Suara.com - Penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi sebaiknya tidak mengonsumsi minyak ikan. Pasalnya, sebuah studi terkini mengungkapkan bahwa suplemen minyak ikan mampu menghentikan kerja obat kemoterapi.
Meskipun minyak ikan terbukti ampuh menangkal serangkaian penyakit, namun pasien kanker harus menghindari ikan atau suplemen minyak ikan sehari sebelum melakukan pengobatan kemoterapi.
Kesimpulan ini didapat setelah para peneliti Cancer Institute di Belanda melakukan penelitian terhadap omega-3 asam lemak yang banyak terkandung dalam ikan dengan kandungan minyak yang tinggi seperti makarel dan herring.
Dalam studi tersebut, para peneliti memeriksa tingkat konsumsi minyak ikan pada 118 pasien yang menjalani pengobatan kanker dan para sukarelawan sehat untuk memeriksa kadar asam lemak setelah konsumsi minyak ikan dan ikan.
Hasil studi menunjukkan, peserta sehat yang mengonsumsi suplemen minyak ikan atau 100 gram ikan makarel mengalami peningkatan kadar asam lemak dalam darahnya.
Selain itu, para peneliti juga melakukan penelitian terpisah pada tikus yang menemukan bahwa peningkatan asam lemak mampu mencegah obat kemoterapi bekerja dengan baik.
"Secara keseluruhan, temuan kami sejalan dengan meningkatnya kesadaran aktivitas biologis berbagai asam lemak dan reseptor, serta meningkatkan kekhawatiran tentang penggunaan simultan dari kemoterapi dan minyak ikan," jelas Dr. Emile Voest.
Beranjak dari temuan itulah peneliti menyarankan pasien kanker untuk sementara menghindari konsumsi minyak ikan dan ikan sehari sebelum kemoterapi hingga satu hari setelahnya, sampai data-data lain tersedia.
Meski begitu, para ahli di Inggris mengatakan terlalu cepat mengambil kesimpulan akan studi yang telah dilakukan itu. Mereka berpendapat dibutuhkan berbagai studi lain untuk benar-benar meyakinkan apakah konsumsi minyak ikan benar-benar memengaruhi kerja obat kemoterapi pada pasien kanker.
"Penelitian lebih lanjut diperlukan, sebelum memberikan saran kepada pasien," kata Keith Jones, profesor kimia sintetik di Institute of Cancer Research. (Telegraph)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien