- Badan Gizi Nasional (BGN) meluncurkan Call Center SAGI 127 sebagai kanal pengaduan tunggal bagi masyarakat terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Layanan telepon resmi 24 jam ini bertujuan mengatasi kebingungan pelaporan masalah kualitas makanan sekolah yang sebelumnya kurang terstruktur.
- Fungsi utama 127 adalah meningkatkan transparansi, memungkinkan pengawasan partisipatif, serta memperkuat pemenuhan hak gizi dasar anak Indonesia.
Suara.com - Di tengah upaya pemerintah meningkatkan mutu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), satu persoalan mendasar sering muncul di lapangan. Ketika orang tua atau sekolah menemukan makanan yang kurang layak, kebersihan yang diragukan, atau porsi yang tidak sesuai, mereka sering kali bingung harus melapor ke mana.
Selama ini keluhan lebih banyak berputar di grup WhatsApp, media sosial, atau disampaikan informal tanpa jalur resmi yang bisa ditindaklanjuti.
Kebutuhan akan kanal pengaduan yang jelas dan terstruktur semakin mendesak. Masalah gizi bukan hanya berhubungan dengan kualitas makanan, tetapi juga hak dasar anak untuk mendapatkan asupan yang aman dan bernutrisi.
Di sekolah, penyimpangan kecil seperti kemasan rusak, bahan kurang segar, atau menu yang tidak sesuai standar bisa berdampak pada kesehatan dan kepercayaan publik terhadap program gizi nasional.
Peluncuran Call Center SAGI 127 oleh Badan Gizi Nasional (BGN) hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Layanan baru ini diharapkan menjadi pintu masuk tunggal bagi masyarakat untuk melaporkan, mengklarifikasi, dan memantau penyediaan makanan bergizi di sekolah secara lebih transparan.
1. Layanan Pengaduan 24 Jam yang Bisa Diakses Semua Pihak
BGN menghadirkan call center 127 sebagai kanal pengawasan bersama, termasuk oleh siswa, orang tua, guru, penyedia katering, maupun masyarakat umum. Layanan ini menjadi tempat untuk melaporkan kendala, menanyakan informasi gizi, hingga meminta konsultasi terkait kualitas makanan yang disediakan dalam program MBG.
Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan bahwa layanan ini bukan sekadar fasilitas tambahan, tetapi simbol keseriusan negara dalam melindungi hak gizi anak.
“Makan bergizi bukan sekadar program, tetapi hak setiap anak Indonesia. Dan untuk memenuhi hak itu, kami membuka diri kepada masyarakat melalui Call Center 127 agar semua pihak dapat terlibat, mengawasi, dan memastikan kualitas Program Makan Bergizi Gratis berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Dadan dalam keterangannya, ditulis Rabu (19/11/2025).
Baca Juga: Stafsus BGN Tak Khawatir Anaknya Keracunan karena Ikut Dapat MBG: Alhamdulillah Aman
2. Meningkatkan Transparansi dan Kepercayaan Publik
Salah satu persoalan terbesar dalam program makanan sekolah adalah lemahnya alur pengaduan. Tanpa kanal resmi, laporan sering tidak tercatat dan tidak dapat dirunut penyelesaiannya. Kehadiran 127 memberi mekanisme respons yang lebih jelas dan akuntabel.
“Call Center 127 bukan hanya penambahan kanal layanan, tetapi manifestasi komitmen kami untuk memberi pelayanan yang prima dan transparan. Melalui 127, kami memastikan kualitas MBG tetap terjaga dan setiap anak Indonesia mendapatkan asupan terbaik,” tambah Dadan.
Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai bagian aktif dari pengawasan gizi nasional. Masyarakat yang sebelumnya bingung atau enggan melapor kini memiliki jalur yang pasti.
3. Diperkuat dengan Identitas SAGI untuk Edukasi Publik
BGN memperkenalkan maskot SAGI, figur berkepala tomat dan berbadan ayam yang melambangkan prinsip gizi seimbang. Kehadiran SAGI membantu memperkuat fungsi edukasi tentang konsumsi bergizi bagi anak dan orang tua, terutama di lingkungan sekolah.
Logo 127 juga dirancang untuk mencerminkan nilai pelayanan publik yang empatik, terbuka, dan berkomitmen memberi solusi.
4. Bagian dari Gerakan Nasional Pemenuhan Hak Gizi Anak
Peluncuran tema payung Program Makan Bergizi Gratis bertajuk Makan Bergizi, Hak Anak Indonesia menjadi pengingat bahwa gizi adalah bagian dari hak dasar. Call Center 127 memperjelas bahwa pengawasan terhadap hak ini dilakukan secara partisipatif, melibatkan masyarakat luas.
BGN mengajak sekolah, orang tua, pemerintah daerah, dan komunitas untuk bergotong royong menjaga kualitas MBG.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Pemenuhan hak gizi anak adalah tanggung jawab bersama. Melalui Call Center 127, kami membuka pintu selebar mungkin agar masyarakat dapat berperan aktif mengawasi, melaporkan, dan memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan makanan bergizi yang layak. Ini adalah gerakan nasional, dan kami mengajak semua pihak untuk turut serta,” tutup Dadan.
Peluncuran SAGI dan Call Center 127 menjadi momentum penting modernisasi layanan publik di bidang gizi. Dengan jalur pengaduan yang lebih jelas, diharapkan setiap masalah yang ditemukan di lapangan dapat ditangani lebih cepat, tepat, dan transparan demi memastikan hak gizi anak Indonesia benar-benar terpenuhi.
Berita Terkait
-
Kisruh Pendanaan Gaji Karyawan SPPG yang Belum Cair, Polemik MBG Jilid II?
-
Arogansi Politik vs Sains: Ahli Gizi Dibungkam di Forum MBG
-
Klarifikasi: DPR dan Persagi Sepakat Soal Tenaga Ahli Gizi di Program MBG Pasca 'Salah Ucap'
-
Stafsus BGN Tak Khawatir Anaknya Keracunan karena Ikut Dapat MBG: Alhamdulillah Aman
-
Kepala BGN Soal Pernyataan Waka DPR: Program MBG Haram Tanpa Tenaga Paham Gizi
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi
-
Bukan Cuma Blokir, Ini Kunci Orang Tua Lindungi Anak di Ruang Digital
-
Sedih! Indonesia Krisis Perawat Onkologi, Cuma Ada Sekitar 60 Orang dari Ribuan Pasien Kanker