/
Minggu, 11 Desember 2022 | 17:40 WIB
Kekerasan di Liga Maroko (maroc-hebdo)

Ada hal menarik mengenai sepak bola Maroko, negara yang membuat kejutan luar biasa di Piala Dunia 2022

Fakta bahwa ternyata kompetisi profesional alias Liga Maroko baru bergulir pada 2011. Liga Maroko atau Botola sebenarnya sudah bergulir sudah cukup lama yakni pada 1916. 

Namun fakta sejarah mencatat bahwa saat itu kompetisi sepak bola Maroko digulirkan di bawah pengawasan langsung PSSI-nya Prancis, FFF. 

Maroko pada periode 1910-an masuk dalam wilayah kekuasaan Prancis. Lalu pada periode 1931, Maroko di bawah pengawasan Spanyol dan kompetisi mereka pun di bawah pengawasan PSSI-nya Spanyol, RFEF. 

Baru pada 1956-57, kompetisi di bawah pengawasan federasi sendiri dilakukan Maroko setelah mereka menjadi negara merdeka. Klub Wydad AC menjadi klub pertama yang meraih gelar pertama kompetisi ini. 

Liga terus bergulir sejak saat itu, namun ditemui banyak masalah. Kompetisi Liga Maroko memiliki masalah sistemik. 

Masalah mulai dari juara liga yang hanya itu-itu saja, antara dua klub dengan ekonomi kuat dan dekat dengan penguasa, Wydad dan AS FAR, sebuah klub berbasis Angkatan Darat Maroko. 

Kekerasan jadi Budaya Sepak Bola Maroko

Kekerasan di Liga Maroko (sumber: le360.ma)

Selain itu masalah yang lebih pelik adalah bagaimana kekerasan menjadi budaya di sepak bola Maroko. Kekerasan antar suporter selalu terjadi di setiap pertandingan. 

Kondisi kekerasan di Liga Maroko sangat mirip dengan Liga Indonesia. Setiap musim baru bergulir, selalu ada puluhan orang ditangkap baik di kota Rabat, Casablanca, Oujda ataupun El Jadida. 

Baca Juga: Wajib Dicontoh! Hakim Ziyech Tak Pernah Ambil Uang Saat Bela Maroko, Disumbangkan untuk Orang Miskin

Di Indonesia kita kerap mendengar bagaimana suporter mendapat kekerasan saat datang ke stadion, hal itu juga terjadi di Maroko bahkan seperti dilansir dari lematin.ma, korbannya mayoritas anak di bawah umur. 

Bahkan meski akhirnya PSSI-nya Maroko putuskan format profesional untuk liga mereka pada 2011, kekerasan tak bisa dipisahkan. 

Pada Botola musim 2022-23, aparat kepolisian menangkap puluhan orang di Casablanca dan Rabat. Dari penangkapan itu, polisi menyita senjata tajam hingga bom asap. 

Kekerasan di sepak bola Maroko bahkan membuat dinas rahasia polisi, DGSN sampai turun tangan. DGSN ialah unit khusus kepolisian kerajaan Maroko. 

Pada periode September 2022, DGSN melakukan operasi penyisiran dan penangkapan di 4 kota Maroko. Hasilnya mereka menangkap 38 orang yang terlibat dalam kerusuhan di laga AS FAR vs Renaissance Sportif de Berkane. 

Saat ditangkap para perusuh ini juga membawa narkotika. Di hari yang sama, DGSN juga menangkap 23 orang saat pertandingan Wydad vs Difaa El Jadida. Mirisnya, dari 23 yang ditangkap ada anak di bawah umur yang melakukan kekerasan. 

Kematian Mengenaskan Hamza Bekkali

Keluarga Hamza Bekkali (sumber: yabiladi.com)

Selang satu tahun setelah kompetisi sepak bola Maroko digulirkan secara profesional terjadi peristiwa mengenaskan. 

Pada Mei 2012 di pertandingan Wydad vs FAR, seorang pria berusia belasan tahun bernama Hamza Bekkali tewas mengenaskan. 

Hamza tewas setelah dikeroyok beramai-ramai. Mirip dengan apa yang dialami banyak suporter di Indonesia, seperti kasus Haringga Sirila pada September 2019. 

Dalam pernyataan kepada awak media, keluarga Hamza tak bisa berkata-kata. Mereka mengutuk para pelaku dan tak menyangkan sepak bola lebih mahal dari harga nyawa manusia.

"Ini adalah kerugian terbesar bagi kami. Ini bukan olahraga yang kami inginkan untuk anak-anak," ujar keluarga Hamza. 

Pasca kematian Hamza, pihak pemerintah dan PSSI-nya Maroko kemudian membentuk komite tripartit untuk menghapus budaya kekerasan di sepak bola. 

Pihak federasi bahkan sempat usulkan untuk melarang anak di bawah umur datang ke stadion tanpa didampingi oleh keluarga. 

Kasus Hamza sendiri kemudian menyeret 44 orang sebagai pelaku, 19 diantarnya adalah anak di bawah umur. Namun setelah kasus Hamza, masih terulang kasus kekerasan lain di kompetisi sepak bola Maroko hingga saat ini. 

Bedanya dengan Indonesia, meski kekerasan antar suporter jadi hal lumrah dan budaya, Maroko bisa buktikan bahwa tim nasional mereka punya prestasi sangat tinggi lolos ke babak semifinal Piala Dunia 2022. Prestasi yang entah kapan bisa diikuti oleh timnas Indonesia. 

Singa Atlas Ukir Sejarah

Maroko lolos ke babak semifinal Piala Dunia 2022 setelah mengalahkan Portugal 1-0 (sumber: Twitter.com/EFEdeportes)

Maroko berhasil menjadi tim pertama dari Afrika yang mampu lolos ke babak semifinal Piala Dunia 2022. 

Pada pertandingan perempat final melawan Portugal, Minggu (11/12) dinihari WIB, tim berjuluk Sungai Atlas itu memenangkan pertandingan dengan skor 1-0. 

Gol tunggal Maroko dicetak oleh striker Sevilla, Youssef En Nesyri menit ke-42. Gol ini dicetak oleh Youssef En Nesyri dengan sundulan memanfaatkan umpan crossing dari Yahia Attiat.

Jika Youssef En Nesyri berkarier di Spanyol bersama Sevilla, Yahia adalah pemain dari klub Maroko, Wydad AC. 

Keberhasilan Maroko melangkah ke babak empat besar Piala Dunia 2022 pun diancungi sejumlah pihak. Di babak semifinal, Maroko akan menghadapi Prancis, juara bertahan Piala Dunia. 

Load More