Suara Denpasar - Sejumlah selebriti tanah air dipastikan akan ikut bertarung sebagai calon legislatif (caleg) pada Pemilu 2024 mendatang. Tercatat sekitar 65 selebriti mulai dari penyanyi, pelawak, presenter, aktor, aktris, pemeran film sampai selebgram ikut mewarnai percaturan politik 2024.
Dalam negara demokrasi hal tersebut tidaklah salah, sebab setiap individu memiliki hak untuk dipilih dan memilih selagi memenuhi persyaratan.
Fenomena itu mendapat perhatian dari seorang akademisi Universitas Udayana (Unud) Bali, Efatha Filomeno Borromeu Duarte. Efatha menyebut peristiwa itu sebagai fenomena polientertain. Yang dapat diartikan sebagai perpaduan antara selebritas dan politik.
Dalam pandanganya, Efatha mengatakan bergabungnya kalangan selebritas dalam politik bukanlah hal baru, tidak hanya di Indonesia, tetapi sudah menjadi trend politik global.
Namun, menurut Efatha pendekatan ini memunculkan pertanyaan krusial mengenai esensi demokrasi dan kualitas tata kelola politik. Sebab posisi selebriti sebagai titik sentral identifikasi sosial, memiliki potensi besar untuk membentuk opini dan merubah pandangan publik.
"Namun, kecenderungan ini bisa menciptakan suasana merisaukan, karena bisa menggerus peran keahlian dalam politik demokratis. Dalam konteks politik, terdapat risiko substansial dalam mengadopsi model yang terlalu berfokus pada popularitas daripada kapabilitas. Pada kenyataannya, pengaruh selebritas dalam politik tidak selalu positif atau efektif," kata Efatha kepada Suara Denpasar, Jum'at (19/5/2023).
Dosen muda itu menjelaskan, dalam survei yang dilakukan Hill-HarrisX pada 2019, sebanyak 65% responden mengungkapkan bahwa dukungan politik dari selebritas Hollywood tidak mempengaruhi keputusan pemilihan mereka. Lebih jauh, 24% responden mengatakan bahwa dukungan selebritas malah membuat mereka memilih untuk tidak mendukung kandidat tersebut.
Bergabungnya kalangan selebritas ke partai pilitik menurutnya telah mencerminkan pergeseran dalam pemahaman dan praktik politik di Indonesia, di mana popularitas dan pengenalan nama menjadi faktor penting dalam pemilihan publik.
Namun begitu, dia menegaskan bahwa politik bukan sekadar panggung popularitas. Kompetensi substansial dalam kebijakan dan pemahaman isu-isu sosial dan ekonomi menjadi prasyarat mutlak dalam memainkan peran sebagai pemimpin politik.
Baca Juga: Gempar, Kejati Bali Siap Telusuri Dugaan Skandal Mahasiswa Titipan di Unud
"Oleh karena itu, kapabilitas para selebritas untuk berkontribusi pada pembangunan dan kemajuan negara melalui peran mereka sebagai politisi harus dipertanyakan. Pandangan yang terlalu memandang selebritas sebagai politisi berdasarkan popularitas saja, tanpa mempertimbangkan kompetensi dan dedikasi mereka untuk pelayanan publik, dapat berpotensi merusak integritas sistem politik," terang dia.
Pendiri Malleum Iustitiae Institute itu menghimbau agar masyarakat perlu lebih cermat dan kritis dalam memberikan suara atau memilih. Karena demokrasi membutuhkan pemimpin yang kompeten, bukan hanya populer.
Selain itu, dibutuhkan kesadaran bersama untuk menjaga kualitas politik Indonesia dengan memastikan bahwa figur yang dicalonkan memang memiliki kapasitas dan integritas yang diperlukan untuk memimpin.
"Hal ini mengharuskan kita untuk mempertimbangkan dengan cermat sebelum memilih dan menjaga kualitas demokrasi kita. Dalam akhirnya, fenomena "polientertain" ini membutuhkan refleksi mendalam tentang apa yang kita nilai dalam demokrasi dan sistem politik kita," ujar Efatha.
Pertanyaannya kata dia, sejauh mana popularitas dan pengakuan nama dapat dan harus berperan dalam politik? Apakah popularitas adalah ukuran yang tepat dan adil untuk memilih pemimpin? Bagaimana kita memastikan bahwa popularitas tidak menenggelamkan pertimbangan lainnya seperti kompetensi, integritas, dan dedikasi?
Kendati begitu, Efatha menganggap, fenomena "polientertain" bukanlah suatu ancaman secara inheren untuk demokrasi atau sistem politik kita, tetapi merupakan tantangan dan kesempatan bagi kita untuk merefleksikan dan memperbaiki cara kita memilih pemimpin.
Berita Terkait
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
Terkini
-
Emosi Cristiano Ronaldo Meledak, Serang Jurnalis Brasil di Konferensi Pers
-
Paraguay Terapkan Taktik Barbar, Didier Deschamps Kasih Sindiran Pedas
-
Ricuh Jelang Laga! Fans Meksiko Serbu Hotel Inggris, Polisi Tak Mampu Bendung
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Folarin Balogun Lolos dari Skorsing, Gedung Putih Disebut Intervensi FIFA
-
Krisis Lini Depan Argentina: Mengapa Lautaro dan Julian Alvarez Mandul di Piala Dunia 2026?
-
Kontroversial! FIFA Batalkan Skorsing Folarin Balogun, Trump Ucap Terima Kasih
-
Witan Sulaeman Bikin Kejutan! Tolak Hengkang, Pilih Setia di Persija, Ini Alasannya
-
Vozinha Jadi Kiper Terpopuler Usai Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Salip Nama Beken
-
Brasil vs Norwegia: Jika Terjadi Adu Penalti, Selecao Punya Keunggulan