Suara.com - Orang yang mampu memaafkan kesalahan diri dan orang lain cenderung bisa melupakan kesalahan itu. Kondisi psikologis yang positif ini bisa bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental.
Demikian hasil studi terkini dari School of Psychology and Neuroscience University of St Andrews di Skotlandia seperti dilansir dari Medical Daily.
Dalam studi ini, para peneliti melibatkan 30 orang partisipan untuk mengeksplorasi hubungan antara memaafkan dan melupakan.
Para peneliti lalu meminta masing-masing partisipan membaca 40 skenario yang berisi kesalahannya, termasuk perselingkuhan, fitnah, dan pencurian.
Selanjutnya, para peserta mengevaluasi setiap pelanggaran yang telah dilakukan dan menjawab pertanyaan, "Jika Anda adalah korban, akan Anda memaafkan kelakuan buruk tersebut?".
Dua minggu kemudian, para partisipan ini kembali diminta membaca skenario kesalahan mereka. Namun, kali ini masing-masing skenario dipasangkan dengan kata isyarat yang tertulis dengan tinta merah atau hijau.
Bila kata isyarat muncul dengan warna hijau, maka peserta diminta untuk mengingat skenario terkait; tapi ketika kata isyarat muncul dengan warna merah, mereka diminta menghindari berpikir tentang skenario.
Para peneliti menggunakan standar berpikir ini untuk menguji apakah pengampunan dapat mempengaruhi proses melupakan.
Prosedur dasarnya ialah melatih orang untuk melupakan informasi tertentu, dan ini sering digunakan dalam penelitian memori.
Hasil penelitian menunjukkan, para partisipan yang mampu memaafkan kesalahan mereka di skenario pertama, dapat melupakan kesalahan itu bahkan pada skenario ke dua.
Hal ini memperlihatkan sekali kesalahan telah dimaafkan, maka secara psikologis lebih mudah untuk dilupakan.
Sementara berdasarkan perspektif ilmu kognitif, mengatasi emosi negatif yang kuat pada seseorang yang melakukan kesalahan pada kita dan menolak dorongan untuk membalas dendam adalah dua sifat yang dianggap sebagai fungsi kontrol eksekutif.
Studi terdahulu menunjukkan kontrol eksekutif juga terlibat dalam kemampuan untuk melupakan. Mungkin ini mekanisme kognitif yang menghubungkan antara memaafkan dan melupakan.
"Kemungkinan adanya hubungan antara memaafkan dan melupakan adalah terarah dan jauh lebih kompleks selama waktu yang cukup lama," ujar Saima Noreen, penulis utama studi.
Lebih lanjut ia mengatakan: "Kami berharap, bidang penyelidikan baru dapat menggabungkan melupakan dan memaafkan yang dapat memunculkan alat terapi kuat yang akan memungkinkan orang untuk" memaafkan dan melupakan "lebih efektif."
Berita Terkait
-
Minat Studi ke Inggris Meningkat, Study UK Kenalkan Peluang Pendidikan Global Lewat MRT Jakarta
-
Studi Global: Kedekatan dengan Hewan Bantu Anak Perempuan Lebih Kreatif dan Percaya Diri
-
Kuliah Perbankan Syariah, Ini Peluang Karier yang Dibutuhkan Industri Keuangan
-
Bukan Sekadar Prestise: Inilah Alasan Sesungguhnya Pelajar Indonesia Serbu Studi ke Luar Negeri
-
Hasil Studi: Reputasi Kelihatan Abstrak, Tapi Bisa Bikin Perusahaan Panen Untung
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026