Suara.com - Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Konsultan dari RSUD dr Soetomo menjelaskan bahwa merokok bisa menyebabkan kanker nasofaring (KNF) karena adanya virus Epstein-barr.
"Kanker Nasofaring (KNF) adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Menurut data keseluruhan di Poli Paliatif RSUD Dr. Soetomo pada tahun 2013 terdapat 397 pasien baru, sedangkan KNF menempati urutan ke empat dari urutan yang pertama kanker payudara, ke dua kanker serviks, ke tiga kanker paru dan ke empat kanker nasofaring," kata Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Konsultan RSUD Dr. Soetomo, Prof. DR. dr. R. Sunaryadi Tejawinata, Sp. THT (K) di Surabaya, Selasa.
Ia mengatakan, faktor risiko KNF yaitu sering menghirup asap rokok, asap minyak tanah, asap kayu bakar, asap obat nyamuk, asap bahan bakar BBM atau asap candu juga mengaktifkan virus Epstein-barr. Selain itu, juga disebabkan oleh faktor genetik, yakni seseorang yang mewarisi keturunan KNF dari orang tuanya.
"Selain menghirup asap-asap tersebut, juga disebabkan sering mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet, termasuk makanan yang diawetkan dengan cara diasinkan atau diasap, seperti ikan asin, karena pada pembuatan ikan asin terjadi proses mikrosamin yang mengaktifkan virus Epstein-barr serta sering mengonsumsi makanan dan minuman yang panas atau bersifat panas dan merangsang selaput lendir, seperti yang mengandung alkohol," paparnya.
Sampai saat ini, ia menambahkan belum jelas bagaimana mulai tumbuhnya KNF, namun penyebaran kanker ini dapat berkembang ke bagian mata, telinga, kelenjar leher, dan otak, sehingga disarankan kepada masyarakat jika ada gen yang terkena KNF, diharapkan untuk rajin memeriksakan diri ke dokter, terutama dokter THT.
"Risiko tinggi ini biasanya dimiliki oleh laki-laki atau adanya keluarga yang menderita kanker ini atau ada garis keturunan penderita KNF dengan gejala pertama di dalam telinga timbul suara berdengung dan terasa penuh tanpa disertai rasa sakit sampai pendengaran berkurang, kemudian hidung sedikit mimisan, tetapi berulang serta hidung tersumbat terus-menerus, kemudian pilek," paparnya.
Menurut dia, letak nasofaring yang tersembunyi di belakang hidung atau belakang langit-langit rongga mulut menyebabkan serangan kanker ini sering kali terlambat diketahui, namun biasanya pada stadium dini menunjukkan gejala-gejala seperti pada kondisi akut menunjukkan kelenjar getah bening pada leher membesar, mata menjadi juling, penglihatan ganda, dan mata bisa menonjol ke luar dan sering timbul nyeri dan sakit kepala.
"Pada tahap awal gejala pada sel-sel kanker masih berada dalam batas nasofaring, biasa disebut dengan naso-pharynx in situ. Pada stadium pertama sel kanker menyebar di bagian nasofaring. Kemudia pada stadium ke dua sel kanker sudah menyebar pada lebih dari nasofaring ke rongga hidung. Atau dapat pula sudah menyebar di kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher," terangnya.
Ia menambahkan, pada stadium lanjut yaitu stadium ke tiga yakni sel kanker sudah menyerang pada kelenjar getah bening di semua sisi leher. Serta pada stadium ke empat, kanker sudah menyebar di syaraf dan tulang sekitar wajah.
"Pengobatan kanker nasofaring bisa dilakukan dengan radioterapi, kemoterapi, serta paliatif. Selain itu juga ada kombinasi tambahan lainnya untuk pengobatan kanker ini, sedangkan tindakan operasi tidak dilakukan untuk jenis kanker ini karena posisinya yang sulit dan dekat metastase kelenjar getah bening. Tindakan operasi (bedah) yang umum hanyalah biopsi, untuk stadium awal kanker ini jarang dilakukan biopsi," katanya. (Antara)
Berita Terkait
-
Kemenkes Akan Loloskan Aturan Standardisasi Kemasan, Pedagang Kaki Lima Terbebani dan Tegas Menolak
-
Saat 'Diterima Teman' Lebih Penting dari Kesehatan: Membedah Psikologi Remaja Pengguna Vape
-
Standardisasi Kemasan Rokok, Kebijakan Kesehatan atau Ancaman Ekonomi Rakyat?
-
Putih Lawan Hitam
-
ICW Pertanyakan Komitmen Pemerintah Usai Purbaya Wacanakan Pemutihan Rokok Ilegal
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI