Depok.suara.com - Kekerasan terhadap hewan di Indonesia terbilang mengkhawatirkan. Karena, Indonesia merupakan penghasil konten kekerasan pada hewan terbesar di dunia.
Menurut laporan Microsoft’s 2020 Digital Civilization Index, Indonesia menduduki posisi pertama soal kekerasan terhadap hewan.
Terlebih, pada tahun 2021 lalu, laporan dari Social Media Animal Cruelty Coalition (SMACC) juga menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil konten kekerasan terhadap hewan yang paling banyak di dunia. Dari sekitar 5.500 konten kekerasan hewan yang beriskulasi secara global, setidaknya 1.626 diyakini bersumber dari Indonesia.
Data ini mungkin tidak mengejutkan mengingat frekuensinya beredar memang cukup tinggi. Mulai dari kasus pemberian minuman energi ke monyet, Lucinta yang berenang bersama lumba-lumba, hingga yang terbaru, yaitu penembakan kucing yang terjadi di Sesko TNI Bandung.
Tindakan kekerasan terhadap hewan bisa jadi pertanda penyakit mental
Para ahli menyebut bahwa kekerasan terhadap hewan dikenal sebagai indikator penyakit mental. Karena, perasaan iba kepada sesama makhluk hidup sudah hilang.
“Kekerasan terhadap binatang adalah manifestasi dari dua hal. Yaitu keinginan untuk memiliki kuasa terhadap yang makhluk yang lebih kecil dan lemah dan kecenderungan untuk menikmati kepuasan sadis dari tindakan tersebut,” jelas Dr. Thara, Direktur dari Yayasan Penelitian Schizophrenia di Chennai, India.
Sebuah studi yang pada tahun 2002 yang diterbutkan di Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law Online menyebut bahwa aksi tersebut bisa diasosiasikan dengan gangguan kepribadian antisosial alias sociopath.
Studi lain menyebut bahwa orang-orang yang menyiksa anak-anak dan pelaku KDRT juga cenderung menyiksa binatang. Hal ini pun mengindikasikan padanya indikasi masalah keluarga terhadap mereka yang menyiksa hewan.
Baca Juga: Gabriel Rodrigo Putuskan Pensiun dari Balapan
Terpapar sejak kecil, berdampak besar ketika dewasa
Penyiksaan terhadap hewan ketika masih kecil disebut-sebut akan melakukan kekerasan terhadap manusia lain ketika dewasa. Bahkan, bukan tidak mungkin pelaku aksi tersebut tumbuh jadi pembunuh berantai.
Salah satu riset menyebut bahwa sebanyak 36% pembunuh berantai pernah melakukan penyiksaan hewan ketika masih kecil, 46% melakukan penyiksaan hewan ketika remaja dan 36% melakukan penyiksaan hewan ketika sudah dewasa.
Pasalnya, mereka yang melakukan penyiksaan hewan ketika kecil cenderung tidak peka dengan konsekuensi dari tindakan kekerasan yang merekanlakukan. Hingga pada akhirnya mereka juga akan melakukan kekerasan terhadap sesama manusia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bintang Harry Potter Cuan Besar Gabung OnlyFans, Gaji 12 Bulan Setara Main Film Bertahun-tahun
-
Desil Tak Sesuai Fakta, Ini Cara Pembaruan Data DTKS Offline dan Online
-
2 ABK WNI Selamat dari Serangan Drone di Selat Bab Al-Mandeb Alami Luka-luka
-
Iran Tahan Pembukaan Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Tembus 88 Dolar AS
-
Pesan Menyentuh Audy Item untuk Iko Uwais Usai Keguguran di Usia Kandungan 7 Minggu
-
3 Zodiak yang Beruntung dan Punya Nasib Baik 12 Agustus 2026, Keinginan akan Terwujud
-
Total 3 WNI Jadi Korban Serangan Bom Drone Houthi Yaman di Selat Bab Al Mandeb
-
ABK WNI Tewas Diserang Kelompok Houthi di Selat Bab Al Mandeb
-
WNA China Diduga Dilecehkan Saat Bikin Video di Lovina Bali
-
Bibit Durian Diturunkan di Pelabuhan Makassar Padahal Punya Izin, Ini Respons Badan Karantina