Poster-poster Lennon mengkhiasi kamar peraduannya. Ia juga bertekad mendalami seni dan musik selayaknya Lennon.
Namun, masa-masa indah menjadi fans fanatik itu sirna setelah Lennon mengeluarkan pernyataan yang menyinggung Chapman.
"Kurasa, aku dan The Beatles lebih terkenal ketimbang Yesus," tukas Lennon.
Kalimat Lennon dalam berita karya jurnalis Maureen Cleave itulah yang dibaca Chapman pada surat kabar Evening Standard Maret 1966.
Sebagai pemeluk Kristen fundamental, ia marah, sehingga tergerak untuk menembak mati Lennon.
Setelah peristiwa itu, ia divonis penjara 20 tahun.
Kiri Baru
Ketika banyak orang yang memercayai Chapman membunuh Lennon karena alasan kejiwaan, sejumlah dokumen yang terungkap berpuluh-puluh tahun kemudian berkata lain.
Biro Investigasi Federal AS (FBI) dalam dokumen rahasia yang sudah dipublikasikan, mengakui sempat memata-matai Lennon sebelum dia tewas.
Dokumen tersebut menimbulkan kecurigaan banyak kalangan bahwa kematian Lennon adalah buah konspirasi. Hal itu beralasan, karena Lennon menurut FBI "sangat dekat" dengan tokoh-tokoh "gerakan kiri baru" (New Left Movement) di AS.
"Setiap ekstremis harus dipertimbangan sebagai bahaya," begitulah kalimat yang tertulis dalam salah satu dokumen FBI mengenai Lennon tersebut, seperti dilansir laman Muckrock.
FBI mengakui "menanamkan" agen-agennya di banyak kelompok Kiri Baru, yang terutama dekat dengan Lennon. Salah satu kelompok itu adalah "The Youth International Party" (Partai Pemuda Internasional), tempat Lennon sering berdiskusi.
Kiri Baru adalah sebutan untuk gerakan pemuda mahasiswa, pasifis, ekologis, feminis, dan beragam spektrum lain yang disatukan dalam momen anti-Perang Vietnam serta perang nuklir di AS serta banyak negara Eropa era 1960-an.
Secara ideologis, terutama Kiri Baru AS, mengakui terinsipirasi buku babon "Reason and Revolution" karya filsuf Hegelian Marxis asal Jerman yang tinggal di AS sejak era Nazi, yakni Herbert Marcuse. Mereka juga terinspirasi oleh Revolusi Kebudayaan Tiongkok yang dipimpin Mao Tse-tung.
Berdasarkan pemetaan itulah, FBI dalam dokumennya mengindikasikan Lennon juga terjangkit "virus kiri baru". Lagu-lagu Lennon selepas dari The Beatles, menambah kecurigaan mereka.
Sebut saja lagu Lennon berjudul "Power to the People"; "Working Class Hero"; "Give a Peace a Chance"; dan puncaknya adalah "Imagine" yang dianggap terkontaminasi ideologi Marxisme.
Bahkan, Presiden AS saat itu, Richard Nixon, dan senator Partai Republik Strom Thurmond menempatkan Lennon sebagai musuh nomor satunya.
Tak hanya FBI, seperti diberitakan The Guardian dalam artikel 20 Februari tahun 2000, Lennon juga dalam pengawasa dinas rahasia Inggris, MI5.
Mantan intelijen MI5, David Shayler, mengakui Lennon diduga memberikan dana ke sejumlah organisasi yang mereka anggap teroris.
"Lennon diduga memberikan dana kepada IRA (pejuang kemerdekaan Irlandia), dan Partai Pekerja Revolusioner Inggris yang berhaluan Marxis-Trotskyist," tutur Shayler.
Shayler juga mengungkapkan, Lennon turut memberikan dana kepada satu majalah Marxis bernama "Red Mole" yang digawangi Tariq Ali—teoritikus dan novelis Inggris—yang kala itu masih berstatus mahasiswa.
Semua dugaan tersebut hingga kekinian tak sepenuhnya terbukti.
Namun, Gore Vidal, penulis dan pembuat film dokumenter "The US Versus John Lennon", mengatakan tetap ada unsur konspirasi politik atas pembunuhan sang legenda.
"Siapa pun yang bernyanyi tentang cinta dan harmoni akan selalu berbahaya bagi seseorang yang gemar menyanyikan kematian dan pembunuhan," tuturnya beretorika.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Serahkan Uang ke Polisi, Awkarin Tegaskan Ada di Pihak Korban Hanania Travel
-
Saemen Fest 2026: Festival Musik Lintas Genre Siap Guncang Jogja pada 19 Juli 2026
-
Venom: Let There Be Carnage,saat Tom Hardy Bertemu Lawan Seimbang
-
Berawal dari Keterbatasan, Wiraswasta Asal Situbondo Ini Sukses Jadi Bintang eFootball Nasional
-
Guns N' Roses Kembali ke Jakarta! Ini Jadwal dan Daftar Harga Tiket Konser Termegah 2026
-
Mufli Ananda Umur Berapa? Asisten Raffi Ahmad yang Disorot usai Jadi Komisaris
-
Bangkit dari Persahabatan SMA, This is EQUAL Resmi Debut Lewat EP Kirei
-
Bebizie Pamer Jabatan Baru, Tapi Visi-Misinya Cuma Sebatas Makeup dan Hairdo!
-
Venom: Ketika Tom Hardy Berbagi Tubuh dengan Parasit Luar Angkasa, Malam Ini di Trans TV
-
Kisah Anas Fikry dan Risky Adelia Membangun Konten Berbasis Kejujuran dan Aksi Sosial