Suara Denpasar - Setiap tahun selalu ada kejahatan di Indonesia. Apalagi di Jawa Tengah. Sejumlah kota dan kabupaten memiliki kerawanan masing-masing.
Dari sejumlah penelitian, ekonomi menjadi salah satu faktor utama terjadinya tindak kejahatan. Apalagi di kota-kota besar.
Dilansir dari data kepolisian yang disajikan dalam Provinsi Jawa Tengah Dalam Angka 2023, setiap tahun ada ribuan kejahatan di Provinsi Jawa Tengah. Angkanya mencapai lebih dari 8 ribu tindak pidana dilaporkan ke kepolisian.
Pada tahun 2022 saja, ada 8.037 tindak pidana yang dilaporkan. Menurun dibanding tahun 2020 yang mencapai 9485 laporan, dan pada 2021 sebanyak 8328 laporan.
Jika dirata-ratakan dalam tiga tahun terakhir, dari 2020-2022, laporan tindak pidana paling banyak ada di Kota Semarang dengan rata-rata per tahunnya 1039 laporan. Kemudian disusul Surakarta (538), Banyumas (514), Boyolali (394), Cilacap (378), Klaten (366), Pati (313), Magelang (286), Kabupaten Semarang (255), dan Kabupaten Sukoharjo sebanyak 248 tindak kejahatan per tahun.
Walau begitu, jumlah kejahatan per 100 ribu penduduknya, ditemukan fakta mencengangkan. Daerah paling rawan kriminal per 100 ribu penduduk bukan Kota Semarang.
Menariknya, yang tertinggi adalah Kota Surakarta yang saat ini dipimpin wali kota Gibran Rakabuming. Surakarta atau Solo ini juga kotanya Presiden Joko Widodo.
Pada 2020, crime rate per 100 ribu penduduk di Surakarta mencapai 125,1, kemudian turun di 2021 sebesar 113,5, dan turun jadi 70,8 pada 2022. Namun, jika dirata-ratakan dalam tiga tahun terakhir, Surakarta merupakan tertinggi dengan rata-rata 103 tindak pidana per 100 ribu penduduk per tahunnya.
Di bawah Kota Surakarta, daerah yang memiliki crime rate per 100 ribu penduduk diambil dalam tiga tahun terakhir adalah Magelang dengan crime rate 97 per tahun, Salatiga (70), Kota Semarang (61), Pekalongan (61), Tegal (56), Boyolali (38), Klaten (30), Banyumas (30), dan nomor 10 adalah Sukoharjo (27).
Baca Juga: Banggakan Solo, Gibran Sindir Sulitnya Bangun Tempat Ibadah di Kota Lain
Dihimpun dari beberapa sumber, di antara kasus paling menonjol di Surakarta adalah pemerasan dengan ancaman oleh anggota Polres Wonogiri di Pajang, kemudian jual beli tanah Makam Bong Mojo, pencabulan terhada anak oleh mantan Direktur PDAM Solo, hingga pencurian kabel milik PT Telkom oleh 10 anggota komplotan yang di antaranya tiga anggota Polri. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga
-
Kejagung Tetapkan Tersangka Baru TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Di Balik Profesi Petugas Damkar, Ada Risiko yang Tak Selalu Terlihat
-
Sepertiga Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental, Skrining Tanpa Pendampingan Tak Berarti