Entertainment / Film
Rabu, 22 April 2026 | 06:00 WIB
Sutradara film Garuda di Dadaku Animasi, Ronny Gani saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Selasa, 21 April 2026 [Suara.com/Tiara Rosana].
Baca 10 detik
  • Sutradara Ronny Gani membawa pengalaman belasan tahun dari Hollywood untuk merombak Garuda di Dadaku menjadi film animasi fantasi berkualitas dunia.
  • Berbeda dari versi asli, film ini memperkenalkan elemen magis seperti jersei mistis dan karakter burung Garuda ajaib bernama Gaga yang diisi suara oleh Kristo Immanuel.
  • Melibatkan talenta seperti Quinn Salman dan Revalina S. Temat, film ini bertujuan menginspirasi penonton untuk berani mengejar mimpi di tengah berbagai keterbatasan.

Karakter Gaga, seekor burung Garuda bertubuh mungil, diciptakan bukan sekadar sebagai pemanis layar. Menurut sang sutradara, Gaga harus memiliki emosi kompleks layaknya manusia agar penonton bisa berempati saat karakter tersebut marah, sedih, maupun bawel.

"Ibaratnya kita makan mi instan, Gaga tuh cabai rawitnya buat orang Indonesia," kelakar Ronny menganalogikan peran krusial karakter magis tersebut.

Tugas berat menghidupkan Gaga diserahkan kepada konten kreator dan aktor, Kristo Immanuel. Meski kerap viral lewat konten impersonate suara, ini adalah proyek film animasi panjang pertamanya.

Salah satu pemain film Garuda di Dadaku Animasi, Kristo Immanuel saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Selasa, 21 April 2026 [Suara.com/Tiara Rosana].

Uniknya, di saat desain visual Gaga terlihat sangat imut, Kristo justru mengusulkan warna suara yang berkebalikan.

"Mencari titik sweet spot-nya itu cukup PR. Gimana caranya bisa membuat suara karakter Gaga ini konsisten dan memiliki warna suara yang sama saat dia marah, saat dia sedih, saat dia bahagia, itu tuh nggak pas bahagia tiba-tiba jadi (suara asli) Kristo," jelas Kristo.

"Kalau aku pribadi ngerasa yang bagus adalah yang distingtif, orang pas dengar langsung tahu, 'Oh suaranya Gaga nih'. Kayak kita kalau dengar suaranya Olaf ngomong kan tahu," lanjut dia.

Quinn Salman Belajar Istilah Bola dari Adik

Tantangan tak kalah besar dihadapi oleh penyanyi dan aktris cilik Quinn Salman. Terbiasa memerankan karakter yang lembut, Quinn dituntut bersuara lantang, tegas, dan powerful untuk memerankan sosok Naya sang pelatih cilik.

"Karakter aku sebelumnya tuh kan lebih soft-spoken, lebih halus, bahkan pas casting-nya itu aku cuma giggling-giggling doang. Kalau di sini aku emang harus suaranya tuh kuat, powerful, harus lantang. Karena suara aku tuh yang membuat nanti teman-teman yang aku latih jadi semangat lagi," papar Quinn.

Baca Juga: Animator Avengers Balik ke Indonesia, Garap Film Animasi Garuda di Dadaku

Salah satu pemain film Garuda di Dadaku Animasi, Quinn Salman saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Selasa, 21 April 2026 [Suara.com/Tiara Rosana].

Lebih dari sekadar berdialog, proses rekaman menuntut Quinn untuk melakukan effort sounds (suara napas atau tekanan fisik) layaknya orang yang sedang kelelahan atau menendang bola.

Dia bahkan harus rutin melakukan pemanasan vokal sejak dari mobil agar tidak kehilangan suara saat harus banyak mengambil adegan berteriak.

Untungnya, jam terbang sebagai penyanyi membantunya mengatur napas agar pita suaranya tidak cepat habis saat harus berteriak lama di ruang rekaman.

Lucunya, Quinn yang sama sekali tidak paham seluk-beluk sepak bola harus berguru pada adik kandungnya sendiri. Sang adik kebetulan adalah penggemar fanatik yang sudah menonton Garuda di Dadaku versi live-action hingga belasan kali.

"Aku bukan orang yang ngerti banget bola, tapi adik aku pencinta film Garuda di Dadaku. Dia nonton 10 kali di rumah. Ada hari di mana dia ngajarin aku, 'Ini tuh maksudnya passing tuh ini'. Jadi sebenarnya Naya tuh punya coach lagi, yaitu adik aku sendiri," kenang Quinn sambil tertawa.

Tantangan Rekaman Solo dan Pesan Lintas Generasi

Load More