Suara Denpasar – Apakah video di Youtube Kang Dedi Mulyadi asli atau settingan menjadi pertanyaan banyak orang. Apalagi, di stasiun televisi pernah ada acara realitas yang ternyata settingan atau rekayasa, contohnya program Termehek-Mehek. Di sisi lain, Dedi Mulyadi adalah politikus yang saat ini jadi anggota DPR yang kerap dicurigai melakukan kebaikan sebagai pencitraan. Lantas apa jawaba Kang Dedi Mulyadi?
Saat ini jumlah subscriber kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel sudah mencapai 3,88 juta. Dengan jumlah subscriber sebanyak itu, maka mengalahkan Youtube anggota DPR lain, termasuk yang dari kalangan artis sekalipun.
Yang menarik adalah jumlah tayangan dari Youtube-nya sudah menembus 1 miliar lebih. Dilihat dari Social Blade, jumlah tayangan dari Youtube Kang Dedi Mulyadi sampai 1 Oktober 2022 mencapai 1.002.310.254.
“Bagi saya ini sebuah kebahagiaan. Dengan tiga juta subscriber, sekarang kinerja saya mendapat respons positif,” kata Dedi Mulyadi saat Purwakarta, Jawa Barat, dikutip dari Antara ketika subscribernya sudah mencapai 3 juta pada 21 Januari 2022.
Akun YouTube Kang Dedi Mulyadi sudah dibuat sejak 17 November 2017. Akan tetapi, Dedi Mulyadi mengaku baru aktif mengunggah aktivitasnya ke channel Youtube sekitar awal Januari 2020 setelah ia menjadi anggota DPR RI sejak 1 Oktober 2019.
Dilihat dari Nox Influencer, channel Youtube Kang Dedi Mulyadi meraih subscriber 1 juta pada 2 April 2021. Kemudian pada 18 Oktober 2021 meraih 2 juta subscriber.
Sampai 1 Oktober 2022, jumlah video yang sudah dia unggah sebanyak 2.388. Video yang paling banyak penontonnya adalah yang berjudul “KANG DEDI NGAMUK KAYA HARIMAU KEHILANGAN ANAKNYA | SAAT BERTEMU DGN PETUGAS PENDAMPING & KETUA LMDH”.
Video itu sudah ditonton 7,47 juta sejak dipublikasikan pada 11 Agustus 2021. Video ini adalah terkait aduan warga tentang alih fungsi hutan bambu menjadi kebun pisang.
Dedi Mulyadi menyadari, citra anggota DPR kerap buruk di mata publik. Dia berharap dengan mengunggah aktivitasnya, bisa mengubah citra buruk politikus, termasuk anggota DPR.
Baca Juga: Jelang Sidang Cerai, Kang Dedi Mulyadi dan Ambu Anne Banjir Doa
Kang Dedi menyatakan bahwa video yang dia unggah merupakan peristiwa asli, tanpa pencitraan, gimmick, atau settingan. Dalam arti, video yang dia publikasikan merupakan sebuah realitas, tanpa settingan. Yakni aktivitasnya sehari-hari yang direkam.
“Jadi kalau ada orang yang bilang buat konten, saya mah tidak pernah bikin konten, yang ada hanyalah perjalanan yang direkam oleh kamera kemudian diposting,” jelas suami dari Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika.
Dia mensyukuri, adanya media sosial justru bisa memudahkan politikus atau pejabat publik membagikan kegiatan yang dia lakukan. Sehingga kinerja mereka bisa dilihat langsung oleh masyarakat.
“Kita sebagai pejabat publik kalau tidak mempublikasikan apa yang dilakukan nanti disangka dianggap tidak ada kerjaan,” katanya.
Walau begitu, dia memaklumi bila masih ada yang menganggap apa yang dia lakukan sebagai pencitraan. Dia mengatakan, pejabat publik memang harus menunjukkan citra baik dan konsisten. Akan tetapi, citra baik itu bukan pencitraan atau settingan hanya ada di depan publik atau kamera. Melainkan citra baik ada atau tanpa kamera.
“Bukan pura-pura atau dadakan, ada kamera pura-pura pungut sampah, ada kamera pura-pura peluk orang miskin, di depan kamera empatinya tinggi, bukan itu. Tapi ada kamera atau tidak, ya, tetap kita melakukan apa yang menjadi tradisi hidup kita,” jelas pria yang kini sedang digugat cerai istrinya ini.
Citra baik ini, kata dia, pada akhirnya akan terbangun dan tersampaikan dari mulut ke mulut. Dia menyebut, dalam ahasa Sunda, istilahnya "sabiwir hiji" yang artinya menjadi satu cerita tokoh yang diceritakan banyak orang.
“Itu dalam ilmu politik sekarang disebut popularitas,” jelas bapak tiga anak ini.
Bahkan, bukan hanya bisa mempublikasikan aktivitasnya kepada publik, melalui media sosial ini ternyata juga bisa menghasilkan pendapatan. Dari Social Blade, perkiraan pendapatan Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel mencapai Rp25,5 miliar per tahun. (*)
Tag
Berita Terkait
-
Saat Kang Dedi Mulyadi Temui Kisah Nyata, Mertua Bobotoh Persib Bandung, Menantu Jak Mania, Adem
-
Kang Dedi Mulyadi Bukan Hanya Ditempel Emak-emak, Juga Digeruduk Puluhan Anak-anak, 'Yuk Ngaji Lagi'
-
Momen Mobil Mewah Kang Dedi Mulyadi Seharga Rp1 Miliar Direlakan Angkut Sekarung Rumput Warga
-
Dedi Mulyadi Tak Tahu Nomor Sepatu Istri, Bupati Anne: Parah, Saya Tahu Nomor Celana Dalamnya
-
Kang Dedi Mulyadi Diminta Bujuk Istri dan Cabut Gugatan Perceraian, 'Gak Tega Lihatnya Pak'
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Indonesia Masuk 6 Negara dengan Obesitas Rendah di Dunia, Apa Rahasianya?
-
Karhutla Makin Ganas, Anggaran Pencegahan Kalah dari Belanja Rutin Daerah
-
5 Alasan Pengurusan Izin Usaha Sebaiknya Diserahkan ke Jasa Profesional
-
KAI Siapkan Stasiun Manggarai Jadi Pusat Mobilitas Jakarta
-
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Kisah Baru Elise dengan Teror Seram
-
Menepi Sejenak di Bintan: Menikmati Pantai, Kuliner, dan Wellness dalam Satu Resor
-
Dusun Sade Terbakar Jelang MotoGP Mandalika, NTB Siapkan 4 Desa Adat Pengganti Wisatawan
-
Prabowo Perintahkan Tanpa Pandang Bulu, Raja Juli Antoni: Pembakar Hutan Kami Tindak
-
Dari Jepang, Kolombia, hingga NTT: Daftar 'Gempa Besar' Selama Agustus 2026
-
BNPB Minta Negara Tetangga Tak Saling Menyalahkan soal Asap Karhutla