Suara.com - Pakar Microbiologi Pangan IPB Prof Ratih Dewanti, MSc mengatakan pemerintah perlu mewaspadai perkembangan bakteri Listeria Monocytogenes pada apel lokal dengan memperbaiki sistem pengepakan pada buah dan sayur maupun produk pertanian lainnya.
"Karena bakteri ini ada di tanah, udara dan air, jadi kalau mengenai buah dan barang-barang pertanian lainnya lazim-lazim saja terjadi," katanya saat ditemui di kantornya di Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/1/2015).
Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB ini mengatakan, kasus bateri Listeria Monocytogenes pada apel Granny Smith dan Galal Royal asal Amerika bukan baru pertama kali terjadi.
Kasus terebut muncul pada pertengahan Oktober dan Desember 2014 lalu, berawal dari ditemukannya bateri Listeria pada tubuh pasien setelah mengkonsumsi karamel apel. Sebanyak 31 orang dikabarkan sakit karena mengandung bateri Listeria Monocytogenes di dalam tubuhnya.
Pemerintah setempat mengkonfirmasi terkait kasus tersebut pada bulan Desember dengan melakukan investigasi. Dan awal Januari diumumkan bahwa secara DNA sama persis dengan bateri yang ada pada pasien.
"Hasil investigasi bakteri ada di pabrik pengepakan apelnya Bidart Bros, jadi diduga apelnya yang membawa bakteri Listeria Monocytogenes ini," katanya.
Kasus serupa juga pernah pada tahun 2011 di Kanada, bateri Listeria Monocytogenes ditemukan pada buah melon, dimana 30 orang dikabarkan meninggal dunia dan sekitar 140 orang terserang bakteri yang sama.
"Kasus ini pertama kali dipublikasi muncul pada tahun 1981 terjadi pada coleslaw atau kubis salad. Lalu pada tahun 1985 bakteri mengontaminasi keju yang terbuat dari susu mentah," katanya.
Dikatakannya dampak dari bakteri Literia Monocytogenes jarang membikin sakit, tetapi bagi orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah seperti Lansia dan ibu hamil akan mengakibatkan sakit yang menyerupai flu.
Bagi lansia, serangan bakteri Literia Monocytogenes dapat menggaggu lebih jauh ke dalam tubuhnya, sedangkan yang lebih menjadi korban adalah ibu hamil. Bakteri menyerang janin yang berakhir dengan keguguran atau bayi yang dilahirkan meninggal (stillbirth).
Menurut Prof Ratif, kewaspadaan perlu dilakukan oleh pemerintah dengan menyetop impor apel dari Amerika terutama jika apel berasal dari pengepakan Bidart Bros. Namun, masyarakat tidak perlu terlalu ketahukan, karena Pemerintah Amerika sendiri sudah menyetop ekspor apel dari perusahaan pengepakan tersebut.
"Di Indonesia kita belum tahu ada impor apel dari Bidart Bros atau tidak, karena belum tentu apel yang ada di Indonesia berasal dari perusahaan pengepakan itu. Tetapi, apel lokal perlu diwaspadai juga, karena bakteri ini bisa berkembang dimanapun," katanya.
Uniknya, lanjut dia salah satu sifat bakteri Listeria Monocytogenes adalah dapat hidup disuhu 4 derjat celcius, artinya apel atau produk pertanian yang sudah terkontaminasi bakteri tersebut jika dibeli oleh masyarakat lalu menyimpannya di mesin pendingin maka bakteri dapat menulari makanan yang ada di dalam lemari tersebut.
Oleh karena itu masyarakat diminta untuk memperhatikan kebersihan lemari pendingin dan juga buah serta produk pertanian yang sudah dibeli dengan membesihkannya terlebih dahulu sebelum menyimpannya.
"Memang bakteri ini bisa mati terkena suhu panas, tetapi kan tidak semua masyarakat mengolah makanan dengan cara yang sama, kalau ada yang terbiasa memakam langsung makanan yang ada di dalam kulkas tanpa membersihkannya dahulu," katanya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien