/
Sabtu, 17 Desember 2022 | 13:05 WIB
Asnar Pratiwi (kanan) dan Irma Hutabarat. Foto insert Iptu Haeruddin saat masih berpangkat Ipda. (Youtube Irma Hutabarat/ Facebook)

Suara Denpasar – Kelakuan Iptu Haeruddin, pejabat polisi di Polda Kalimantan Utara (Kaltara) dibongkar istri pertamanya. Polisi yang menikahi adik kandung istrinya itu diduga pernah mencoba memerkosa.

Cerita ini disampaikan Asnar Pratiwi Alwi, istri dari Iptu Haeruddin dalam kanal Youtube Irma Hutabarat. Tiwi, demikian sapaannya, menjelaskan bahwa kisah itu bermula saat dia bersama suaminya tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. 

Asnar Pratiwi Alwi mengaku menikah dengan Iptu Haeruddin tahun 2004, usianya sekitar 18 tahun. Kemudian pada 2006 bersama suaminya pindah ke Makassar. 

Setelah dia pindah ke Makassar, dia mengajak adiknya, Nirmalasari Alwi yang ada di kampung ke Makassar. Usia Nirmalasari selisih 3 tahun. 

Artinya, saat diajak ke Makassar, Nirmalasari berusia sekitar 19-20 tahun. Sedangkan Asnar Pratiwi Alwi diperkirakan berusia 22-23 tahun. 

Saat itu Nirmalasari menganggur di kampung, diajak ke Makassar untuk dicarikan pekerjaan. Sang adik tinggal serumah dengan Asnar Pratiwi Alwi dan suaminya. Namun beda kamar.

Tiwi juga menjelaskan, mama dari adiknya ini masih ada hubungan keluarga dekat dengan suaminya, Haeruddin. Sebagaimana diketahui, Tiwi dan Nirmalasari kakak-beradik satu ayah namun beda ibu.

Nah, suatu hari, tiba-tiba pagi hari itu adiknya itu keluar rumah dengan alasan beli pulsa. Sang suami sarapan dan berangkat ke kantor, seperti tidak terjadi apa-apa.

“Setelah itu adik saya menelepon. Dia nelepon, terus dia nangis, dia ngomong, ‘Kak saya minta maaf, tadi malam kakak ipar hampir memperkosa saya’,” kata Asnar Pratiwi Alwi.

Baca Juga: Rekomendasi Lima Manhwa Tentang Bela Diri dengan Alur Cerita Seru

Saat mendengar adiknya bercerita, Tiwi mengucap istighfar. Dia pun menanyai adiknya sedang berada di mana. Bagaimana pun, adiknya itu adalah tanggungjawabnya karena mengambil dari rumah, diajak ke Makassar untuk mencari pekerjaan.

Dia meminta kepada adiknya tidak pergi. Sang adik mengatakan tidak pergi, ingin menenangkan diri dulu atas kejadian yang menimpanya 

“Saya berpikir Ya Allah, cobaan apa ini,” terangnya sambil menangis.

Saat itu juga dia menelepon suaminya, Haeruddin. Dia tidak mau rebut. Minta sang suami pulang dan ingin mengobrol baik-baik.

“Saya ngobrol baik-baik, saya tanya ini kenapa ada cerita seperti ini,” tanya Tiwi kepada suaminya pada waktu itu.

Dalam pikiran Tiwi, dia tidak mau membela salah satu di antara keduanya. Karena keduanya, baik suami maupun sang adik, adalah yang disayanginya.

Load More