Suara.com - Sarah Cornes (55) adalah seorang perempuan karir yang bekerja di sebuah firma hukum. Ia memiliki suami dengan satu orang anak perempuan di pernikahan sebelumnya.
Sama seperti perempuan kebanyakan, Sarah memiliki hidup yang bahagia. Namun, September lalu ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya harus berbaring di rumah sakit karena benjolan pada payudaranya.
Setelah melalui tahapan USG dan biopsi di sebuah klinik payudara pribadi, Sarah didiagnosis mengidap kanker payudara yang ganas. Oleh dokter, ia disarankan untuk segera mengambil tindakan seperti operasi, kemoterapi, atau radioterapi.
Sayangnya, kebanyakan masyarakat belum tahu bahwa radioterapi atau cara penyembuhan kanker sejenis memiliki efek samping yang cukup meresahkan, yaitu meningkatkan risiko serangan jantung.
Radiasi yang diberikan saat terapi dapat menyebabkan jaringan dan arteri menjadi menebal dan meradang, yang lama kelamaan bisa menghalangi aliran darah ke jantung.
Salah satu studi yang dilakukan kepada lebih dari 2.000 perempuan, pada Maret 2013, menemukan adanya peningkatan penyakit jantung koroner pada perempuan yang telah melakukan pengobatan terapi radiasi. Ini membuktikan efek samping pengobatan kanker payudara yang ternyata cukup berbahaya.
Bila dideskripsikan secara singkat, paparan radiasi itu menggunakan satuan yang disebut 'Grays'. Para peneliti menemukan tingkat serangan jantung koroner meningkat sebesar 7,4 persen, untuk setiap Gray radiasi yang diberikan. Perlu diketahui juga, dosis rata-rata tiap sekali terapi kanker adalah 4,9 Grays.
Terbayang 'kan bagaimana risiko yang harus diterima oleh pasien kanker yang menjalani radioterapi? Belum lagi jika perempuan tersebut mengalami kanker pada payudara kirinya (dekat jantung) dan perokok aktif.
Fakta tersebut membuat perempuan khawatir, setelah merasakan penderitaan akibat kanker yang bersarang pada payudaranya, selanjutnya harus menderita penyakit jantung yang juga berbahaya.
Oleh karena itu, Sarah ditawari oleh dokternya untuk menggunakan teknik pengobatan yang sama, namun dengan sedikit metode yang dikembangkan. Cara ini telah di uji dan hasilnya benar-benar menjanjikan untuk menurunkan risiko penyakit jantung koroner.
Anda akan heran jika mengetahui teknik yang ditawarkan dokter. Cukup menahan napas ketika terapi dilakukan! Sederhana bukan?
"Ketika kita menghirup napas, jantung bergerak mundur dan ke bawah, jauh dari daerah payudara," papar Dr Kirby, pemimpin penelitian.
Selain itu Dr Kirby menyarankan agar mengurangi dosis radiasi tiap terapi dari 3 ke 1 Grays sehingga dapat mengurangi risiko serangan jantung setelah kanker sembuh.
Cancer Centre London tempat Sarah dirawat, adalah satu dari segelintir rumah sakit yang telah menggunakan mesin radioterapi terbaru (Elekta Versa HD), yang memungkinkan memberikan dosis radiasi yang tinggi, tapi juga dapat menurunkan efek radiasi yang mempengaruhi jantung.
"Ini adalah alat yang bekerja seperti perangkat snorkeling, membantu pasien menahan nafas sementara radiasi diberikan," papar Dr Kirby.
Dengan alat itu, pasien dapat menahan napas selama 20 detik yang dibarengi pemberian radiasi, dan dapat bernafas normal kembali saat dosis selesai diberikan. Seluruh prosesnya pun hanya memakan waktu dua menit.
Sarah Cornes pun sebenarnya tidak mengetahui bahwa pengobatan dengan radioterapi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung sampai ia memulai perawatan pertamanya.
Peran pengaturan napas pada proses pengobatan kanker payudara memang tidak bisa diremehkan. Selain untuk penderita kanker payudara, hal ini juga berguna pada penderita kanker paru-paru atau limfoma, karena keduanya memiliki persamaan yang sangat mungkin menerima radiasi ke daerah dada (jantung).
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi