Suara.com - Pakar Kesehatan dari Medical Specialist Centre Gleneagles Ho Siew Hong menilai pembedahan kanker prostat dengan menggunakan robot dapat mengurangi nyeri pascaoperasi.
"Operasi dengan robot yang dikontrol dokter bedah melalui layar tiga dimensi cenderung menghasilkan sayatan kecil dengan ukuran lebih tepat dibandingkan jika dilakukan dengan konvensional, ini akan mengurangi rasa nyeri," ujar Ho Siew Hong di Jakarta, Senin (9/2/2015).
Hong yang juga berprofesi sebagai konsultan bagian Urologi dan Laparascopic ini mengatakan operasi dengan cara konvensional berpotensi menghasilkan sayatan yang lebih panjang karena terdapat getaran dari tangan pembedah.
Getaran tangan tersebut menyebabkan luka pada pasien menjadi lebih panjang dan dapat menimbulkan pendarahan yang lebih banyak, sehingga nyeri pascaoperasi akan bertahan lebih lama.
"Getaran yang menghasilkan sayatan yang tidak tepat itu biasanya dikarenakan dokter merasa letih, karena operasi kanker prostat memakan tiga hingga empat jam," ungkap dokter yang kerap melatih sejumlah tenaga kesehatan Urologi dari Indonesia, Myanmar, Filipina, dan India ini.
Selain itu, keuntungan pembedahan yang dibantu robot ini membuat pasien hanya perlu tinggal di rumah sakit selama dua hingga tiga hari dan bisa kembali bekerja dalam dua minggu.
Hal ini berbeda dibandingkan dengan operasi konvensional yang mengharuskan pasien tinggal selama empat hingga lima hari dan baru bisa kembali bekerja setelah satu bulan kemudian.
Oleh karena itu, operasi dengan robot ini kemudian diminati banyak penderita kanker prostat di Singapur.
"Kebanyakan pasien memang meminta `robotic surgery, peminatnya mencapai hingga 80 persen di sana," katanya.
Namun, jenis pembedahan ini hanya dapat dilakukan bagi penderita kanker prostat stadium satu dan dua, sedangkan bagi penderita kanker dengan stadium lanjut akan diobati dengan radiasi dan pengawalan hormon agar kelenjar prostat tidak menyebar. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia