- Pasar kripto mulai tenang; Bitcoin stabil di USD 70.000 setelah koreksi signifikan dari rekor tertinggi Oktober lalu.
- Analis Bernstein melihat penurunan harga Bitcoin sebagai krisis kepercayaan sesaat; produk Spot ETF menunjukkan ketahanan institusional.
- Analis mempertahankan pandangan optimis, memprediksi Bitcoin mencapai rekor baru dan menepis kekhawatiran ancaman teknologi kuantum.
Suara.com - Pasar kripto global mulai menunjukkan tanda-tanda ketenangan setelah mengalami volatilitas hebat.
Bitcoin (BTC-USD) kini terpantau bergerak stabil di kisaran USD 70.000, menyusul aksi jual besar-besaran yang sempat terjadi pekan lalu sebelum akhirnya berhasil bangkit kembali.
Meski kembali ke level psikologis penting, harga Bitcoin saat ini sebenarnya masih terkoreksi sekitar 44% dari rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di atas USD 126.000 yang dicapai pada Oktober tahun lalu.
Penurunan tajam tersebut sebelumnya dipicu oleh likuidasi paksa dan aksi jual masif oleh para whale, yang sempat menyeret pasar ke dalam fase "musim dingin kripto".
Gautam Chhugani, analis dari Bernstein, memberikan pandangan optimistis di tengah keraguan pasar. Dalam catatan risetnya pada Senin pagi, ia menyebut bahwa pergerakan harga Bitcoin saat ini hanyalah bentuk dari "krisis kepercayaan" sesaat.
"Tidak ada sistem yang rusak, tidak akan ada skandal besar yang tiba-tiba muncul. Di tengah dunia yang sedang terobsesi dengan AI, Bitcoin dan kripto mungkin dianggap kurang menarik, namun argumen untuk penurunan (bear case) Bitcoin saat ini justru yang terlemah dalam sejarahnya," ungkap Chhugani, dilansir via Yahoo.
Ia juga menyoroti ketangguhan produk investasi baru di pasar. Selama aksi jual pekan lalu yang mengakibatkan koreksi harga hingga 50%, arus keluar (outflow) pada instrumen Spot ETF tercatat hanya sebesar 7%.
Hal ini menunjukkan bahwa investor institusional cenderung bertahan meski pasar sedang berguncang.
Mengenai kekhawatiran bahwa teknologi komputer kuantum dapat mengancam sistem enkripsi Bitcoin, Chhugani menegaskan bahwa risiko tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Baca Juga: BTC Bidik Ambang USD100.000, ETH dan XRP Kompak di Zona Hijau, Sinyal Bullish?
Menurutnya, teknologi blockchain memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik untuk memperbarui sistem keamanannya.
Dukungan dari pemain raksasa seperti BlackRock (BLK), Fidelity, dan MicroStrategy (MSTR) dinilai akan memperkuat posisi Bitcoin dalam menghadapi transisi teknologi di masa depan.
Bernstein tetap mempertahankan pandangan bullish dengan memprediksi Bitcoin akan kembali mencetak rekor tertinggi baru. Chhugani menetapkan target harga USD 150.000 pada akhir tahun 2026.
Senada dengan hal tersebut, Sean Farrell, Kepala Aset Digital di Fundstrat, menyatakan telah meningkatkan eksposur "net long" atau posisi beli hingga 80% dalam portofolionya.
Meski demikian, ia tetap waspada dan menyisakan ruang antisipasi jika harga Bitcoin kembali menyentuh level USD 50.000-an sebelum melanjutkan relinya.
Pergerakan stabil pada awal pekan ini terjadi setelah Bitcoin sempat menyentuh titik terendah di level USD 61.000 pada hari Jumat pekan lalu sebelum akhirnya memantul kembali ke zona hijau.
Berita Terkait
-
Bitcoin Kembali ke Level USD 70.000: Akumulasi Nyata atau Jebakan Bull Trap?
-
Bitcoin Terperosok ke USD 60.000, Analis Indodax Ungkap Dampaknya ke Pasar Kripto
-
Harga Bitcoin Anjlok Parah di USD 70.000, Analis Peringatkan Ancaman Tembus USD 50.000
-
Dokumen Jeffrey Epstein 'Singgung' Identitas Satoshi Nakamoto dan Asal-Usul Bitcoin
-
Bitcoin Sulit Tembus Level USD 90.000, Proyeksi Analis di Tengah Penguatan Emas
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
Pilihan
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
Terkini
-
IHSG Perkasa di Sesi I Naik 1,26%, 595 Saham Terbang
-
Bank Cirebon Bangkrut: Izin Dicabut, Pemkot Respon Sikap OJK dan LPS
-
Saham INET Diborong, Akumulasinya Capai Rp 110 Miliar
-
Harga Minyak Melemah di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
-
Kapan Pencairan Bansos PKH dan BPNT Tahap I 2026, Ini Ketentuannya
-
Kementerian PKP Bakal Bangun Rusun Delapan Lantai di Solo untuk Anggota Kopassus
-
Pembiayaan Flexi Mitra Mabrur Bank Mega Syariah Melonjak 180 Persen
-
Ibu Mekaar Menuju Tanah Suci: PNM Temani Hidup Saya dari Nol hingga Bisa Sekolahkan Anak
-
Tiga Bank Bangkrut di Tahun 2026, Ini Daftarnya
-
FTSE Russell Bekukan Rebalancing Saham RI, Pjs Bos Bursa Buka Suara