Karangasem, satu orang di Bangli, satu orang di Tabanan, dan satu orang di Jembrana,” jelasnya.

Load More