Suara.com - Pada tahun 1976, Profesor Peter Piot, yang kini menjabat sebagai direktur London School of Hygiene & Tropical Medicine, menjadi salah satu anggota tim yang mengungkap betapa berbahayanya virus Ebola.
Ia juga berhasil menggambarkan bagaimana virus ini terlihat di bawah elektron miskropkop. Bagaimana ia melihat penanganan wabah mematikan ini, dan mengapa wabah kali ini begitu buruk. Ia melihat belum ada kemajuan berarti dalam mengatasi penyakit mematikan ini.
"Dan aku masih bisa melihat pasien Ebola di Yambuku meninggal di gubuk mereka dan kami tidak bisa melakukan apa-apa kecuali membiarkan mereka mati. Pada prinsipnya, itu masih sama. Itu sangat menyedihkan. Tapi itu juga memotivasi saya untuk melakukan sesuatu. Saya mencintai kehidupan. Itulah mengapa saya melakukan segala sesuatu yang bisa saya lakukan untuk akhirnya mengirimkan bantuan memadai untuk Afrika Barat. Sekarang!" ujarnya dalam wawancara dengan harian Der Spiegel. Berikut wawancara, selengkapnya:
Mengapa WHO begitu lambat bereaksi?
Di satu sisi, itu karena kantor regional WHO di Afrika tidak dikelola oleh orang yang kapable, tetapi lebih karena penunjukkan politik. Di sisi lain, kantor pusat di Jenewa harus menghadapi pemotongan anggaran yang disetujui negara-negara anggota. Divisi yang menangani demam berdarah yang bertanggung jawab atas penanganan epidemi ini sangat terpukul. Tapi sejak Agustus lalu, kondisi berubah.
Ada prosedur yang ditetapkan untuk membatasi wabah Ebola, mengisolasi mereka yang terinfeksi dan memantau mereka yang berhubungan dengan para pasien ini. Bagaimana kemudian bencana seperti ini terjadi?
Saya pikir ini adalah yang disebut orang sebagai badai yang sempurna, ketika keadaan individu sedikit buruk dan mereka bergabung untuk menciptakan bencana. Beberapa negara yang dilanda wabah ini baru saja beranjak dari perang saudara yang mengerikan. Banyak dokter mereka meninggalkan tanah airnya dan sistem kesehatan mereka sudah runtuh. Di Liberia, misalnya, hanya ada 51 dokter pada tahun 2010, dan banyak dari dokter ini meninggal karena Ebola.
Faktanya, wabah ini muncul di daerah padat penduduk di perbatasan Guinea, Sierra Leone dan Liberia?
Itu juga berkontribusi pada bencana ini. Karena orang di kawasan itu sangat mobile, sehingga lebih sulit mendeteksi mereka yang pernah berhubungan dengan penderita Ebola. lantas mereka yang meninggal dimakamkan di desa kelahiran mereka yang banyak terserang wabah ini. Hasilnya wabah ini terus menyebar.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, virus ini menyebar ke kota besar, seperti Monrovia dan Freetown. Apakah hal terburuk yang bisa terjadi?
Di kota besar yang kumuh dan padat, tidak mungkin tidak menemukan mereka yang pernah berhubungan dengan pasien, tidak peduli seberapa besar usaha. Itu sebabnya saya juga khawatir tentang Nigeria. Negara ini memiliki sejumlah kota seperti Lagos dan Port Harcourt, dan jika virus Ebola menyebar di sana, ini akan jadi tahun bencana yang tak terbayangkan.
Apakah kita benar-benar kehilangan kendali pada epidemi ini?
Saya selalu optimis dan saya pikir sekarang tak ada pilihan selain untuk mencoba yang kita bisa. Sungguh bagus, Amerika Serikat dan beberapa negara maju akhirnya mau membantu. Tetapi Jerman atau Belgia, harus melakukan lebih banyak. Dan harus ditegaskan, ini bukan hanya wabah tetapi bencana kemanusiaan. Kita tidak hanya butuh tenaga medis, tetapi juga ahli logistik, alat pengangkut dan bahan makanan. Ini bisa mengganggu kestabilan wilayah Seluruh. Kita hanya bisa berharap ini dapat kembali dikontrol. Saya tak pernah berpikir, akan seburuk ini.
Apa yang bisa dilakukan ketika orang dapat terinfeksi Ebola di jalanan. Seperti yang terjadi di Monrovia, bahkan taksipun sudah terkena virus Ebola?
Kita perlu strategi baru. Saat ini, perawat tak dapat diandalkan untuk terus merawat semua pasien di pusat-pusat pengobatan. Jadi perlu ada pengajaran kepada anggota keluarga pasien bagaimana melindungi diri dari infeksi ini. Jadi tenaga pendidik di lokasi adalah tantangan terbesar, saat ini. Sierra Leone mencoba menerapkan jam malam selama tiga hari untuk mencegah merebaknya wabah ini, pada awalnya saya pikir: "Itu benar-benar gila." Tapi mengapa tidak?" Setidaknya,ini tidak diterapkan dengan kekuatan militer.
Jam malam ini mengesankan keputus-asaan?
Ya, itu seperti pendekatan abad pertengahan. Tapi apa lagi yang bisa dilakukan? Kita hampir tak memiliki cara untuk melawan virus ini.
Apakah mungkin kita baru menghadapi awal dari pandemi ini?
Tentu akan ada pasien Ebola dari Afrika yang datang dengan harapan menerima kirim pengobatan. Mereka mungkin akan menularkan penyakitnya pada orang-orang di sini yang mungkin juga akan meninggal. Tetapi di Eropa atau Amerika Utara, penyakit ini bisa segera dikontrol. Saya lebih khawatir tentang orang-orang India yang bekerja di dunia perdagangan atau industri di Afrika barat.
Mereka bisa menyebarkan penyakit ini ketika kembali ke tanha airnya. Dokter dan perawat di India, juga sering tidak memakai sarung tangan pelindung. Segera mereka semua akan terinfeksi dan menyebarkan virus ini.
Virus ini terus berevolusi secara genetik. Semakin banyak orang terinfeksi, maka virus ini akan mengalami mutasi?
Ya, itu benar-benar skenario apokaliptik. Manusia kebetulan bukan tuan rumah untuk virus itu, dan tidak bagus.
Bisakah virus ini tiba-tiba bisa menyebar melalui udara?
Seperti campak, maksudmu? Untungnya itu sangat tidak mungkin. Tapi mutasi memungkinkan pasien bertahan hidup lebih lama, dan ini akan menguntungkan bagi virus Ebola. Tapi ini bisa menyebabkan pasien Ebola menularkan penyakitnya kepada lebih banyak orang.
Anda dan dua rekan Anda mendukung pengujian obat eksperimental. Apakah Anda pikir itu bisa jadi solusi?
Pasien bisa dirawat dengan serum darah dari pasien Ebola, bahkan jika itu sangat sulit mengingat kondisi lokal yang kacau. Kita perlu mencari tahu, apakah metode tesis, atau jika obat eksperimental seperti ZMapp, benar-benar membantu. Tapi kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada pengobatan baru. Bagi banyak orang, ini akan terlalu terlambat. Tapi jika ZMapp membantu, ini harus tersedia untuk wabah berikutnya.
Pengujian dua vaksin ini mungkin akan memakan waktu, tapi apakah hanya vaksin yang dapat menghentikan epidemi ini?
Saya berharap itu tidak terjadi. Tapi, siapa yang tahu? Mungkin.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan