"Menetap di asrama (sejak) Mei akhir, seminggu sekali kan pembelajaran berlangsung dari hari Senin sampai Jumat, nah Sabtu-Minggu itu ada yang pulang, ada yang menetap di sini gitu, (kalau saya) netap di sini," terangnya.
Siti mengungkapkan, selama mengikuti program ini, dirinya belajar banyak, khususnya berkaitan dengan kedisiplinan, bahkan kedisiplinan dalam hal kecil seperti cara penyimpanan sandal yang benar pun tidak luput diajarkan di program ini.
Senada dengan Ilham, dia mengaku senang, bisa menjadi salah satu penerima manfaat dari program yang diusung oleh Disnakertrans Garut ini, terlebih khususnya bagi orang-orang yang ingin bekerja ke luar negeri, namun bingung dengan biaya. Sehingga, ia sangat berterima kasih sekali, kepada Pemkab Garut yang telah mencetuskan program fasilitasi penempatan kerja di luar negeri ini.
Oleh karenanya, imbuh Siti, dirinya kini sedang menyiapkan secara matang dari mulai mental, fisik, kedisiplinan, dan yang lainnya, agar bisa memberikan yang terbaik tatkala dirinya diterima dan bekerja di Jepang nanti.
"Bersyukur banget, terima kasih kepada Pemkab Garut, kepada Disnaker, khususnya Gentra Karya yang telah mengadakan program ini, semoga setelahnya program ini ada program seperti ini lagi yang bisa membantu generasi selanjutnya yang ingin berkesempatan juga kerja di luar negeri atau Jepang khususnya, terima kasih yang sebanyak-banyaknya," ucapnya.
Sebagaimana diketahui, Program ini dijalankan atas kerja sama antara Disnakertrans Kabupaten Garut dan Koperasi Royal Mono Tukuri (Yarumori) sebagai instruktur yang memberikan pengajaran dan pembelajaran kepada para peserta. Tak hanya itu, pihak Yarumori juga terlibat dalam penempatan kerja para peserta nantinya.
Ketua Koperasi Yarumori, Dicky Fatahillah, menjelaskan, pihaknya memberikan 5 aspek sebagai bekal bagi para peserta, yaitu bahasa Jepang dasar yang harus mencapai Japan Foundation Test (JFT) Basic A2, kemudian budaya kehidupan, peraturan umum, hubungan sosial dengan masyarakat di Jepang, kultur, dan keahlian atau _skill_ sesuai bidang kompetensi yang nantinya akan menjadi bidang pekerjaan para peserta.
"Ya di skill -nya itu karena kita menargetkan untuk peserta yang ingin mendalami bidang pertanian, jadi spesifik juga kita berikan dasar-dasar pertanian, yang materinya diberikan oleh Asosiasi Pertanian Jepang langsung," ucapnya.
Dicky menuturkan, para peserta nantinya akan bekerja di Jepang selama 5 tahun lamanya, dan jika perusahaan yang menaungi para peserta senang dan peserta juga tertarik untuk bekerja kembali, bisa melanjutkan kontrak 5 tahun lagi.
"Kalau anak-anak itu kan SSW (Specied Skilled Workers) ya kalau di Indonesia, itu 5 tahun (durasi kerja di Jepangnya), dan 5 tahun itu, apabila perusahaan itu senang dan si anak pengen melanjutkan bisa masuk ke SSW 2, ini kan SSW 2, SSW 2 dia boleh tinggal 5 tahun lagi, dan boleh mengajak keluarga atau istri, dan nantinya bisa mendapat permanent resident setelah SSW 2," ungkapnya.
Dicky menjelaskan bahwa pemberangkatan kerja ke Jepang ini akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kebutuhan pekerja dari perusahaan yang dituju. Meski demikian, kata Dicky, para peserta yang berjumlah 42 orang ini wajib berangkat bekerja ke Jepang. Terlebih, para peserta memiliki semangat yang bagus, sehingga dalam waktu 2-3 bulan, sebagian besar sudah lulus tes JFT A2, dengan beberapa di antaranya memiliki nilai yang cukup besar.
"Bahkan di tempat tes di sana pun orang kaget latihan dari mana gitu kan, itu juga kita juga sangat apresiasi dari (semangat) anak-anaknya," ungkap Dicky.
Saat ditanya mengenai program Penempatan Kerja ke Luar Negeri yang dicetuskan oleh Pemkab Garut, awalnya ia mengaku bingung, karena berdasarkan pengalamannya, baru Kabupaten Garut yang memiliki ide seperti ini dan berani memfasilitasi masyarakatnya untuk bekerja di luar negeri.
Oleh karena itu, pihaknya memberikan yang terbaik bagi para peserta, bahkan melibatkan _native_ Jepang yang ikut membimbing para peserta, agar proyek ini diharapkan bisa menjadi pionir di Indonesia.
"Bukan sekadar memberangkatkan orang tenaga PMI (Pekerja Migran Indonesia) ke Jepang, tapi membangun anak ini ke luar negeri untuk membuka wawasan kembali untuk membangun di Indonesia kaya gitu," ucapnya.
Kepala Disnakertrans Kabupaten Garut, Erna Sugiarti, mengungkapkan kegembiraannya melihat perkembangan peserta yang sangat serius dalam pembelajaran. Beberapa peserta bahkan sudah berhasil mendapatkan sertifikat bahasa Jepang dalam waktu yang lebih singkat dari 6 bulan yang dibutuhkan.
Selain itu, kata Erna, hal tersebut juga ditunjang dengan kualitas pengajar dari Koperasi Yarumori, sehingga mampu melatih dan mendidik para peserta menjadi disiplin, dan memiliki karakter yang siap untuk bekerja di Jepang.
Dalam program ini, lanjut Erna, pihaknya memfasilitasi para peserta mulai dari pembelajaran, asrama, pembuatan VISA, hingga pembuatan paspor.
"Dan kemungkinan pembuatan paspor di bulan ini mereka sudah dibuatkan paspor, karena paspor berlaku 10 tahun, kita sudah bersurat tadi pagi ke Kota Kanuma, bahwa kita sudah mempunyai yang sudah siap gitu untuk dikirim ke sana, kita tinggal menunggu _job order_ untuk anak-anak ini gitu, kemungkinan besar yang 8 yang sudah punya 2 sertifikat, mudah-mudahan di bulan ini ada wawancara," lanjutnya.
Pemerintah Kabupaten Garut berharap program ini akan menjadi model bagi program serupa di Indonesia dan memberikan dorongan bagi warga Garut untuk bekerja di luar negeri, karena ketika masyarakat memiliki kompetensi yang dibutuhkan perusahaan, disertai prosedur resmi, maka negara siap hadir untuk memfasilitasi.
Melalui program ini pula, Pemkab Garut berharap peserta yang akan bekerja di bidang pertanian di Jepang akan membawa pulang ilmu dan pengalaman yang dapat diterapkan di Kabupaten Garut, yang memiliki core bisnis sektor pertanian.
"Salah satu untuk menurunkan angka pengangguran itu adalah memperluas kesempatan kerja ke luar negeri, karena ke luar negeri ini masih luas, dan ini juga menjadi motivasi untuk anak-anak ketika anak-anak yang mampu untuk berangkat ke luar negeri jangan takut," tandasnya.
Program fasilitasi penempatan kerja ke luar negeri yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Garut ini diharapkan bisa membantu mengurangi angka pengangguran dan membuka peluang baru bagi warga Garut yang ingin bekerja di luar negeri.(*)
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Qurban Era Digital: Bagaimana Teknologi Mengubah Tradisi Idul Adha di ASEAN
-
Lebih dari Sekadar Kurban, Iduladha Juga Mengajarkan Arti Kepedulian
-
Energi Ceria Khas Brasil Hadir dalam Koleksi Sandal Penuh Warna
-
Budapest Membara! Bentrokan Fans Arsenal vs PSG Pecah Beberapa Jam Sebelum Final Liga Champions
-
Link Streaming Final Liga Champions, Arsenal Kejar Sejarah PSG Pertahankan Takhta
-
Apa Arti Mimpi Kecebur Sungai atau Got? Ini Penjelasannya Menurut Primbon Jawa
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
Infinix HOT 70 Meluncur di Indonesia, Andalkan Helio G100 Ultimate dan Desain Dynamic Shine Unik
-
4 Shio Diprediksi Paling Hoki Besok 31 Mei 2026, Akhir Bulan Hidup Makin Tenang
-
Dukung Gerakan Cegah Tindakan Bunuh Diri, Doyoung NCT Donasi Rp 1,1 Miliar