Suara.com - Gelak canda penuh tawa terdengar riuh dari ruang dapur, rupanya para ibu dan relawan sedang mengisi waktu “ngobrol” dan memasak. Berbagai hal yang mereka bincangkan, dari sudut pintu dapur, Tata datang menghampiri lemari es, rupanya gadis kecil itu mengambil buah semangka dingin kegemarannya, disisi lain ibunda Tata sedang menyiapkan makan siang anaknya.
Tak lama, Iqbal datang menghampiri, dengan membawa mainan barunya berupa puzzle. Saat itu Ia baru saja menyelesaikan kelas belajarnya. Di ruang lain di lantai dua, anak-anak lain tengah asik bermain. Di sudut bilik kamar, beberapa dari mereka ada juga yang sedang beristirahat usai menjalani kemoterapi. Seperti Rafli yang hening mendengarkan cerita dongeng dari sang relawan, Ibunda Rafli pun tampak sedang menyiapkan obat yang dilarutkan air bertadah sendok makan, matanya mulai berkaca-kaca saat menceritakan setiap detail proses pengobatan ala kemoterapi yang dijalani Rafli, rasa pilu penuh iba seraya menyertai ketika jarum suntik menembus tulang sumsum buah hatinya yang masih ranum itu, untuk diambil cairan sebagai mekanisme pemeriksaan di laboratorium. Disudut kamar lain, Ridho yang ditemani sang ibu tampak sibuk dengan mainan boneka Goovy lusuh kesayangannya.
Tata, Iqbal, Rafli, Ridho dan puluhan anak lainnya merupakan penderita kanker yang sedang menjalani perawatan berkala. Di rumah singgah berlantai dua di kawasan Salemba Jakarta, terdapat lah sebuah tempat bernama Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI). Yayasan yang berdiri pada 1 November 2006 silam ini telah menampung ratusan anak penderita kanker yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Mereka datang dengan semangat ingin sembuh dari penyakit kanker yang menyerangnya dalam usia yang amat sangat dini. Tak ada alasan lain selain mereka ingin tumbuh dan menggapai cita-cita seperti anak-anak normal lainnya.
Menurut Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan setiap tahun penderita kanker di dunia bertambah 6,25 juta orang, dan dari jumlah tersebut, 4 persen atau 250 ribu penderita adalah anak-anak (as per Feb 2011), sementara 90.000 diantaranya meninggal akibat penyakit yang belum pernah ada obatnya ini. Data tahun 2015 versi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, di Indonesia diperkirakan setiap tahunnya terdapat 4.100 kasus kanker baru dengan penderita anak-anak diusia sekolah, sedangkan di Jakarta terdapat 650 kasus baru kanker yang menyerang anak-anak.
Hal ini menunjukkan bahwa kanker masih sebagai penyebab utama kematian pada anak di dunia. Kebanyakan jenis Kanker yang menyerang pada anak-anak tersebut terbagi dalam 2, yakni “cair” (kanker darah/leukemia) dan “padat” (tumor padat). Salah satu indikatornya adalah jajanan dan lingkungan rumah serta sekolah yang tak sehat sebagai pemicu kanker pada anak-anak tersebut. Bahkan, WHO memperkirakan angka penderita kanker akan naik menjadi 19 juta orang pada tahun 2025. Lonjakan angka penderita kanker ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup orang-orang di negara berkembang.
Kini, , wajah-wajah ceria Tata, Iqbal, Rafli, Ridho, Riski, Silvia, Rechy, Faturachman serta jutaan anak dibelahan dunia sana masih saja riang bermain, layaknya anak-anak normal lain yang menghabiskan waktu kecilnya dengan ragam jenis permainan. Senyum gelak tawa mereka masih menghiasi keriuhan di setiap sudut ruang rumah singgah, hingga suatu hari kelak, mereka tumbuh dewasa sambil membuka album kenangan masa kecil mereka bersama.
Foto & Teks : [suara.com/Kurniawan Mas’ud]
Berita Terkait
-
Mengintip Rumah Sakit Berbasis Stem Cell yang Usung Pengobatan Regeneratif hingga Vaksin Kanker
-
Kanker Paru Bukan Akhir Segalanya, Dukungan Jadi Kekuatan Pasien Jalani Pengobatan
-
IHSG Berpotensi Rebound, Saham Farmasi Meroket Imbas Temuan Terapi Kanker Termutakhir
-
Dosa Baru Israel, Wanita Palestina Pengidap Kanker Payudara Bertaruh Nyawa Gara-gara Ini
-
Kanker Paru Masih Mematikan, Navigasi Pasien Dibutuhkan untuk Pangkas Waktu Pengobatan
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Sering Kagok saat Ada Rintangan Mendadak? Ini 3 Teknik Dasar Berkendara Motor yang Wajib Dikuasai
-
Setelah 5 Laga Melempem, Messi Bawa Inter Miami Pesta 7 Gol
-
Hearts2Hearts dan Youth Culture yang Terus Berkembang, dari Gaya Hidup hingga Tren Makanan
-
Gurihnya Bebek Goreng Mas Budi, Kuliner Lokal Semarang yang Tumbuh Bersama Ekosistem Digital
-
Alasan Wadirut GOTO Catherine Sutjahyo Mundur
-
Boyfriend Material Banget! 5 Inspirasi Outfit Kekinian ala Song Kang
-
5 Rekomendasi Skin Tint SPF 50 untuk Proteksi UV Praktis, Wajah Auto Fresh
-
5 Kebiasaan yang Bikin Kamu Cepat Tua, Sering Dianggap Sepele
-
Polisi Bongkar Industri Rumahan Sabu dan Ekstasi di Lampung, 9 Orang Diciduk
-
Tak Hanya Andalkan KPR, BBTN Bidik Bisnis Kredit Pensiun