Suara.com - Ketika menonton Legenda Kelam Malin Kundang, rasanya seperti membaca legenda rakyat yang kita kenal sejak kecil, tapi versi ini lebih gelap, lebih menegangkan, dan sedikit… menyiksa mental.
Alif (Rio Dewanto), tokoh utama, adalah seniman micro painting yang hidupnya damai tiba-tiba diacak-acak oleh ingatan yang hilang dan trauma masa lalu.
Saya duduk di kursi bioskop sambil menatap layar, mencoba menyusun puzzle gelap yang tampaknya semakin membingungkan setiap detiknya.
Jujur, sensasinya membuat adrenalin naik, sekaligus membuat kepala sedikit pusing karena ketegangan yang konstan.
Bukan Cerita Anak Durhaka Biasa
Kalau selama ini kita mengenal Malin Kundang sebagai cerita anak durhaka yang kena kutuk, film ini menyajikannya dalam bentuk psychological thriller yang lebih modern.
Film ini bukan sekadar soal anak durhaka kena azab, tapi lebih dalam, yakni tentang rasa bersalah, trauma, dan rahasia keluarga yang dikubur begitu dalam.
Saat menonton, saya merasa terseret ke dalam ingatan Alif, merasakan ketidakpastian yang sama, dan sesekali menahan napas karena beberapa adegannya memang disturbing.
Rasanya, masa lalu Alif menuntut balas secara brutal, tapi tetap terasa realistis secara psikologis.
Baca Juga: Agak Laen: Menyala Pantiku! Rilis Hari Ini, Ernest Prakasa Justru Berduka atas Bencana di Sumatera
Sentuhan Joko Anwar Masih Sangat Terasa
Salah satu hal paling mencengangkan adalah fakta bahwa Joko Anwar menulis, memproduseri, dan mengedit film ini sendiri.
Kursi sutradara memang tidak diduduki olehnya, melainkan dua nama baru yakni Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat.
Namun Legenda Kelam Malin Kundang masih sangat terasa seperti "bayangan pikiran Joko Anwar" yang seluruhnya dituangkan ke layar.
Hasilnya, setiap adegan terasa sangat presisi, setiap kilas balik dan twist dibangun dengan sangat hati-hati, seolah penonton diajak masuk langsung ke dalam kepalanya.
Bisa dibilang, film ini adalah karya Joko Anwar yang sangat personal dan penuh visi, serta berani.
Berita Terkait
-
Mertua Ngeri Kali: Menikmati Kelucuan dan Improvisasi Bunda Corla dalam Debutnya di Film
-
Di Balik Kehangatan Danau Toba: Akting Memukau Astrid Tiar dan Sarah Sechan di Wasiat Warisan
-
5 Film dan Series Bollywood Tayang Desember 2025, Ada Film Terakhir Dharmendra
-
To Catch a Killer Malam Ini: Kembalinya Shailene Woodley dalam Thriller Kriminal yang Mencekam
-
3 Fakta Lagu Sampai Jumpa, Kembali Pertemukan Afgan dan Maudy Ayunda Seperti di Film Refrain
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- 7 Sepatu Skechers Wanita Tanpa Tali, Simple Cocok untuk Usia 45 Tahun ke Atas
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
Penjelasan 4 Teaser Avengers: Doomsday, Petunjuk Awal Perang Terbesar di MCU
-
6 Film Terbaru Jerome Kurnia, Penerbangan Terakhir Lagi Tayang di Bioskop
-
Benarkah Skrip Stranger Things 5 Pakai ChatGPT?
-
Eksistensi Arif Brata: Antara Akting, Jati Diri Komika, dan Pandangan Materi 'Pinggir Jurang'
-
Sinopsis Siren's Kiss, Park Min Young Terjerat Kasus Penipuan Asuransi Berujung Maut
-
7 Panduan Lengkap War Tiket BTS Jakarta 2026, Dari Presale hingga Hari-H
-
Series Cinta Mati Dinilai Mirip Kisah Aurelie Moeremans, Tayang di WeTV
-
Skandal di Balik Nussa, Dugaan Perselingkuhan Kreator Berujung Sengketa IP
-
Mulai Hari Ini, Film Bidadari Surga Gelar Promo Buy 1 Get 1 di m.tix, Serbu Sebelum Kehabisan
-
Secrets Drama Thriller Terbaru Netflix, Angkat Resiliensi Mantan Pekerja Seks